BI Soroti Lambatnya Bank Turunkan Bunga Kredit Meski BI Rate Sudah Dipangkas

Katadata/Fauza Syahputra
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo bersiap mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (7/7/2025). Rapat tersebut membahas pengambilan keputusan atas asumsi dasar ekonomi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2026.
22/10/2025, 18.13 WIB

Bank Indonesia (BI) mengungkapkan perbankan hingga saat ini masih lambat menurunkan suku bunga kredit. Padahal sejak September 2024 hingga saat ini, BI telah memangkas suku bunga acuan sebanyak enam kali.

“Masalahnya adalah suku bunga kredit yang turunnya masih berjalan lambat. Itu yang kami terus dorong agar suku bunga kredit bisa turun dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan BI Oktober 2025, Rabu (22/10).

Deputi Gubernur BI Juda Agung menjelaskan, sejak September 2024 BI-Rate sudah turun sebesar 150 basis poin (bps). Namun, penurunan suku bunga kredit perbankan masih sangat terbatas.

“Suku bunga kredit penurunannya hanya 15 bps, jadi baru sekitar 10% dari total penurunan suku bunga BI-Rate,” ujar Juda.

Sindiran BI untuk Perbankan

BI pun menyindir perbankan yang dinilai terlalu lambat menurunkan bunga kredit. Deputi Gubernur BI Aida S. Budiman menegaskan, percepatan penurunan bunga kredit sangat penting untuk memperkuat transmisi kebijakan moneter dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Kenapa ikan sepat ikan gabus, lebih cepat lebih bagus? Karena kita sudah menurunkan BI-Rate 150 bps, tapi apa yang terjadi? Kalau kita lihat di pasar uang, transmisinya berjalan,” ujar Aida.

Aida memaparkan bahwa Indonesia Overnight Index Average (IndONIA) sudah turun 204 bps, Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) tenor 12 bulan turun 257 bps menjadi 4,7%.

Sementara yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor dua tahun turun 218 bps, dan tenor 10 tahun berada di level terendah dengan penurunan 132 bps. Dia menegaskan bahwa yang perlu diperkuat transmisinya yaitu suku bunga kredit perbankan.

“Bayangkan, 150 bps penurunan BI-Rate baru diikuti penurunan 29 bps di DPK, dan di kredit malah baru 15 bps,” kata Aida menegaskan.

Kredit Belum Tumbuh Kuat

BI juga mencatat pertumbuhan kredit perbankan pada September 2025 sebesar 7,70% (yoy), sedikit meningkat dari 7,56% pada Agustus 2025. Namun, kenaikan tersebut dinilai belum cukup kuat.

Menurut BI, lemahnya permintaan kredit dipengaruhi oleh sikap pelaku usaha yang masih wait and see, serta masih tingginya suku bunga kredit. Selain itu, banyak korporasi yang masih mengandalkan pembiayaan internal.

Kondisi ini tercermin dari besarnya fasilitas pinjaman yang belum dicairkan (undisbursed loan), yang mencapai Rp2.374,8 triliun atau 22,54% dari plafon kredit yang tersedia per September 2025.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Rahayu Subekti