Analis soal BI Tahan Suku Bunga Acuan: untuk Jaga Rupiah
Analis sepakat dengan langkah Bank Indonesia atau BI menahan suku bunga acuan di posisi 4,75%. Keputusan ini dinilai untuk mendorong stabilitas rupiah.
Nilai tukar rupiah ditutup menguat 21 poin menjadi Rp 16.935 per dolar Amerika Serikat pada Rabu (21/1). Rupiah melemah 1,44% sejak awal tahun dan 4,22% selama 12 bulan terakhir.
Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian memperkirakan, nilai tukar rupiah yang mendekati Rp 17.000 per dolar AS, hanya berlangsung dalam jangka pendek.
“Sebab, saya melihat posisi rupiah overshoot saat di atas Rp 17.000 dan menjadi indikator untuk menjual dolar AS," kata Fakhrul di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah, Rabu (21/1).
Ia memprediksi rata-rata nilai tukar rupiah sepanjang tahun ini menguat ke kisaran Rp 16.500 per dolar AS. Penguatan akan didorong oleh tren kenaikan harga komoditas metal, khususnya timah dan nikel, yang berdampak pada surplus neraca perdagangan.
Fakhrul juga menyoroti perlunya pemerintah meningkatkan penerbitan obligasi mata uang asing, agar valuta asing hasil ekspor tidak lari ke luar negeri. Ia mencatat kontribusi penerbitan obligasi valas selama setahun terakhir cukup rendah atau sekitar 12% dari total pendanaan pemerintah.
"Saya sarankan Kementerian Keuangan atau Kemenkeu mengeluarkan global bond lebih banyak lagi, baik dalam dolar AS maupun renminbi Cina. Saya harap kontribusi global bond dapat mencapai 20% pada tahun ini," katanya.
Chief Economist Mandiri Sekuritas Rangga Cipta menilai penahanan suku bunga acuan merupakan sinyal pelonggaran kebijakan moneter. Sebab, langkah ini mengisyaratkan langkah bank sentral selanjutnya yakni mempercepat pengukuran insentif likuiditas untuk menekan suku bunga simpanan dan suku bunga kredit di sektor riil.
Menurut dia, penahanan suku bunga acuan merupakan upaya bank sentral untuk memikat investasi asing masuk ke dalam negeri. "BI menjaga imbal hasil domestik tetap menarik sebagai bagian dari strategi menyeluruh untuk menjaga stabilitas rupiah," kata Rangga.
Upaya menjaga keseimbangan nilai tukar juga ditunjukkan dengan penambahan fasilitas transaksi spot dan swap dalam valuta asing lain, seperti yuan Cina dan yen Jepang. Rangga menilai langkah ini akan memperkuat transaksi mata uang lokal dan memperdalam pasar valuta asing dan pasar uang domestik.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan keputusan penahanan suku bunga acuan diambil setelah melihat nilai tukar rupiah mendekati Rp 17.000 per dolar AS. Suku bunga deposit facility diputuskan tetap 3,75% dan lending facility 5,5%.
Perry mencatat, nilai tukar rupiah pada Selasa (20/1) bertengger di level 16.945 per dolar AS, melemah 1,53% sepanjang tahun ini. Ia menjelaskan, pelemahan rupiah dipengaruhi oleh aliran keluar modal asing akibat meningkat ketidakpastian di pasar keuangan global dan kenaikan permintaan valas sejalan dengan kegiatan ekonomi.
"Guna menjaga stabilitas ini, BI akan meningkat intensitas langkah-langkah stabilitas rupiah melalui intervensi di pasar offshore maupun onshore," kata dia.