Rupiah Melemah Imbas Pernyataan Hawkish The Fed
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Selasa (24/2) diproyeksikan melemah berkisar Rp 16.750-16.900 setelah beberapa pernyataan hawkish dari pejabat The Fed.
“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS setelah beberapa pernyataan hawkish dari pejabat the Fed,” kata Analis Doo Financial Lukman Leong kepada Katadata, Selasa (24/2).
Berdasarkan Bloomberg, kurs rupiah dibuka melemah 13 poin ke level 16.848 per dolar AS. Rupiah pun bergerak kian melemah ke level 16.84 per dolar AS hingga pukul 09.10 WIB.
Pada penutupan perdagangan hari sebelumnya, dolar ditutup melemah ke Rp 16.829 per dolar AS pada Selasa (24/2/2026). Adapun, indeks dolar AS melemah 0,21% ke 97,91. Kemudian langsung dibuka menguat pada perdagangan pagi ini.
Dilansir dari Reuters, dua pejabat bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve System (The Fed), pada Selasa menyatakan belum ada dorongan dalam waktu dekat untuk mengubah kebijakan suku bunga acuan.
Pasar sebelumnya memperkirakan The Fed masih akan memangkas suku bunga tahun ini. Namun para pejabat menilai kondisi pasar tenaga kerja yang mulai stabil serta ketidakpastian arah inflasi membuat bank sentral belum memberikan sinyal kuat mengenai penurunan lanjutan biaya pinjaman jangka pendek.
Presiden Federal Reserve Bank of Boston, Susan Collins, mengatakan kemungkinan besar suku bunga akan dipertahankan di kisaran saat ini untuk beberapa waktu ke depan.
“Saya pikir sangat mungkin akan tepat untuk menahan suku bunga di kisaran saat ini untuk beberapa waktu,” ujar Collins.
Meski demikian, ia menegaskan tetap ada berbagai skenario yang mungkin terjadi sehingga pendekatan yang sabar dan hati-hati tetap diperlukan dalam pengambilan keputusan kebijakan.
Senada dengan itu, Presiden Federal Reserve Bank of Richmond, Thomas Barkin, menyatakan kebijakan moneter saat ini sudah berada pada posisi yang tepat untuk menghadapi berbagai risiko terhadap prospek ekonomi.
Keduanya mengakui pasar tenaga kerja menunjukkan stabilitas dalam lingkungan perekrutan dan pemutusan kerja yang sama-sama rendah. Namun, mereka masih menunggu bukti lebih lanjut bahwa inflasi benar-benar akan terus menurun menuju target 2%. Selama ini, inflasi tercatat konsisten berada di atas target bank sentral tersebut.
Mereka juga menyinggung putusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan sebagian besar tarif perdagangan yang diberlakukan Presiden Donald Trump. Meski Trump merespons dengan kembali menaikkan tarif, kedua pejabat menilai dampaknya terhadap perekonomian tidak akan terlalu besar.
Collins menambahkan, posisi kebijakan moneter saat ini tergolong sedikit ketat atau mendekati netral. Tahun lalu, The Fed memangkas target suku bunga sebesar 0,75 poin persentase menjadi kisaran 3,5% hingga 3,75%, dan mempertahankannya pada pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) akhir Januari lalu.