BI Monitor Dampak Perang Israel-Iran, Pastikan Stabilitas Harga Jelang Lebaran

ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/tom.
Warga melihat beras dan minyak goreng yang dijual saat Gerakan Pangan Murah (GPM) di Masjid Jami Al-Ikhlas, Kota Tangerang, Banten, Rabu (25/2/2026). Pemkot Tangerang menggelar GPM dengan menyediakan berbagai kebutuhan pokok seperti beras SPHP, beras premium, minyak goreng, telur ayam, gula, dan cabai yang dijual dibawah harga pasar guna menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan selama bulan Ramadhan.
3/3/2026, 10.58 WIB

Bank Indonesia (BI) terus mencermati dampak konflik geopolitik di Timur Tengah terhadap perekonomian domestik, terutama menjelang momentum Lebaran. Stabilitas harga menjadi perhatian utama di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Deputi Gubernur BI, Aida S. Budiman, menegaskan pihaknya secara aktif memonitor berbagai indikator ekonomi terkini. “Tentunya Bank Indonesia akan terus melakukan monitoring tentang indikator-indikator terkini,” ujarnya dalam talkshow Ramadan Tenang Harga Terkendali, Senin (2/3).

Menurut Aida, perekonomian global masih berada dalam tren perlambatan dan dibayangi volatilitas pasar keuangan, termasuk ketidakjelasan arah suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat. Kondisi tersebut semakin diperberat oleh eskalasi tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.

BI mengidentifikasi setidaknya tiga jalur utama transmisi dampak konflik terhadap Indonesia. Pertama, jalur harga komoditas seperti minyak, emas, dan pangan. “Kalau harga minyak meningkat, tentu akan berdampak pada biaya transportasi dan harga lainnya,” jelasnya.

Kedua, jalur pasar keuangan, khususnya pergerakan nilai tukar rupiah. Aida memastikan BI tetap hadir di pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar. Ketiga, jalur perdagangan melalui potensi gangguan terhadap volume ekspor dan impor yang pada akhirnya dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi serta inflasi.

“Komitmen Bank Indonesia tetap menjaga stabilitas. Itu saya garis bawahi dan kami terus berada di pasar untuk memastikan stabilitas nilai tukar terjaga, termasuk juga yang kita diskusikan pada hari ini tentang inflasi,” katanya.

Di tengah tantangan global tersebut, prospek ekonomi domestik 2026 dinilai tetap solid. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada di kisaran 4,9–5,7%, setelah pada 2025 tercatat 5,11%. Inflasi juga diproyeksikan tetap berada dalam target 2,5% ±1%.

Aida menekankan pentingnya menjaga permintaan domestik sebagai penopang utama pertumbuhan. Kuartal I 2026 dinilai strategis karena bertepatan dengan periode Hari Besar Keagamaan Nasional yang biasanya mendorong konsumsi masyarakat. Selain itu, pemerintah berencana meningkatkan belanja pada awal tahun guna memastikan program berjalan optimal.

“Kalau konsumsi pemerintah meningkat, maka konsumsi swasta juga terdorong. Permintaan domestik harus kita jaga di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian,” ujarnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah