Airlangga Pastikan Anggaran MBG dan Kopdes Merah Putih Tak Akan Dipangkas 

ANTARA FOTO/Fauzan/hma/tom.
Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (kiri).
Penulis: Ade Rosman
Editor: Agustiyanti
17/3/2026, 06.30 WIB

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga Koperasi Desa Merah Putih tak akan dipangkas meski ada risiko pembengkakan defisit APBN 2026 di tengah lonjakan harga minyak dunia.

“Program unggulan tidak ada yang diubah. Semua berjalan karena itu investasi jangka panjang,” kata Airlangga di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (17/3).

Airlangga menjelaskan bahwa pemerintah tengah menyiapkan strategi untuk menghadapi kenaikan harga minyak yang diakibatkan karena perang Israel-Amerika Serikat (AS) dengan Iran. Harga minyak dunia saat ini berada di level US$ 100 per barel dan bahkan sempat melonjak hingga mendekati level US$ 120 per barel, jauh dari asumsi dalam APBN 2026 sebesar US$ 70 per barel. 

Airlangga menjelaskan,, salah satu langkah yang dilakukan pemerintah adalah dengan melakukan efisiensi anggaran Kementerian/Lembaga. 

“Langkah yang diambil per hari ini adalah pemotongan anggaran supaya kita tidak lewat daripada 3% PDB,” kata dia. 

Airlangga mengatakan, pemerintah menyiapkan risiko juga menghadapi polemik itu. Ia menyebut, dikarenakan kondisi perang tak dapat diprediksi bertahan lebih lama. . 

Pemerintah, menurut dia, telah membuat skenario yang panjang untuk menghadapi krisis pasca perang. 

“Skenario perang yang relatif panjang. Lima bulan, enam bulan, sepuluh bulan, itu masih di tahun yang sama. Worst case scenario adalah kalau perang berjalan hingga akhir tahun” kata Airlangga. 

Namun, ia menyebut durasi perang tak dapat diprediksi, sehingga pemerintah akan mengamati kondisi perang tersebut. 

“Tetapi karena ini masih di bulan-bulan awal, perang baru dua minggu, kami belum tahu apakah empat minggu apakah lima minggu, itu menggunakan skenario pemotongan anggaran,” kata dia. 

Jika perang belum berakhir minimal lima bulan, menurut Airlangga, pemerintah tengah mempersiapkan pemotongan anggaran Kementerian/Lembaga. Namun, pemerintah belum akan menaikkan defisit APBN menjadi di atas 3% terhadap PDB.

“Jadi selama perangnya masih belum mencapai dalam tanda petik lima bulan, skenario kami masih terbatas pemotongan anggaran dan menggunakan maksimum defisit itu 3%,” katanya.

Kendati demikian, Airlangga berulang kali menjelaskan bahwa keputusan efisiensi ini bergantung pada harga minyak dunia. 

“Nah, jadi berapa yang harus kita potong? Balik lagi tergantung harga minyak. Tetapi harga minyak itu ada juga pendapatan yang meningkat dari komoditas. Baik itu dari minyak sendiri, batu bara, nikel, dan yang lain, bahkan ke kelapa sawit,” katanya. 

Strategi ini, menurut Airlangga, sama seperti ketika menghadapi pandemi Covid-19, yang mana pemerintah menghadapinya dengan dinamis. 

“Kita kan belajar bahwa dalam sesuatu dinamis kita tidak bisa membuat sesuatu menjadi statis. Karena itu pada saat kita mengambil sesuatu menjadi statis, kita menjadi salah,” kata Airlangga. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ade Rosman