Impor Melesat, Surplus Neraca Perdagangan RI Anjlok Jadi US$1,27 M pada Februari

ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/Spt.
Seorang pekerja melintas di dekat peti kemas di kawasan bongkar muat ekspor impor Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (16/11/2023). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor Indonesia pada Oktober 2023 mencapai 22,15 miliar dolar AS atau naik 6,67 persen dari bulan sebelumnya sebesar 20,76 miliar dolar AS kenaikan tersebut didorong oleh ekspor nonmigas.
Editor: Agustiyanti
1/4/2026, 13.11 WIB

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan surplus neraca perdagangan secara kumulatif periode Januari hingga Februari 2026 mencapai US$1,27 miliar. Realisasi ini naik dibandingkan Januari 2026 yang hanya sebesar US$ 960 juta, tetapi anjlok dibandingkan periode yang sama tahun lalu US$ 3,12 miliar. 

Berdasarkan data BPS, anjloknya surplus perdagangan secara tahunan terjadi seiring kinerja impor yang melesat 10,85% secara tahunan saat ekspor hanya naik 1,01%. Impor pada Februari 2026 mencapai US$ 20,89 miliar, sedanhkan ekspor tercatat sebesar US$ 22,17 miliar.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan, neraca perdagangan telah mengalami surplus selama 70 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Surplus tersebut ditopang oleh kinerja positif perdagangan komoditas nonmigas, sementara perdagangan migas masih mengalami defisit. 

“Surplus sepanjang periode Januari-Februari 2026 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas US$ 2,19 miliar, dengan komoditas penyumbang surplus untuk nonmigas lemak dan minyak hewan nabati. Penyumbang berikutnya adalah bahan bakar mineral serta besi dan baja,” ujar Ateng dalam konferensi pers, Kamis (1/4).

Di sisi lain, ia mencatat perdagangan migas tercatat defisit sebesar US$0,92 miliar dengan komoditas penyumbang adalah minyak mentah dari hasil minyak dan juga gas.

Adapun secara kumulatif, neraca perdagangan hingga Februari mencapai US$ 2,23 miliar, anjlok dibanding tahun sebelumnya di periode sama sebesar US$6,59 miliar. 

Ateng menjelaskan surplus sepanjang Januari hingga Februari tahun 2026 terutama ditopang oleh surplus komoditi nonmigas yaitu US$ 5,42 miliar. Sedangkan komoditi migas mengalami defisit sebesar US$ 3,19 miliar.

Tiga negara penyumbang surplus terbesar migas dan nonmigas yang pertama adalah Amerika Serikat sebesar US$ 3,11 miliar, penyumbang surplus yang kedua yaitu India US$ 2,29 miliar, serta ketiga Filipina sebesar US$ 1,54 miliar. 

Sedangkan tiga negara dengan penyumbang defisit terdalam yakni Tiongkok defisit sebesar US$4,99 miliar, Australia ini defisit US$1,69 miliar dan Singapura US$1,48 miliar. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah