Purbaya Ungkap Alasan Defisit APBN Bengkak Awal Tahun: Belanja MBG Paling Besar

ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/agr
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (kiri).
Editor: Agustiyanti
6/4/2026, 17.08 WIB

Menteri Keuangan Purbaya mengungkapkan alasan di balik membengkaknya defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada awal 2026. Nilainya mencapai Rp 240,1 triliun atau 0,93% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) hingga Maret.

Menurut Purbaya, pelebaran defisit merupakan konsekuensi dari strategi pemerintah yang mempercepat belanja negara sejak awal tahun. Kondisi berbeda dari pola sebelumnya yang cenderung menumpuk di akhir tahun.

“Itu kan defisit yang membesar, kenapa? Karena kami percepat belanja pemerintah. Saya ingin menciptakan belanja yang lebih merata sepanjang tahun, supaya dampak ekonominya lebih optimal,” ujarnya dalam konferensi pers Kebijakan Transportasi dan BBM di kantornya, Senin (6/4).

Dari sisi realisasi, belanja negara hingga kuartal I 2026 tercatat mencapai Rp 815 triliun atau tumbuh 31,4% secara tahunan (year-on-year/yoy). Nilai ini jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 620,3 triliun yang hanya tumbuh 1,4% yoy.

Penyerapan belanja juga meningkat menjadi 21,2% dari total pagu APBN, di atas rata-rata historis sekitar 17%.

Sementara itu, pendapatan negara tercatat Rp574,9 triliun atau tumbuh 10,5% yoy, ditopang oleh penerimaan pajak yang meningkat 20,7% yoy. 

MBG Telan Anggaran Terbesar

Purbaya menjelaskan hampir seluruh pos belanja meningkat. Namun ada beberapa program dengan kontribusi signifikan, salah satunya program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Yang paling menonjol ya BGN, karena memang anggarannya besar,” kata Purbaya.

Meski demikian, ia memastikan kualitas belanja akan terus dijaga melalui pengawasan ketat. Pemerintah tidak segan memberikan peringatan kepada kementerian/lembaga jika ditemukan penggunaan anggaran yang tidak tepat.

“Kalau belanjanya tidak tepat, kami bisa beri peringatan. Bahkan bisa kami putuskan tidak dibayar,” tegasnya.

Purbaya juga mencontohkan pengelolaan fiskal tahun 2025 yang dinilai lebih baik dari perkiraan. Defisit APBN yang sebelumnya diproyeksikan sebesar 2,91% terhadap PDB, berpotensi turun menjadi sekitar 2,8% setelah audit.

Ia juga menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya bergantung pada belanja pemerintah. Ada pula sektor swasta yang memiliki porsi dominan. 

“Sekitar 90% ekonomi itu ditopang oleh sektor swasta. Selama kita bisa menjaga iklim investasi dan pertumbuhan sektor privat, ekonomi akan terus membaik,” kata dia.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah