Rupiah Berpotensi Melemah usai Perundingan AS-Iran Buntu

ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/rwa.
Petugas menunjukkan pecahan mata uang dolar Amerika Serikat dan mata uang Rupiah di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Selasa (10/3/2026).
13/4/2026, 09.28 WIB

Nilai tukar rupiah diperkirakan kembali berada dalam tekanan pada perdagangan hari ini, seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Analis Doo Financial, Lukman Leong, mengatakan rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS akibat memanasnya situasi global, khususnya setelah ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menutup Selat Hormuz karena perundingan yang buntu dengan Iran.

“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik, menyusul ancaman penutupan Selat Hormuz setelah perundingan dengan Iran gagal,” ujar Lukman kepada Katadata.co.id, Senin (13/4).

 Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka di level di level Rp 17.124 per dolar AS melemah 0,10% atau 17 poin. Hingga pukul 09.10 WIB rupiah kian melemah Rp 17.138 per dolar AS melemah 0,20% atau 34 poin.

Adapun pada perdagangan sebelumnya nilai tukar rupiah di pasar spot tertekan saat penutupan perdagangan Jumat (10/4/2026). Rupiah melemah 14 poin atau 0,08% ke level Rp 17.104 per dollar AS.

Lukman menjelaskan, ketegangan di kawasan tersebut kembali memicu kekhawatiran pasar, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi energi dunia. Ancaman terhadap jalur ini langsung berdampak pada lonjakan harga minyak dan meningkatkan risiko investor global. 

 Dengan kombinasi sentimen tersebut, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp17.050 hingga Rp17.200 per dolar AS pada hari ini.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah