Nilai tukar rupiah menguat 0,2% ke level 16.134 per dolar AS pada perdagangan pagi ini. Rupiah menguat seiring melemahnya dolar AS dan turunnya harga minyak mentah dunia di tengah optimisme terhadap dimulainya kembali negosiasi antara Iran dengan AS.
Analis Doo Financial Lukman Leong, menilai penguatan rupiah didorong oleh membaiknya persepsi risiko global. Penurunan harga minyak juga memberikan ruang bagi rupiah untuk terapresiasi.
Berdasarkan Bloomberg, rupiah dibuka menguat 45 poin di level 17.123 per dolar AS. Namun, rupiah bergerak melemah dari posisi pembukaan ke level 17.136 per dolar AS.
"Pergeraan rupiah hari ini berada dalam kisaran17.050 hingga 17.200 per dolar AS," ujar Lukman, Selasa (21/4).
Ia menilai, penguatan rupiah belum akan terlalu signifikan karena pasar masih mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Kondisinya dinilai sangat dinamis dan berpotensi berubah sewaktu-waktu.
Menurut sumber Bloomberg, Iran dikabarkan akan mengirimkan timnya ke Ibu Kota Pakistan, setelah sebelumnya sempat menyatakan keraguan mereka untuk berpartisipasi dalam pembicaraan damai lanjutan dengan AS.
Wakil Presiden JD Vance dijadwalkan berangkat pada Senin untuk melanjutkan perundingan. Presiden AS Donald Trump menyebut sangat kecil kemungkinan ia akan memperpanjang gencatan senjata yang akan berakhir pada rabu malam waktu Washington.
Harga minyak dunia dalam beberapa hari terakhir bergejolak di tengah dinamisnya perubahan persepsi terkait status negosiasi dan nasib kapal melalui Selat Hormuz. Jalur perairan vital ini biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Perang di Hormuz berpotensi memperdalam krisis energi global dan menjadi salah satu dari sejumlah isu yang belum terselesaikan antara Iran dan AS, termasuk kemampuan nuklir Republik Islam tersebut serta invasi Israel ke Lebanon.