Nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,19% ke level 17.243 per dolar AS pada perdagangan sore ini. Rupiah melemah tertekan ketidakpastian konflik antara AS dan Iran hingga faktor internal.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan, ada sejumlah faktor yang memengaruhi pelemahan rupiah hari ini. Dari sisi eksternal, terdapat ketidakpastian global terkait konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Upaya mengakhiri konflik antara kedua negara tersebut dilaporkan mengalami kebuntuan.
Saat ini, Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi energi dunia, masih tertutup sebagian dan mengganggu pasokan minyak dan gas global. Iran diketahui telah mengajukan proposal baru untuk membuka kembali jalur tersebut, tetapi mendapat respons skeptis dari Washington.
Presiden AS Donald Trump dilaporkan tidak puas dengan proposal Iran yang dinilai menghindari pembahasan program nuklir Teheran. Ketidakpuasan Trump terhadap tawaran Iran membuat konflik tersebut buntu, sehingga Iran menutup arus pelayaran melalui Selat Hormuz. DI sisi lain, AS tetap memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Pelaku pasar juga menantikan hasil pertemuan Bank Sentral AS (The Fed) yang dijadwalkan berlangsung minggu ini. The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga, namun pasar menunggu sinyal lebih lanjut terkait arah kebijakan moneter dan proyeksi inflasi di tengah tekanan geopolitik.
Pergantian kepemimpinan dari Jerome Powell ke Kevin Warsh juga menjadi perhatian investor global.
Dari sisi domestik, pelemahan rupiah kembali memunculkan narasi bahwa mata uang Indonesia berada di bawah nilai wajarnya (undervalued). Namun, Ibrahim menilai narasi tersebut perlu dikaji ulang secara lebih kritis.
“Sejak 2014 nilai rupiah dikisaran Rp 12.000 per dollar AS hingga melemah ke level Rp 17.000-an dalam beberapa tahun terakhir. Dan kita mempertanyakan relevansi narasi tersebut mengingat tren jangka panjang rupiah yang justru terusmengalami depresiasi. Kondisi tersebut semestinyamendorong evaluasi lebih mendalam terhadap pemahaman mengenai nilai wajar rupiah, alih-alih terus mengulang narasi yang sama,” katanya.
Di satu sisi ia menyebut sejumlah indikator makroekonomi Indonesia relatif stabil seperti inflasi yang terkendali dan pertumbuhan ekonomi yang terjaga, meski begitu ia melihat terdapat sejumlah tantangan struktural.
Salah satunya adalah ketergantungan terhadap aliran modal asing jangka pendek, cadangan devisa yang sebagian berasal dari utang, serta gejala pelemahan sektor industri.
Ibrahim menilai bahwa penggunaan istilah undervalued kini lebih berfungsi sebagai alat komunikasi untuk menjaga sentimen pasar dibandingkan sebagai refleksi kondisi fundamental yang sesungguhnya.
“Kepercayaan terhadap mata uang tidak cukup dibangun melalui narasi. Harus ada perbaikan fundamental ekonomi yang nyata,” ujarnya.