Rupiah Menguat ke Rp17.387 per US$, Terdorong Deeskalasi Konflik Timur Tengah

ANTARA
Nilai tukar rupiah ditutup menguat 36 poin ke level Rp 17.387 terhadap dolar Amerika Serikat (AS), pada perdagangan Rabu (6/5).
6/5/2026, 16.00 WIB

Nilai tukar rupiah ditutup menguat 36 poin ke level Rp 17.387 terhadap dolar Amerika Serikat (AS), pada perdagangan Rabu (6/5). Deeskalasi konflik di Timur Tengah dan sentimen positif dari dalam negeri mendukung penguatan rupiah ini.

Menurut data Bloomberg, sepanjang perdagangan hari ini, rupiah sempat menguat hingga 40 poin di kisaran Rp17.409, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.424 per dolar AS.

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan faktor eksternal yang berpengaruh adalah respons positif pasar terhadap pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengindikasikan adanya kemajuan menuju kesepakatan damai dengan Iran. 

Harapan terhadap deeskalasi konflik di Timur Tengah mendorong pelemahan dolar AS dan meningkatkan minat terhadap aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang.

“Pada hari Selasa (5/5), Trump secara tak terduga mengatakan ia akan menghentikan sementara Operasi Kebebasan atau Freedom Operation untuk membantu mengawal kapal melalui Selat Hormuz, dengan alasan kemajuan menuju kesepakatan komprehensif dengan Iran, tanpa memberikan rincian tentang kesepakatan tersebut,” kata Ibrahim dalam pernyataan tertulis, Rabu (6/5).

Namun demikian, Trump mengatakan Angkatan Laut AS akan melanjutkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Selat Hormuz, yang biasanya membawa kargo setara dengan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam dunia, telah terputus sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari.

"Kami telah sepakat bersama sedangkan blokade akan tetap berlaku sepenuhnya, Operasi Kebebasan (Freedom Operation)... akan dihentikan sementara untuk jangka waktu singkat untuk melihat apakah perjanjian dapat diselesaikan dan ditandatangani," ujar Trump di media sosial.

Sentimen Positif dari Angka Pertumbuhan Ekonomi

Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari pernyataan pemerintah terkait pertumbuhan ekonomi. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 mencapai 5,61%, yang menunjukkan adanya percepatan dibandingkan periode sebelumnya.

“Capaian pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61% menjadi indikasi tren ekonomi nasional mulai bergerak ke arah yang lebih kuat dibandingkan periode sebelumnya,” kata Ibrahim.

Selain itu, pemerintah tengah menyiapkan paket stimulus tambahan untuk mendorong aktivitas ekonomi dalam waktu dekat. Dengan langkah tersebut, Ibrahim menilai pemerintah berharap akselerasi pertumbuhan ekonomi dapat terus berlanjut dan memberikan dampak positif bagi aktivitas usaha serta kepercayaan pasar ke depan.

“Namun banyak ekonom yang mempertanyakan hasil perhitungan  pertumbuhan ekonomi kuartal pertama 2026 sebesar 5,61%. Salah satunya, data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang dikeluarkan Bank Indonesia pada Maret 2026 sebesar 122,9 basis poin atau turun dibandingkan Januari 2026 sebesar 127,0 basis poin,” katanya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah