Rupiah Tembus Rp 17.500, Purbaya Aktifkan Bond Stabilization Fund

ANTARA
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyiapkan langkah intervensi di pasar obligasi melalui instrumen Bond Stabilization Fund (BSF) untuk merespons anjoknya nilai tukar rupiah.
Penulis: Ade Rosman
12/5/2026, 14.30 WIB

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyiapkan langkah intervensi di pasar obligasi melalui instrumen Bond Stabilization Fund (BSF) untuk merespons anjoknya nilai tukar rupiah.

Nilai tukar rupiah menembus Rp 17.500 per dolar AS pada perdagangan pagi ini, Selasa (12/5). Ini adalah level terlemah rupiah sepanjang sejarah. 

Purbaya mengatakan, pemerintah akan mulai masuk ke pasar obligasi untuk menjaga agar imbal hasil (yield) surat utang negara tidak naik terlalu tinggi. Langkah itu dilakukan untuk membantu Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar.

“Besok mungkin kita akan mulai membantu dengan masuk ke bond market,” kata Purbaya di kantor Kemenkeu, Jakarta Pusat, Selasa (12/5). 

Menurutnya, kenaikan yield atau imbal hasil obligasi yang terlalu tinggi berpotensi memicu keluarnya investor asing dari pasar keuangan domestik karena mengalami kerugian nilai investasi (capital loss). Jika arus keluar modal terjadi besar-besaran, tekanan terhadap rupiah dapat semakin meningkat.

“Kita intervensi bond market supaya yield-nya enggak naik terlalu tinggi. Kalau yield-nya naik terlalu tinggi artinya asing yang pegang bond di sini kan ada capital loss, dia akan keluar,” kata dia. 

Purbaya menjelaskan pemerintah akan mengaktifkan instrumen yang dimiliki dalam skema Bond Stabilization Fund untuk menjaga pasar obligasi tetap stabil. 

Meski begitu, ia menegaskan tugas utama menjaga stabilitas nilai tukar tetap berada di tangan Bank Indonesia sebagai otoritas moneter.

“Itu kan Anda mesti tanya bank sentral, jangan tanya saya. Tugas bank sentral hanya satu, menjaga stabilitas nilai tukar, dan kita serahkan itu ke ahlinya di sana,” kata Purbaya.

Di sisi lain, Purbaya memastikan pelemahan rupiah masih dalam batas yang dapat ditangani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Ia mengungkapkan, pemerintah sebenarnya telah menggunakan asumsi kurs yang lebih tinggi dibandingkan asumsi resmi APBN dalam sejumlah perhitungan internal.

“APBN-nya masih relatif aman. Tapi kita akan coba bantu nilai tukar, membantu BI sedikit-sedikit kalau bisa,” kata Purbaya. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ade Rosman