Mayoritas Mata Uang Asia Melemah, Rupiah Makin Loyo ke 17.543 per Dolar AS

ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/kye
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5/2026). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa (12/5) melemah 115 poin atau 0,66 persen menjadi Rp17.529 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.414 per dolar AS, terpengaruh ekspektasi suku bunga tinggi The Fed yang lebih lama.
Penulis: Agustiyanti
13/5/2026, 10.04 WIB

Nilai tukar rupiah pagi ini semakin loyo setelah menembus level psikologis baru 17.500 per dolar AS pada perdagangan kemarin (13/5). Kurs rupiah melemah 0,08% ke level 17.541 per dolar AS seiring mayoritas mata uang Asia lainnya. 

Berdasarkan data Bloomberg,  kurs rupiah dibuka menguat 13 poin di level 17.515 per dolar AS pada perdagangan pagi ini. Namun, rupiah terus melemah ke 17.541 per dolar AS hingga pukul 09.52 WIB.

Mayoritas mata uang Asia juga melemah terhadap dolar AS.  Rupee India melemah 0,34%, won Korea Selatan melemah 0,29%, peso Filipina 0,03%, yen Jepang 0,04%, dan dolar Singapura 0,01%. Sedangkan baht Thailand menguat 0,17%, ringgit Malaysia 0,12%, dan yuan Cina 0,06%.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menjelaskan, tekanan terhadap rupiah saat ini tengah meningkat karena masih memanasnya situasi di Timur Tengah yang mendorong harga minyak dan ketidakpastian global. Sedangkan dari sisi domestik, terdapat peningkatan 
 kebutuhan dolar AS secara musiman seperti untuk pembayaran utang luar negeri dan dividen serta kebutuhan pembayaran ibadah haji.

" ⁠⁠⁠BI akan terus berkomitmen untuk selalu berada di pasar dengan melakukan smart intervention baik di pasar spot, DNDF maupun NDF, dan juga mengoptimalkan penggunaan semua instrumen operasi moneter sehingga diharapkan dapat mengurangi tekanan  rupiah," ujar Destry dalam keterangan resmi, Selasa (13/5). 

Destry menjelaskan, pihaknya juga melihat kepercayaan asin mulai di aset portofolio Indonesia sebenarnya mulai membaik. Hal ini tercermin dari aliran modal asing masuk, khususnya ke Pasar SBN dan SRBI selama bulan April sebesar Rp 61,6 triliun. ⁠⁠⁠Ketersediaan likuiditas valas di pasar domestik juga cukup tinggi dengan pertumbuhan dana pihak ketiga valas di akhir Maret yang tumbuh 10,9% secara tahunan.

"BI memperkirakan tekanan yang bersifat musiman ini akan mereda sehingga nilai tukar rupiah bisa kembali ke level fundamentalnya," ujar Destry.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.