Harga Pertamax Naik, Pemerintahdan DPR Kaji Pemberian Stimulus 

ANTARA/Harianto
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (kiri) dan Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun (kanan) ditemui awak media di depan Kantor Kementerian Keuangan, Senin (27/10/2025).
Penulis: Ade Rosman
10/6/2026, 13.13 WIB

Ketua Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Mukhamad Misbakhun mengatakan DPR dan pemerintah tengah membahas pemberian stimulus kepada masyarakat untuk mengkompensasi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax. 

“Itu (pemberian stimulus) sedang dirumuskan. Tadi kita diskusinya di sana,” kata Misbakhun kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (10/6). 

Misbakhun menuturkan, DPR dengan pemerintah telah membahas hal tersebut. Ia berpandangan masyarakat yang menggunakan Pertamax beririsan dengan Pertalite, sehingga rencana pemberian insentif tengah digodok. 

“Sedang dilakukan upaya penghitungan apa yang nanti menjadi stimulus atau insentif sektor. Yang pasti biasanya masyarakat yang menggunakan Pertamax itu kan masyarakat-masyarakat yang berimpitan dengan Pertalite. Nah kita ingin pastikan apa sih yang mereka butuhkan sebagai stimulus,” kata Misbakhun.

Purbaya Prediksi Dampak Kenaikan Pertamax ke Inflasi Kecil

Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax berdampak kecil untuk kenaikan harga barang atau inflasi. 

Bendahara negara ini berpandangan, kendaraan angkut barang tidak menggunakan Pertamax sehingga dampak ke inflasi tidak akan terlalu terasa. 

“Dampaknya (ke inflasi) harusnya relatif minim karena Pertamax enggak dipakai angkutan barang,” kata Purbaya, ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (10/6). 

Ketika ditanya langkah pemerintah menjaga agar kuota subsidi BBM tidak jebol, Purbaya menyerahkannya pada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. 

“Itu tanya ke Pak Bahlil, mesti ada metode lagi. Nozzle control kalau enggak salah, silakan tanya Pak Bahlil yang mengerti,” kata dia. 

Purbaya menilai dampak kenaikan BBM Pertamax bagi inflasi terbatas, pasalnya BBM nonsubsidi itu tak dipakai oleh kendaraan pengangkut. 

“Harusnya limited karena bukan bukan buat angkutan umum, angkutan barang enggak pakai,” kata Purbaya. 

Harga Pertamax naik 32,11% dibandingkan awal bulan Rp 12.300 per liter menjadi Rp 16.250 per liter per hari ini (10/6). Pertamina Patra Niaga juga menaikkan harga BBM atau bahan bakar minyak jenis Pertamax Green 95 dari Rp. 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter. 

Pertamina menyampaikan, penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green diputuskan setelah dikoordinasikan dengan pemerintah, dan dilakukan sesuai mekanisme evaluasi berkala yang mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia serta harga pasar keekonomian.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun mengatakan penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green merupakan bagian dari implementasi tata kelola energi. 

Hal ini bertujuan menjaga keseimbangan antara keberlangsungan bisnis, kualitas layanan, dan kepastian pasokan energi bagi masyarakat.

“Harga jual tersebut diputuskan dengan tetap dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator, dan menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan penyediaan energi dan distribusi BBM berkualitas bagi masyarakat terus berjalan optimal,” ujar Roberth dalam siaran pers, Rabu (10/6). 

Meski harga Pertamax dan Pertamax Green naik, Pertamina memastikan harga BBM subsidi Pertalite dan Solar tidak berubah. Harga jual kedua produk BBM bersubsidi tersebut tetap dilayani dengan harga jual Pertalite Rp 10.000 per liter dan Biosolar Rp 6.800 per liter.

Berikut daftar harga BBM di SPBU Pertamina per 10 Juni 2026: 

  • Pertamax (RON 92): Rp 16.250 per liter, sebelumnya Rp 12.300 per liter 
  • Pertamax Green 95 (RON 95): Rp 17.000 per liter, naik dari harga Rp. 12.900 per liter 
  • Pertamax Turbo (RON 98): Rp 20.750 per liter (tetap) 
  • Dexlite (CN 51): Rp 23.000 per liter (tetap) 
  • Pertamina Dex (CN 53): Rp 24.800 per liter (tetap).
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ade Rosman