Rupiah Berpotensi Melemah Terbebani Bayang-bayang Konflik Timur Tengah
Mata uang Garuda mengawali perdagangan hari ini dengan pergerakan yang melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada hari ini Selasa (14/7).
Melansir dari Bloomberg, rupiah membuka perdagangan di level Rp 18.116 per dolar AS melemah 0,03% atau 7 poin. Pantauan Katadata, hingga pukul 09.20 rupiah menguat berada di level Rp 18.102 per dolar AS naik 0,04% atau 7 poin.
Adapun pada perdagangan sebelumnya rupiah ditutup di level Rp 18.109 per dolar AS. Ini membuat rupiah melemah 0,24% dibandingkan dengan penutupan pada hari Jumat (10/7/2026) berada di level Rp 18.065 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi seiring dengan tekanan yang juga dialami mayoritas mata uang Asia terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia tercatat melemah 0,24% ke level MYR 4.0802 per dolar AS, sementara dong Vietnam melemah 0,03% ke posisi VND 26.265 per dolar AS.
Selain itu, baht Thailand terkoreksi 0,05% menjadi THB 33.5090 per dolar AS, peso Filipina melemah 0,18% ke level PHP 61,686 per dolar AS, dan yuan China turun 0,06% ke posisi CNY 6,783 per dolar AS.
Nilai tukar rupiah diperkirakan kembali berada dalam tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini.
Memanasnya konflik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak dunia serta penguatan indeks dolar AS diperkirakan menjadi sentimen utama yang membebani mata uang Garuda.
Analis Doo Financial Lukman Leong mengatakan rupiah masih berpotensi melemah di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
"Rupiah diperkirakan kembali melemah terhadap dolar AS di tengah situasi di Timur Tengah yang memanas, memicu kenaikan tajam pada harga minyak mentah dunia dan indeks dolar AS," ujar Lukman.
Meski demikian, ia menilai keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB dengan prospek stabil diharapkan dapat menahan pelemahan rupiah agar tidak berlangsung lebih dalam.
"Namun, keputusan S&P mempertahankan rating kredit Indonesia diharapkan bisa sedikit banyak menahan pelemahan yang lebih tajam," katanya.
Lukman memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp 18.050 hingga Rp 18.200 per dolar AS pada perdagangan hari ini.
Senada, Senior Ekonom KB Valbury Sekuritas Fikri C. Permana memperkirakan rupiah masih berpotensi mengalami depresiasi lanjutan hingga Rp 18.170 per dolar AS.
Menurut Fikri, tekanan terhadap rupiah berasal dari meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang mendorong investor mencari aset aman (safe haven). Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga masih mencermati dampak dari rilis S&P Global Ratings pada Senin (13/7).