Nilai tukar rupiah menguat tipis 0,01% di level 17.946 per dolar AS pada perdagangan pagi ini, Selasa (21/7). Pergerakan rupiah diramal terbatas akibat sejumlah sentimen global.
Melansir dari Bloomberg, rupiah membuka perdagangan di level Rp 17.940 per dolar AS menguat 0,04% atau 8 poin. Namun, rupiah bergerak melemah dari posisi pembukaan ke level 17.946 per dolar AS pada pukul 09.50 WIB.
"Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS oleh meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah menyusul laporan bahwa AS dan Iran mengisyaratkan kesediaan untuk melakukan negosiasi," ujar Analis Doo Financial Lukman Leong, Selasa (21/7).
Selain itu, menurut Lukman, rupiah juga memperoleh dukungan dari masuknya kembali aliran dana asing ke pasar keuangan Indonesia, baik di pasar saham maupun surat berharga negara.
"Rupiah juga didukung oleh dana asing yang masih terus kembali masuk ke pasar Indonesia," katanya.
Lukman memperkirakan, rupiah bergerak di kisaran 17.850 hingga 18.000 per dolar AS pada perdagangan hari ini.
Sementara itu, Senior Ekonom KB Valbury Sekuritas Fikri C. Permana memiliki pandangan yang lebih berhati-hati. Ia memperkirakan rupiah masih berpotensi mengalami depresiasi lanjutan hingga 17.990 per dolar AS.
Menurut Fikri, risiko geopolitik di Timur Tengah masih menjadi perhatian utama pelaku pasar meski terdapat sinyal pembukaan jalur diplomasi. Ketidakpastian tersebut dinilai masih berpotensi mendorong investor memilih aset yang lebih aman.
Selain itu, pasar juga mencermati tekanan di bursa saham global setelah rilis US Leading Economic Index yang menunjukkan pelemahan, sehingga memicu sentimen risk-off.
Di dalam negeri, Fikri menilai mengecilnya net buy investor asing di pasar saham domestik turut membatasi ruang penguatan rupiah. Pelaku pasar juga menunggu hasil lelang Surat Utang Negara (SUN) yang digelar hari ini sebagai salah satu indikator minat investor terhadap aset keuangan Indonesia.