BPS Catat Defisit Perdagangan Berlanjut pada Juni, Capai US$ 450 Juta
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia kembali mengalami defisit pada Juni 2026 sebesar US$ 450 juta. Meski demikan, defisit ini melandai dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai US$ 1,6 miliar.
Ini menjadi bulan kedua berturut-turut neraca perdagangan berada di zona negatif, setelah sebelumnya Indonesia mencatatkan surplus selama lebih dari lima tahun sejak April 2020.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, defisit pada Juni terutama berasal dari perdagangan komoditas minyak dan gas (migas) yang masih mengalami tekanan.
“Tiga negara penyumbang defisit neraca perdagangan pada kelompok nonmigas, pertama adalah Tiongkok mencapai US$14,26 miliar,”
“Defisit pada Juni, terutama disebabkan oleh defisit pada komoditas migas sebesar US$ 3,49 miliar, dengan komoditas utama penyumbang defisit yaitu hasil minyak dan minyak mentah,” kata Ateng dalam konferensi pers, di Jakarta, Senin (3/8).
Di sisi lain, neraca perdagangan nonmigas masih mencatatkan surplus sebesar US$ 3,04 miliar. Surplus tersebut terutama berasal dari komoditas lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15), bahan bakar mineral (HS 27), serta besi dan baja (HS 72).
Defisit neraca perdagangan pada Juni disumbangkan oleh kenaikan impor yang lebih tinggi dibandigkan ekspor.Nilai impor Indonesia tercatat mencapai US$ 25,91 miliar, meningkat 34,27% dibandingkan Juni 2025. Adapun ekspor mencapai US$ 25,46 miliar, atau tumbuh 8,84% secara tahunan.
Lonjakan impor terutama dipicu kenaikan impor migas yang melonjak 105,15% menjadi US$ 4,56 miliar. Sementara impor nonmigas meningkat 25,05% menjadi US$ 21,35 miliar.
Menurut Ateng, peningkatan impor tidak hanya berasal dari kebutuhan energi, tetapi juga didorong oleh tingginya impor bahan baku dan barang modal yang digunakan untuk kegiatan produksi.
“Nilai impor bahan baku penolong sebagai pendorong utama kenaikan impor naik secara tahunan sebesar 38,94% dengan andil terhadap peningkatan impor sebesar 26,94%. Nilai impor barang modal juga naik sebesar 26,53%,” kata dia.
Di sisi ekspor, BPS mencatat kenaikan terutama ditopang oleh ekspor bahan bakar mineral, nikel dan barang daripadanya, serta lemak dan minyak hewani atau nabati. Secara tahunan, nilai ekspor bahan bakar mineral meningkat 49,67%, sedangkan ekspor nikel dan turunannya melonjak 69,30%.
BPS juga mencatat, ekspor Indonesia secara kumulatif pada Januari-Juni 2026 mencapai US$ 140,81 miliar, naik 4,13% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada periode yang sama, impor tumbuh lebih tinggi yakni 18,69% menjadi US$ 137,24 miliar.
Meski dua bulan terakhir berturut-turut mencatat defisit bulanan, secara kumulatif neraca perdagangan Indonesia masih membukukan surplus US$ 3,58 miliar pada semester I 2026. Surplus tersebut ditopang oleh surplus perdagangan nonmigas sebesar US$ 19,35 miliar, yang mengompensasi defisit migas sebesar US$ 15,77 miliar.
BPS juga mencatat Amerika Serikat, India, dan Filipina menjadi tiga negara penyumbang surplus perdagangan terbesar Indonesia sepanjang Januari hingga Juni 2026. Sebaliknya, defisit perdagangan terdalam masih terjadi dengan Tiongkok sebesar US$ 13,61 miliar, diikuti Australia sebesar US$ 4,40 miliar dan Singapura sebesar US$ 4,33 miliar.