Rupiah Diprediksi Konsolidasi, Investor Tunggu Data Inflasi AS
Mata uang rupiah mengawali perdagangan hari ini dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Melansir dari Bloomberg, rupiah membuka perdagangan di level Rp 17.851 per dolar AS menguat tipis 0,08% atau 10 poin. Hingga pukul 09.08 rupiah berbalik melemah berada di level Rp 17.874 per dolar AS turun 0,7% atau 14 poin.
Adapun pada perdagangan sebelumnya rupiah ditutup di level Rp 17.861 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini membuat rupiah melemah 0,59% dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.755 per dolar AS.
Nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak konsolidatif terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini. Pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang memberikan sinyal beragam serta sikap investor yang cenderung menunggu rilis data inflasi AS.
Analis Doo Financial Lukman Leong mengatakan, perkembangan konflik di Timur Tengah masih menjadi perhatian pasar. Di satu sisi, terdapat sinyal positif terkait proses perdamaian antara AS dan Iran.
“Rupiah diperkirakan bergerak konsolidatif di tengah perkembangan geopolitik di Timteng yang masih memberikan sinyal beragam,” kata Lukman kepada Katadata, Rabu (12/8).
Menurut dia, laporan dari Pakistan mengindikasikan bahwa proses menuju kesepakatan damai kembali menunjukkan perkembangan positif. Kondisi tersebut berpotensi memberikan sentimen positif bagi aset berisiko, termasuk rupiah.
Namun, sentimen positif tersebut masih dibayangi oleh ketidakpastian terkait Selat Hormuz. Iran menegaskan bahwa selat tersebut belum akan dibuka sebelum sejumlah persyaratan terpenuhi.
“Laporan dari Pakistan mengindikasikan bahwa proses menuju kesepakatan damai kembali menunjukkan perkembangan positif, sementara Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka sebelum sejumlah persyaratan terpenuhi,” ujar Lukman.
Selain perkembangan geopolitik, investor juga akan mencermati data ekonomi AS yang akan dirilis malam ini, terutama data inflasi. Data tersebut menjadi perhatian pasar karena dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).
Lukman menilai investor cenderung mengambil sikap wait and see menjelang rilis data tersebut. Pergerakan dolar AS setelah data inflasi keluar akan turut menentukan arah rupiah pada perdagangan berikutnya.
Dengan kondisi tersebut, Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 17.750-Rp 18.850 per dolar AS pada perdagangan hari ini.