Rupiah Diproyeksi Melemah, Pasar Waspadai Geopolitik Timur Tengah
Mata uang rupiah mengawali perdagangan dengan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pagi ini. Melansir dari Bloomberg, rupiah membuka perdagangan di level Rp 17.851 per dolar AS melemah 0,28% atau 51 poin. Pantauan Katadata hingga pukul 09.10 WIB, rupiah bergerak menguat berada di level Rp 17.847 per dolar AS naik 0,28% atau 49 poin.
Adapun pada perdagangan sebelumnya rupiah ditutup Rp 17.798 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini membuat rupiah menguat 0,16% dibandingkan dengan penutupan Jumat (14/8/2026) yang berada di Rp 17.827 per dolar AS.
Nilai tukar rupiah diproyeksikan bergerak beragam pada perdagangan Selasa (18/8). Analis Doo Financial Lukman Leong memperkirakan rupiah berpotensi melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Sementara Senior Ekonom KB Valbury Sekuritas Fikri C Permana melihat peluang rupiah menguat tipis ke level Rp 17.800 per dolar AS.
Lukman mengatakan tekanan terhadap rupiah berasal dari eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang kembali meningkatkan kekhawatiran pasar. Berakhirnya gencatan senjata antara AS dan Iran turut mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia.
"Rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS di tengah eskalasi geopolitik di Timteng dan kenaikan harga minyak mentah dunia setelah berakhirnya gencatan senjata AS-Iran," ujar Lukman.
Menurut dia, kondisi tersebut menjadi sentimen negatif bagi mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah, karena kenaikan harga minyak dapat meningkatkan tekanan eksternal dan kebutuhan impor energi. Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp 17.750-Rp 17.850 per dolar AS pada perdagangan hari ini.
Pasar Bisa Respons Positif Target Defisit APBN
Berbeda dengan Lukman, Fikri C Permana memperkirakan rupiah masih memiliki ruang untuk menguat tipis menuju Rp 17.800 per dolar AS.
Menurut Fikri, pergerakan rupiah akan sangat dipengaruhi oleh dinamika risiko geopolitik yang masih dinamis. Pelaku pasar masih harus mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah karena perubahan situasi dapat dengan cepat memengaruhi sentimen terhadap aset berisiko.
"Risiko geopolitik yang masih naik-turun," ujar Fikri mengenai faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah.
Selain sentimen geopolitik, Fikri melihat adanya faktor positif dari dalam negeri setelah pemerintah memaparkan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027.
Menurutnya, perbaikan defisit fiskal pada tahun depan dapat menjadi sentimen positif bagi rupiah karena menunjukkan upaya pemerintah menjaga disiplin fiskal.
Dalam RAPBN 2027, pemerintah menargetkan defisit anggaran sebesar Rp 671,2 triliun atau 2,40% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut lebih rendah dibandingkan target defisit APBN 2026 sebesar 2,48% terhadap PDB.