Rupiah Melemah ke Rp 17.744, Pasar Cermati Perkembangan Selat Hormuz
Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan hari ini, Kamis (27/8). Angkanya turun 19 poin ke level Rp 17.744 per dolar Amerika Serikat, setelah sempat menguat 75 poin.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pergerakan rupiah saat ini dipengaruhi perkembangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait prospek pembukaan kembali Selat
Harapan pembicaraan antara Iran dan Qatar serta perkembangan kesepakatan Iran dan Oman terkait pengelolaan Selat Hormuz menjadi sentimen positif karena berpotensi mengurangi gangguan pasokan minyak dunia.
Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani akan bertolak ke Iran untuk kembali membuka pembicaraan diplomatik guna mengakhiri konflik. Namun, Ibrahim menilai posisi Iran dan Amerika Serikat masih berjauhan sehingga ketidakpastian geopolitik belum sepenuhnya mereda.
Di sisi lain, pasar juga mencermati data inflasi AS. Inflasi pada Juli bertahan di 3,3% secara tahunan. "Fokus pasar hari ini adalah rilis data klaim awal tunjangan pengangguran mingguan, serta pidato Gubernur The Fed (The Federal Reserve, bank sentral AS) Kevin Warsh pada hari Jumat," kata Ibrahim.
Dari dalam negeri, aksi demonstrasi di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat pada siang ini berlangsung tertib dan damai. Sejumlah anggota DPR menemui massa untuk menyerap aspirasi, termasuk terkait percepatan pengesahan RUU Perampasan Aset.
Sentimen domestik juga dibayangi penurunan kepuasan publik terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran. Survei Tempo Data Science menunjukkan tingkat kepuasan pada Agustus 2026 sebesar 37%, turun dari 58% pada Maret dan 75% pada Desember 2025.
Penurunan tersebut salah satunya berkaitan dengan persoalan ekonomi, dengan harga kebutuhan pokok menjadi alasan terbesar ketidakpuasan masyarakat.