BPS Ungkap Harga Ayam Naik Dipicu Kebutuhan MBG dan Pakan Ternak

ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/YU
Pedagang memotong daging ayam ras pesanan pembeli di kawasan Pasar Gang Baru, Kranggan, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (1/9/2026).
Penulis: Ade Rosman
1/10/2026, 12.05 WIB

Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap kenaikan harga daging ayam ras menjadi salah satu komoditas yang mendorong inflasi pada September 2026. Kenaikan harga ayam turut dipengaruhi meningkatnya kebutuhan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan kenaikan harga pakan ternak.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, kenaikan harga daging ayam ras menjadi salah satu peristiwa penting yang memengaruhi indikator harga pada September 2026.

“Terjadi peningkatan daging ayam ras pada kondisi September tahun 2026, antara lain didorong oleh kebutuhan program MBG di beberapa daerah serta juga adanya kenaikan harga pakan ternak,” kata Ateng dalam konferensi pers, di Jakarta, Kamis (1/10).

Kenaikan harga daging ayam ras ini tercermin dalam inflasi September, yang mana memberikan andil inflasi sebesar 0,05% secara bulanan.

Secara keseluruhan, inflasi September 2026 tercatat sebesar 0,30% secara month to month (mtm). Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama dengan inflasi sebesar 0,88% dan memberikan andil sebesar 0,26%.

Selain daging ayam ras, sejumlah komoditas pangan turut mendorong inflasi September. Cabai rawit memberikan andil sebesar 0,08%, cabai merah 0,06%, beras 0,03%, telur ayam ras 0,02%, serta ikan segar dan kangkung masing-masing 0,01%.

Ateng menjelaskan, kenaikan harga ayam juga menjadi bagian dari tekanan komponen harga bergejolak atau volatile food. Komponen tersebut mengalami inflasi sebesar 1,46% secara bulanan dengan andil terbesar terhadap inflasi September, yakni 0,24%.

Harga Pangan Jadi Faktor Utama Penyebab Inflasi

Secara tahunan, harga pangan juga menjadi salah satu sumber utama tekanan inflasi. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 4,37% pada September 2026 dan memberikan andil sebesar 1,28% terhadap inflasi tahunan.

Daging ayam ras menjadi salah satu komoditas yang dominan memberikan andil terhadap inflasi kelompok tersebut, bersama ikan segar, cabai rawit, beras, minyak goreng, dan daging sapi.

Sementara itu, komponen harga bergejolak secara tahunan mengalami inflasi sebesar 5,03% dengan andil sebesar 0,83%. Daging ayam ras, cabai rawit, beras, dan daging sapi menjadi komoditas yang dominan memberikan andil.

Adapun, BPS mencatat inflasi September 2026 secara tahunan mencapai 3,28%. Secara tahun kalender, inflasi tercatat sebesar 2,17%.

Di sisi lain, BPS juga mengingatkan adanya risiko terhadap perkembangan harga pangan ke depan. Ateng mengatakan, BMKG memprediksi fenomena El Nino pada 2026 berpotensi bertahan hingga awal 2027.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena dapat berdampak terhadap perubahan harga, terutama komoditas pangan.

“Hal ini perlu menjadi perhatian terkait dampaknya terhadap perubahan harga terutama pada komoditas pangan,” kata Ateng.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ade Rosman