Memacu Denyut Ekonomi Melalui BBM Satu Harga

ARIEF KAMALUDIN | KATADATA
Penulis: Arief Kamaludin
11/9/2018, 15.06 WIB

Warga Lalan di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan bisa tersenyum lebar, setidaknya ketika membeli bahan bakar minyak (BBM). Sekarang, sekitar 600 ribu penduduk di sana mendapatkan sumber energi ini dengan harga lebih terjangkau.

Dahulu, warga Lalan mesti mengeluarkan Rp 10 ribu untuk satu liter Premium. Kini, harga Premium di sana Rp 6.450 per liter, sama seperti penduduk di Pulau Jawa memperolehnya. Begitu juga dengan Solar dan Pertalite yang masing-masing dijual Rp 5.150 dan 8.000 per liter.

Perubahan harga ini bagian dari program BBM satu harga yang dicanangkan Presiden Joko Widodo. Di Lalan, harga baru ini, misalnya, bisa diperoleh di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Kompak.

Akhir pekan lalu, SPBU tersebut dikunjungi beberapa pejabat seperti dari Badan Pengatur Kegiatan Usaha Hilir (BPH) Migas dan PT Pertamina. Sesuai Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 36 Tahun 2016, BPH Migas berwenang untuk menugaskan badan usaha menyediakan BBM di lokasi baru dan mencabut penugasannya jika persusahaan tersebut tidak melaksanakan kegiatan sesuai ketentuan.

Pada 2017 telah terbangun 57 penyalur BBM satu harga. Rinciannya, 54 penyalur dari PT Pertamina dan tiga penyalur oleh PTAKR Corporindo. Adapun target penyaluran tahun ini sebanyak 73 titik, dan total hingga tahun depan sebanyak 160 titik di daerah yang tergolong tertinggal, terdepan, dan terluar.

Beroperasinya SPBU Kompak diharapkan membawa dampak positif bagi perekonomian serta meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat di sana. Dengan pengeluaran transportasi makin menurun, produksi mereka bisa makin meningkat sehingga denyut nadi ekonomi warga Lalan makin bergerak cepat. Sebab, sebelum hadirnya SPBU Kompak, misalnya, penduduk Desa Sukajadi harus menempuh 55 kilometer menuju SPBU terdekat.