Mengapa Iran Tak Pernah Mudah Ditundukkan?

Katadata/ Bintan Insani
Penulis: Rommy Fibri Hardiyanto
11/2/2026, 06.05 WIB

Setiap 11 Februari, Iran memperingati kelahiran Republik Islam sebagai penanda Revolusi 1979. Namun perayaan itu jarang diwarnai euforia, sebab di mata dunia Iran kerap hadir sebagai negara yang keras, tertutup, dan selalu berada di ambang konflik. Gambaran ini terasa menyempit jika sejarah panjang, kehidupan sehari-hari, dan dinamika politik mutakhir dibaca bersama. Di tengah perundingan nuklir yang menegang dan ancaman perang yang membayangi, Iran berdiri di persimpangan antara ingatan peradaban tua yang terbiasa bertahan dan tuntutan dunia modern yang menuntut kepatuhan.

Pertanyaan yang muncul bukan sekadar benar atau salahnya ideologi, melainkan bagaimana bangsa dengan ingatan panjang merespons tekanan berulang. Sejarah Iran—dari kejayaan Persia hingga lahirnya Republik Islam—menunjukkan pola konsisten: kemampuan beradaptasi di tengah keterdesakan. Pola ini sering luput dari pembacaan Barat yang melihat Iran semata sebagai ancaman. Untuk memahami posisi Iran hari ini, kita perlu menengok lebih dekat ke ruang sosialnya, tempat ketahanan dirawat diam-diam. Lalu, seperti apa wajah Iran jika ia dibaca dari dalam, bukan semata dari meja perundingan internasional? 

Denyut Peradaban yang Sarat Makna

Jawaban atas pertanyaan itu tidak selalu ditemukan di ruang sidang atau meja perundingan, melainkan justru di kota-kota tua yang menyimpan ingatan panjang tentang cara sebuah bangsa menjalani hidupnya. Shiraz adalah salah satunya. Kota ini berdiri tak jauh dari Persepolis, bekas pusat Kerajaan Persia, dan hingga kini masih memelihara denyut peradaban yang tak sepenuhnya tunduk pada narasi politik hari ini. Di tengah lalu lintas kota modern, kehidupan sosial berjalan dengan kelenturan yang jarang tampil dalam sorotan media Barat—sebuah kelenturan yang memperlihatkan bagaimana ketahanan dirawat bukan lewat slogan, melainkan melalui kebiasaan sehari-hari.

Di kota Shiraz, di pinggir jalan, penjaja jasa ramal tarot beroperasi terbuka sebagai mata pencaharian biasa. Aktivitas ini bukan dilakukan sembunyi-sembunyi, bukan pula sesuatu yang otomatis dipandang haram. Ia hidup sebagai bagian dari praktik sosial lokal yang dibiarkan tumbuh tanpa kekangan berlebihan. Pemandangan semacam ini memberi isyarat penting bahwa kehidupan masyarakat Iran tidak sepenuhnya dikendalikan oleh tafsir ideologis yang kaku, melainkan oleh kompromi sehari-hari antara tradisi, keyakinan, dan realitas hidup.

Pengalaman serupa, bahkan lebih mencolok, terasa di Isfahan. Di lapangan terbuka, para seniman jalanan berkumpul dengan gitar di tangan. Mereka bernyanyi, berdiskusi, dan menjadikan ruang publik sebagai medium ekspresi bermusik. Lokasinya tak jauh dari Jembatan Khaju—yang dikenal indah dan menjadi ikon kota—tempat warga berjalan santai menikmati waktu. 

Aktivitas ini tidak hanya berlangsung menjelang sore, tetapi justru semakin ramai pada malam hari. Musik mengalun lebih hidup ketika cahaya lampu memantul di Sungai Zayandeh, dinikmati anak muda, keluarga, hingga orang tua yang singgah sejenak. Pemandangan ini terasa berlawanan dengan stereotip negara teokrasi yang kerap diasosiasikan dengan pengekangan ketat terhadap seni dan ekspresi budaya.

Paradoks serupa juga tampak dalam dunia perfilman Iran. Di tengah citra negara teokrasi yang sering dilekatkan pada sensor dan pembatasan, industri film Iran justru tumbuh sebagai salah satu yang paling matang dan modern di kawasan. Jangan berharap sentuhan pornografi atau eksploitasi tubuh sebagaimana lazim di banyak industri film global. Justru di situlah kekuatannya. Sinema Iran berkembang melalui bahasa simbolik yang cermat, narasi yang hemat tetapi dalam, serta keberanian mengangkat tema-tema kemanusiaan—tentang keluarga, keadilan, anak-anak, kemiskinan, dan dilema moral sehari-hari.

Film-film Iran dikenal piawai memotret kehidupan biasa dengan kejujuran yang sunyi. Kamera sering dibiarkan mengamati, bukan menggurui; konflik tumbuh dari percakapan sederhana, bukan dari ledakan dramatik. Dari Abbas Kiarostami dengan kesenyapan filosofisnya, Majid Majidi yang lembut mengisahkan dunia anak-anak dan kaum kecil, hingga Mohsen Makhmalbaf yang politis dan eksperimental, sinema Iran memperlihatkan keberagaman estetika yang matang. Generasi berikutnya, seperti Asghar Farhadi, membawa konflik moral ke ruang domestik yang intim—membuktikan bahwa kisah rumah tangga pun dapat berbicara lantang tentang keadilan dan tanggung jawab sosial. Di ruang inilah paradoks Iran kembali bekerja: di tengah keterbatasan politik dan ideologis, ekspresi budaya justru menemukan jalannya sendiri—pelan, cerdas, dan diakui dunia.

Tradisi Konfliktual yang Telah Mengakar

Jika sinema Iran mampu berbicara dengan bahasa yang tenang di tengah batasan, maka logika yang sama sesungguhnya juga bekerja dalam politik luar negerinya. Di balik retorika keras yang kerap tampil ke permukaan, terdapat cara bernegosiasi, menunda, dan bertahan yang dibentuk oleh pengalaman panjang hidup dalam tekanan. Seperti film-filmnya, politik Iran jarang bergerak lurus dan terbuka; ia penuh isyarat, simbol, dan kalkulasi diam. Dari ruang budaya inilah kita dapat mulai memahami mengapa setiap perundingan dengan Iran—termasuk soal nuklir—tak pernah sesederhana tuntutan teknis, melainkan selalu bersinggungan dengan ingatan sejarah dan martabat nasional.

Perundingan nuklir Iran–Amerika Serikat kembali mengemuka dengan syarat yang bagi Teheran terasa sangat memberatkan. Intinya adalah pelucutan kemampuan nuklir Iran—sebuah tuntutan yang tidak hanya dipahami sebagai isu non-proliferasi, tetapi juga sebagai soal kedaulatan. Pertanyaan mendasarnya sederhana: atas dasar apa Amerika Serikat dan negara-negara Eropa melarang Iran mengembangkan teknologi nuklir, sementara mereka sendiri memilikinya?

Asimetri perundingan tampak terang. Hampir seluruh beban komitmen diletakkan di pundak Iran. Tidak ada pasal yang menyentuh Israel—negara yang oleh Iran dianggap ilegal dan menjadi sumber ancaman utama di kawasan. Ketimpangan ini bukan sekadar soal teknis diplomasi, melainkan cermin standar ganda dalam politik global.

Respons Iran terhadap tekanan ini pun ambigu—antara diplomasi dan kesiapsiagaan perang. Bahasa politik yang keras sering dibaca Barat sebagai agresi, padahal dalam memori kolektif Iran, kesiapsiagaan adalah produk sejarah panjang bertahan hidup: dari Perang Iran–Irak hingga sanksi ekonomi berkepanjangan.

Ray Takeyh, pengamat yang kerap kritis terhadap Teheran, mencatat bahwa Iran memiliki kemampuan adaptasi yang luar biasa. Iran, tulisnya, mungkin tidak selalu unggul, tetapi hampir selalu selamat. Trita Parsi (2017) dalam Losing an Enemy: Obama, Iran, and the Triumph of Diplomacy juga mencatat bahwa ancaman eksternal kerap memperkuat solidaritas internal Iran. Tekanan yang dimaksudkan untuk melemahkan justru sering berujung sebaliknya: mengonsolidasikan ketahanan nasional. 

Pemikiran Ali Syariati dalam On the Sociology of Islam membantu membaca pola ini. Baginya, sejarah bergerak spiral—berulang, tetapi dengan kesadaran yang berbeda. Tekanan hari ini mungkin serupa dengan masa lalu, tetapi dihadapi dengan pengalaman yang lebih matang.

Ketahanan sosial dan kesabaran panjang

Jika perundingan gagal dan perang pecah, Amerika Serikat jelas unggul secara konvensional. Namun Iran memiliki pengalaman panjang dalam konflik asimetris, ketahanan sosial, serta kesabaran yang sulit diukur oleh logika militer modern. Sejarah menunjukkan bangsa ini tidak pernah sepenuhnya menggantungkan nasib pada meja perundingan, melainkan bertahan melalui ingatan kolektif dan kebiasaan sehari-hari.

Dari Shiraz yang menyimpan bayang-bayang Persepolis hingga lapangan terbuka di Isfahan tempat seniman bernyanyi di malam hari, kehidupan tetap berdenyut dengan ritmenya sendiri. Di situlah letak kekuatan Iran yang jarang terbaca: bukan pada kemampuan menantang dunia secara riuh, melainkan pada kesanggupan bergerak seperti air yang perlahan membentuk batu—tenang, sabar, namun meninggalkan jejak abadi.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Rommy Fibri Hardiyanto
Mahasiswa Doktoral Ilmu Komunikasi UGM, Ketua Lembaga Sensor Film 2020-2024

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.