Sepanjang 2026, permintaan timah global diperkirakan bergerak lebih cepat ketimbang pasokannya sehingga menyebabkan volatilitas harga. Produksi timah olahan global diperkirakan tumbuh 3%, sementara permintaan diproyeksi naik 3,5% (Coface for Trade, 2026).
Dari sisi pasokan, struktur produksi timah dunia masih sangat terkonsentrasi di sejumlah negara utama, seperti Cina, Indonesia, Peru, Kongo, dan Myanmar. Cina masih menjadi penopang utama, dengan produksi timah olahan yang diperkirakan tumbuh sebesar 5%.
Sementara Indonesia diperkirakan dapat meningkatkan produksi sebesar 13% menjadi 60.000 ton. PT Timah akan menjadi pemasok utama yang menargetkan produksi sebesar 30.000 ton atau naik 40% dibandingkan RKAP 2025 sebesar 21.500 ton.
Adapun kontribusi pertumbuhan dari negara produsen lainnya relatif terbatas. Peru misalnya, meskipun cenderung stabil tetapi produksinya belum cukup besar untuk menjadi penyokong pertumbuhan pasokan global. Sementara, Myanmar dan Kongo masih dibayangi ketidakpastian operasional dan risiko keamanan, yang berpotensi membatasi peningkatan produksi.
Dari sisi permintaan, konsumen utama timah dunia masih didominasi kawasan Asia, khususnya Cina dan negara-negara dengan basis manufaktur elektronik yang kuat. Secara sektoral, lebih dari separuh permintaan timah global (sekitar 53%) berasal dari aplikasi solder, terutama untuk industri elektronik, peralatan industri, dan fotovoltaik.
Penggunaan timah lainnya mencakup bahan kimia timah (sekitar 16%), tinplate untuk kemasan (sekitar 13%), paduan tembaga–timah (sekitar 5%), serta berbagai aplikasi lain dengan porsi sekitar 7%.
Pada 2025, pasar timah global telah didorong oleh permintaan tinggi dari sektor elektronik, semikonduktor, dan kendaraan listrik (EV). Permintaan aplikasi solder menyumbang lebih dari 48% total konsumsi pada tahun lalu. Tren ini diperkirakan berlanjut pada 2026, bahkan dengan intensitas yang lebih tinggi.
Potensi Disrupsi Pasokan-Permintaan
Dinamika pasar timah global pada 2026 dibentuk tidak hanya oleh keseimbangan pasokan-permintaan, tetapi juga oleh faktor struktural dan geopolitik di negara-negara kunci. Faktor-faktor ini berpotensi mempengaruhi stabilitas pasokan maupun arah permintaan.
Dalam konteks tersebut, Indonesia memainkan peran penting, terutama melalui arah kebijakan domestik di sektor pertambangan yang berpotensi memiliki implikasi langsung terhadap pasokan timah global.
Melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2025, pemerintah menetapkan kerangka kebijakan baru yang bertujuan memperkuat tata kelola industri pertambangan sekaligus menyeimbangkan kepentingan badan usaha dan penerimaan negara. Kebijakan ini mencakup penerapan skema royalti progresif untuk komoditas timah dengan tarif 3% hingga 10%, yang disesuaikan dengan pergerakan harga timah, dan mulai berlaku pada April 2026.
Dari perspektif pasar, kebijakan tersebut dilihat dapat memperkuat basis fiskal negara dan meningkatkan disiplin tata kelola sektor timah. Namun, pada saat yang sama, peningkatan beban biaya bagi pelaku usaha berpotensi mempengaruhi keputusan produksi serta kecepatan ekspansi pasokan dalam jangka pendek.
Implikasinya, rencana peningkatan produksi nasional memiliki tingkat ketidakpastian yang lebih tinggi yang pada akhirnya dapat menambah tekanan pasokan timah global di tengah kondisi pasar yang sudah relatif ketat.
Risiko disrupsi pasokan juga berasal dari Myanmar dan Kongo. Di Myanmar, penutupan dan pembatasan operasi tambang Man Maw sejak 2023 telah memangkas produksi bijih timah secara signifikan, diperkirakan turun lebih dari 50% dari kapasitas historisnya. Dampaknya, ekspor ke Cina mengalami penurunan, bahkan dilaporkan hingga lebih dari 70% secara tahunan (Crux Investor, 2025).
Sementara itu, di Kongo, risiko keamanan dan konflik di wilayah tambang seperti North Kivu, termasuk gangguan di tambang Bisie yang menyumbang sekitar 6% produksi timah global, membuat pasokan tidak stabil dan meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap terbatasnya pasokan timah dunia.
Dari sisi permintaan, risiko instabilitas pasar dan volatilitas harga timah terutama datang dari dinamika hubungan dagang dan geopolitik antara Cina dan Amerika Serikat. Potensi kebijakan tarif, pembatasan perdagangan, serta upaya diversifikasi rantai pasok mineral strategis berpotensi mempengaruhi kinerja sektor manufaktur global, khususnya elektronik dan semikonduktor sebagai konsumen utama timah.
Prospek Pasar dan Harga Timah Jangka Pendek
Mencermati kondisi pasar yang relatif ketat, khususnya dari sisi pasokan, pergerakan harga timah dalam jangka pendek berpotensi cenderung lebih sensitif. Gangguan produksi, perubahan kebijakan, maupun eskalasi risiko geopolitik di negara-negara produsen utama, berpotensi langsung dapat langsung mempengaruhi pergerakan harga secara signifikan.
Berdasarkan data Bank Dunia (2026), rata-rata harga tahunan timah menunjukkan tren kenaikan dalam beberapa tahun terakhir. Harga timah tercatat naik US$25.938 per ton pada 2023 menjadi US$34.059 per ton pada 2025.
Dengan mempertimbangkan kondisi pasokan yang masih ketat—sensitivitas harga yang relatif tinggi, serta rata-rata kenaikan harga sebesar 14,6% dalam dua tahun terakhir—pergerakan harga timah dalam jangka pendek diperkirakan berada pada kisaran US$40.000-US$45.000 per ton.
Namun, harga timah tetap berpotensi bergerak di luar rentang tersebut—bahkan berpotensi lebih tinggi—mengingat sensitivitas pasar terhadap berbagai perkembangan yang mempengaruhi stabilitas pasokan, kebijakan, dan sentimen global sepanjang 2026 pada dasarnya cukup tinggi.
Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.