Ketika nilai tukar rupiah melemah, layar ponsel seolah berubah menjadi papan skor: semakin besar angkanya, semakin terasa Indonesia lemah. Reaksi itu manusiawi. Kurs memengaruhi harga bahan baku, biaya perjalanan, cicilan valuta asing, bahkan suasana psikologis pasar.
Namun, mata uang bukanlah kesebelasan yang harus selalu menang. Rupiah yang terlalu kuat belum tentu menyehatkan ekonomi, sebagaimana rupiah yang melemah tidak otomatis menandakan krisis. Ukuran yang lebih penting adalah apakah rupiah masih dipercaya untuk menyimpan daya beli, menyelesaikan transaksi, dan menjadi dasar perencanaan jangka panjang.
Nilai Tukar Perkasa Menjadi Ilusi Mahal
Teori impossible trinity dalam ekonomi internasional menjelaskan bahwa negara tidak dapat sekaligus mempertahankan kurs tetap, membebaskan arus modal, dan menjalankan kebijakan moneter independen. Selalu ada pilihan dan biaya.
Mengejar angka kurs tertentu dapat memaksa suku bunga dipertahankan tinggi atau cadangan devisa terus digunakan. Rezim kurs yang fleksibel umumnya memberikan ruang lebih besar bagi kebijakan moneter untuk merespons kondisi domestik.
Rupiah yang menguat karena produktivitas dan ekspor tentu patut disambut baik. Yang berbahaya adalah ketika keperkasaan kurs dipaksakan dengan suku bunga tinggi, pengurasan cadangan devisa, dan pengorbanan pertumbuhan yang terlalu mahal.
Di sinilah muncul efek lanjutan yang jarang dibicarakan. Rupiah yang tampak perkasa dapat dibayar dengan kredit lebih mahal, investasi yang tertunda, dan penciptaan lapangan kerja yang melambat. Tagihan yang semula ingin dihindarkan dari importir akhirnya berpindah kepada debitur domestik. Kurs semacam ini dapat berubah menjadi “pajak stabilisasi” yang dibayar sektor riil.
Sebaliknya, kurs yang fleksibel dapat menjadi peredam guncangan. Ketika harga komoditas, suku bunga global, atau risiko geopolitik berubah, sebagian tekanan diserap oleh nilai tukar sehingga seluruh penyesuaian tidak harus ditanggung oleh pertumbuhan dan lapangan kerja.
Kajian dari Bank for International Settlements (BIS) menunjukkan bahwa fleksibilitas nilai tukar berperan penting dalam meredam volatilitas output di negara berkembang.
Dividen Kepercayaan Rupiah
Manfaat dari rezim nilai tukar yang fleksibel tetapi kredibel dapat disebut sebagai dividen kepercayaan. Dividen ini muncul ketika masyarakat dan pelaku usaha percaya bahwa daya beli akan dijaga, pasar valuta asing tetap berfungsi, dan kebijakan tidak berubah arah secara mendadak. Kepercayaan dapat mencegah setiap guncangan berubah menjadi krisis.
Data terkini perlu dibaca. Inflasi Juni 2026 tercatat 3,34%, masih berada dalam kisaran sasaran 2,5±1%. BI-Rate berada pada 5,75%, sedangkan cadangan devisa akhir Juni mencapai US$145,6 miliar atau setara dengan 5,5 bulan impor. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa level kurs semata tidak cukup untuk mendiagnosis kesehatan rupiah.
Dividen kepercayaan juga bekerja melalui efek jaringan. Ketika semakin banyak perdagangan, investasi, dan pembayaran lintas negara diselesaikan dengan mata uang lokal, kebutuhan struktural terhadap dolar berkurang. Nilai transaksi Local Currency Transaction (LCT) Indonesia pada akhir 2025 mencapai US$25,72 miliar, sekitar dua kali lipat dibandingkan 2024.
Semakin sering rupiah digunakan, pasar menjadi lebih dalam. Semakin dalam pasar, biaya transaksi dan lindung nilai berpotensi turun. Ketika biaya tersebut menurun, semakin menarik pula rupiah digunakan kembali. Inilah roda penguat kepercayaan yang lebih penting daripada apresiasi sesaat.
Tentu, gagasan ini tidak boleh menjadi pembenaran bagi pelemahan tanpa batas. Indonesia masih mengimpor energi, pangan, bahan baku, dan barang modal. Depresiasi tajam dapat menaikkan biaya produksi sekaligus memperbesar beban perusahaan yang berutang dalam valuta asing.
Oleh karena itu, kepercayaan harus diuji melalui dua pintu: apakah inflasi dan ekspektasinya tetap terkendali, serta apakah neraca sektor swasta cukup terlindungi.
Pelajaran dari Chili dan Singapura
Chilimenunjukkan bahwa menjaga nilai mata uang tidak identik dengan mempertahankan satu angka kurs. Bank sentralnya memadukan target inflasi sekitar 3% dengan kurs mengambang.
Intervensi valuta asing tetap dimungkinkan dalam keadaan luar biasa, tetapi bukan untuk menetapkan level peso tertentu. Jangkar kepercayaan ditempatkan pada inflasi, konsistensi kebijakan, dan komunikasi yang transparan.
Singapura mengambil jalur berbeda. Otoritas Moneternya mengelola dolar Singapura terhadap sekeranjang mata uang mitra dagang dalam suatu koridor, bukan menjadikan kurs terhadap dolar AS sebagai simbol keberhasilan. Tujuan utamanya tetap stabilitas harga dalam jangka menengah.
Kedua negara menggunakan rezim berbeda, tetapi memiliki kesamaan penting: publik memahami apa yang dijaga, instrumen apa yang digunakan, dan dalam kondisi apa kebijakan dapat berubah.
Bagi Indonesia, pelajarannya adalah membangun rezim yang dapat diprediksi. Intervensi diperlukan untuk meredam volatilitas berlebihan. Kenaikan suku bunga juga harus ditimbang bersama dampaknya terhadap kredit, investasi, dan pertumbuhan. Indonesia perlu membangun kredibilitas melalui kombinasi fleksibilitas, stabilisasi, dan pendalaman pasar.
Bank Sentral Tidak Bisa Sendirian
Rupiah yang dipercaya membutuhkan lebih dari kebijakan moneter. Pemerintah perlu menjaga kredibilitas fiskal, mengurangi ketergantungan pada impor strategis, memperbesar ekspor bernilai tambah, serta memastikan regulasi tidak mengejutkan pasar. Dunia usaha perlu memperkuat lindung nilai. Pasar keuangan harus diperdalam agar pembiayaan jangka panjang semakin banyak tersedia dalam rupiah.
Kepercayaan terhadap rupiah perlu melewati tiga ujian. Ujian pertama adalah daya beli: apakah depresiasi menular secara berlebihan ke inflasi dan ekspektasi harga. Ujian berikutnya adalah kedalaman pasar: apakah kebutuhan valuta asing dapat dipenuhi tanpa lonjakan volatilitas dan biaya lindung nilai.
Terakhir, ujian penggunaan: apakah rupiah dan transaksi mata uang lokal semakin banyak dipakai dalam perdagangan, pembiayaan, dan pembayaran.
Sasaran yang lebih sehat adalah rupiah yang bergerak sesuai fundamental, likuid saat diperdagangkan, rendah daya tularnya terhadap inflasi, dan luas penggunaannya dalam ekonomi. Mata uang boleh berfluktuasi; yang tidak boleh adalah kehilangan fungsi.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting hari ini: apakah kita hanya ingin rupiah tampak perkasa, atau ingin rupiah tetap dipercaya untuk menjaga masa depan ekonomi Indonesia?
Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.