Kemajuan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) berlangsung sangat cepat. Kemampuannya pun semakin menyerupai berbagai aktivitas yang selama ini identik dengan manusia. AI kini dapat menulis, menerjemahkan bahasa, menghasilkan gambar, hingga membantu proses pengambilan keputusan dengan menganalisis jutaan data hanya dalam waktu singkat. Di tengah perkembangan tersebut, perhatian publik banyak tertuju pada satu pertanyaan: pekerjaan apa saja yang suatu hari nanti akan digantikan oleh AI?
Namun, ada pertanyaan lain yang menurut saya jauh lebih penting untuk diajukan, yakni: apa yang sesungguhnya tidak dapat digantikan oleh AI?
Pertanyaan ini menjadi semakin relevan seiring meluasnya pemanfaatan AI dalam berbagai aspek kehidupan. Meskipun kemampuannya terus berkembang, AI masih menghadapi keterbatasan ketika berhadapan dengan realitas sosial dan budaya. Dalam artikel “AI learns language from skewed sources. That could change how we humans speak – and think” yang dimuat The Guardian pada 14 April 2026, Ada Palmer dan Bruce Schneier menjelaskan bahwa model bahasa AI mempelajari pola dari kumpulan teks, bukan dari pengalaman hidup sebagai bagian dari masyarakat.
Karena itulah, AI mampu menghasilkan bahasa yang terdengar sangat alami, tetapi belum sepenuhnya memahami nilai, pengalaman, dan konteks sosial yang memberikan makna pada bahasa tersebut. Mereka juga mengingatkan bahwa semakin sering manusia berinteraksi dengan AI, semakin besar pula kemungkinan cara kita berbicara, bahkan cara kita memaknai dunia, dipengaruhi oleh pola bahasa yang dibentuk oleh mesin.
Belajar dari Masyarakat Kerinci
Pada awal Juli, saya menghadiri Kenduri Sko 6 Luhah Sungai Penuh, tradisi adat masyarakat Kerinci yang menjadi ruang ungkapan syukur, musyawarah, pengukuhan gelar adat, sekaligus pewarisan nilai antargenerasi. Di sana saya tidak hanya menyaksikan sebuah upacara adat, tetapi melihat bagaimana sebuah masyarakat membangun kehidupan bersama melalui praktik-praktik sosial yang terus diwariskan.
Tidak ada algoritma yang mengatur jalannya prosesi, tetapi setiap orang memahami perannya. Para Depati dan Ninik Mamak memimpin musyawarah, kaum perempuan bergotong royong menyiapkan hidangan, para perantau pulang ke kampung halaman, sementara anak-anak belajar dari para tetua. Yang berlangsung bukan sekadar ritual, melainkan ruang sosial tempat kepercayaan, tanggung jawab, dan rasa memiliki terus dipelihara. Melalui musyawarah, penghormatan kepada leluhur, pembacaan silsilah keluarga, dan pengukuhan gelar adat, masyarakat tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga memperkuat ikatan antargenerasi.
Pengalaman itu menyadarkan saya bahwa ada sesuatu yang hingga kini belum mampu dilakukan AI. Mesin dapat mengolah data dalam jumlah nyaris tak terbatas, tetapi tidak mampu menghadirkan pengalaman hidup bersama yang melahirkan kepercayaan. AI dapat menjelaskan makna gotong royong atau musyawarah, tetapi tidak dapat menghadirkan pengalaman menjadi bagian dari praktik-praktik tersebut.
Kekuatan AI bertumpu pada kemampuannya mengolah data dalam skala besar. Pendekatan ini sangat efektif dalam dunia komputasi, tetapi kehidupan sosial manusia tidak hanya dibangun oleh informasi. Teknologi selalu hadir di tengah masyarakat yang memiliki sejarah, nilai, kebiasaan, dan cara pandang tertentu. Karena itu, secanggih apa pun algoritma, ia tetap dapat gagal ketika tidak memahami konteks sosial tempat ia diterapkan.
Di sinilah letak perbedaan antara informasi dan kehidupan sosial. Informasi dapat dikumpulkan dan dianalisis oleh mesin, sedangkan kepercayaan, solidaritas, dan rasa memiliki tumbuh melalui pengalaman hidup bersama. Tidak semua realitas manusia dapat diterjemahkan menjadi data; banyak nilai yang justru lahir dari interaksi sosial yang mengajarkan manusia untuk saling percaya.
Kenduri Sko menunjukkan bahwa yang membuat sebuah masyarakat Kerinci bertahan bukan hanya kemampuannya menyimpan pengetahuan, tetapi juga mewariskan cara hidup. Nilai-nilai tidak sekadar dipahami, melainkan terus dihidupkan melalui musyawarah, gotong royong, pembacaan silsilah keluarga, dan keterlibatan setiap generasi dalam prosesi adat. Dengan cara itulah identitas dan kepercayaan terus diperbarui.
Maurice Halbwachs menyebut proses ini sebagai memori kolektif. Menurutnya, identitas masyarakat bertahan bukan hanya melalui arsip atau catatan sejarah, tetapi melalui pengalaman yang terus dihidupkan bersama. Tradisi bukan sekadar mengingat masa lalu, melainkan menghadirkan kembali nilai-nilai yang menjadi dasar kehidupan bersama.
Pandangan ini sejalan dengan Yuval Noah Harari dalam Nexus: A Brief History of Information Networks from the Stone Age to AI (2024). Harari menjelaskan bahwa kemampuan manusia membangun masyarakat berskala besar tidak hanya bergantung pada informasi, tetapi juga pada jaringan kepercayaan yang lahir dari cerita, norma, dan institusi yang diyakini bersama.
Kenduri Sko memperlihatkan bagaimana jaringan kepercayaan itu terus diperbarui melalui praktik sosial lintas generasi. Tradisi serupa juga hidup di berbagai daerah di Indonesia dengan bentuk yang berbeda, tetapi fungsi yang sama: memastikan setiap generasi tidak hanya mewarisi pengetahuan, tetapi juga kemampuan untuk hidup bersama.
Merawat Ruang Sosial di Era AI
Di tengah pesatnya perkembangan AI, tantangan kita bukan hanya menciptakan teknologi yang semakin cerdas, tetapi juga menjaga ruang-ruang sosial tempat manusia belajar hidup bersama. Keluarga, sekolah, komunitas, dan tradisi lokal merupakan tempat tumbuhnya kepercayaan, kerja sama, dan tanggung jawab. AI mungkin dapat mempercepat pekerjaan, tetapi tidak mampu menggantikan proses panjang yang membentuk karakter sosial manusia.
Peraih Nobel Ekonomi Elinor Ostrom menjelaskan bahwa masyarakat mampu mengelola kehidupan bersama bukan terutama karena aturan atau teknologi, melainkan karena kepercayaan, norma bersama, dan kerja sama yang terus dipelihara. Melalui penelitiannya tentang pengelolaan sumber daya bersama (commons), Ostrom memperlihatkan bahwa masyarakat yang saling percaya justru lebih mampu membangun tata kelola yang bertahan dalam jangka panjang.
Pelajaran ini semakin relevan di era AI. Semakin canggih mesin mengolah informasi, semakin penting pula ruang bagi manusia untuk bertemu, berdialog, dan mengalami kehidupan bersama. Informasi dapat diproduksi dalam hitungan detik, tetapi kepercayaan tumbuh melalui waktu dan keterlibatan.
Itulah yang hingga kini belum dapat digantikan oleh AI. Bukan sekadar tradisi atau pengetahuan, melainkan proses sosial yang menumbuhkan kepercayaan, solidaritas, dan rasa memiliki. Karena itu, di tengah perlombaan mengembangkan AI, kita juga perlu merawat ruang-ruang yang membentuk kehidupan bersama. Sebab, ketika informasi semakin melimpah, kepercayaan tetap menjadi fondasi masyarakat sekaligus teknologi sosial paling berharga yang dimiliki manusia.
Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.