Tak Mau Jadi Pasar, Indonesia Mulai Merajut Rantai Infrastruktur AI
Indonesia mulai memperluas pijakannya dalam rantai industri kecerdasan buatan atau AI. Investasi mulai merambah AI Factory, GPU, jaringan fiber, kabel bawah laut hingga pengembangan model AI. Namun, bukan otomatis semakin besar nilai ekonomi yang ditangkap Indonesia.
AI membuat peta persaingan investasi berubah. Jika sebelumnya ketersediaan tenaga kerja dan upah relatif murah menjadi salah satu daya tarik Indonesia, kini investor semakin mempertimbangkan infrastruktur komputasi, energi, data, konektivitas hingga talenta digital.
"Upah buruh murah itu sudah tidak menjadi satu alasan saja karena sekarang AI berkembang," kata Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan saat menghadiri The 13th International Conference On ICT For Smart Society & AI Indonesia Initiative Forum 2026 pekan lalu.
Menurut Luhut, perkembangan AI menjadi salah satu faktor penting yang harus diperhitungkan dalam kebijakan ekonomi, terutama di tengah perubahan kebijakan ekspor produk terkait AI antara Amerika Serikat dan Cina.
Luhut menyebut Indonesia tidak harus menguasai seluruh rantai AI, melainkan memilih bagian yang memiliki keunggulan dan nilai ekonomi paling besar. "Nggak mungkin kita semua masuk dan kuat. Di cip, kita akan susah," Luhut menambahkan.
Menurut dia, Indonesia memiliki peluang pada sejumlah lapisan ekosistem AI, salah satunya pusat data yang ditopang energi terbarukan. Luhut mencontohkan potensi pembangkit listrik tenaga air atau PLTA di Kalimantan Utara yang mencapai sekitar 8 gigawatt (GW).
Perkembangan investasi di Indonesia menunjukkan rantai tersebut mulai meluas. Pusat data tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan dan pemrosesan data, tetapi disiapkan untuk menangani kebutuhan komputasi dengan kepadatan jauh lebih tinggi, termasuk penggunaan GPU, jaringan berkecepatan tinggi dan sistem pendinginan untuk beban kerja AI.
Dari Data Center ke AI Factory
Salah satu lapisan yang berkembang yakni data center AI-ready. ST Telemedia Global Data Centres (STT GDC) misalnya, menyiapkan lebih dari 360 megawatt (MW) kapasitas IT AI-ready di kampus data center Jakarta.
PT DCI Indonesia Tbk (DCII) juga mengembangkan pusat data yang mendukung kebutuhan AI, cloud dan komputasi berdensitas tinggi. Sementara Telkom melalui NeutraDC memperluas data center di Cikarang secara bertahap hingga 200 MW untuk menangkap pertumbuhan kebutuhan cloud, AI dan ekonomi digital.
Rantai tersebut kemudian bergerak dari data center menuju AI Factory. Data center AI-ready merupakan fondasi infrastruktur, sementara AI Factory dirancang untuk menyediakan kapasitas komputasi AI dalam skala besar.
Lalu, Indosat Ooredoo Hutchison bersama Ooredoo Group, Nokia dan NVIDIA meluncurkan Zankore by Indosat. AI Factory ini ditargetkan memiliki kapasitas 1 GW dalam tiga tahun, dengan tahap awal sekitar 200 MW yang ditargetkan mulai dibangun pada semester pertama 2027.
CoreWeave juga mengumumkan ekspansi ke Indonesia, data center pertamanya di Asia Pasifik. Perusahaan AI cloud asal Amerika Serikat ini akan membangun tiga fasilitas dengan total 360 MW daya terkontrak, dan ditargetkan beroperasi pada 2028.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa peluang AI tidak berhenti pada pembangunan gedung data center. Kebutuhan komputasi AI mendorong masuknya fasilitas dengan kapasitas listrik besar dan kepadatan komputasi tinggi.
Rantai AI Indonesia Mulai Memanjang
Ekosistem itu juga membutuhkan lapisan konektivitas dan perangkat keras. PT Infra Fiber Teknologi (IFT), perusahaan infrastruktur digital hasil kolaborasi Arsari Group dan Indosat Ooredoo Hutchison, mengembangkan RAIA Grid.
Platform itu menggabungkan lebih dari 86.000 kilometer jaringan fiber dengan machine learning, AI dan Agentic AI, sekaligus mencakup perakitan GPU, manufaktur komponen semikonduktor hingga kabel bawah laut.
Kebutuhan jaringan juga menjadi bagian penting dari ekosistem tersebut. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyiapkan empat landing station kabel laut di Jakarta, Nusa Tenggara Timur (NTT), Manado dan Jayapura yang didukung lebih dari 100 titik hub.
Perkembangan ekosistem AI Indonesia juga sudah menyentuh lapisan model bahasa besar alias large language model (LLM), yakni Sahabat-AI yang digagas Indosat dan GoTo dengan dukungan teknologi NVIDIA.
Dengan demikian, pembangunan ekosistem AI Indonesia mulai meluas dari data center dan AI Factory ke komputasi, GPU dan konektivitas
Peluang ekonominya pun tidak hanya berada di ujung rantai berupa aplikasi dan model AI, tetapi juga pada berbagai infrastruktur yang memungkinkan teknologi tersebut bekerja.
Indonesia Punya Modal tetapi Harus Naik Kelas
Namun, rantai AI tidak hanya dimulai dari pusat data dan GPU. Peluang juga terbuka di bagian hulu, termasuk material yang dibutuhkan industri semikonduktor.
“Untuk membuat semikonduktor dibutuhkan pasir silika. Ada 340 juta ton kurang lebih cadangan pasir silika di Indonesia,” ujar Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Nezar Patria.
Ia menegaskan keberhasilan Indonesia dalam memanfaatkan perkembangan AI tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengadopsi teknologi, tetapi juga oleh kesiapan membangun ekosistem secara menyeluruh. “Masa depan AI sedang ditulis di Asia, dan Indonesia punya peran penting dalam narasi ini," katanya.
Namun Head of Research Analis Korea Investment Sekuritas Indonesia Muhammad Wafi mengatakan, naiknya permintaan silika tidak otomatis berbanding lurus dengan pertumbuhan industri AI. Sebab, nilai tambah terbesar justru berada pada proses pemurnian dan wafer fabrication, bukan ekstraksi pasir mentah.
Nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai US$99 miliar atau sekitar Rp1.770,3 triliun pada 2025 berdasarkan laporan e-Conomy SEA 2025 dari Google, Temasek dan Bain. Angka ini belum memasukkan AI.
Jika Indonesia hanya berperan sebagai pemasok pasir silika mentah, bagian nilai yang dapat ditangkap dari pertumbuhan industri AI global relatif kecil. “Booming AI bikin demand baru untuk silika, tetapi translation-nya tidak proporsional 1:1,” kata Wafi kepada Katadata.co.id, dua pekan lalu (14/8).
Menurut Ketua Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) Hendra Suryakusuma, perusahaan silika Indonesia perlu bergerak dari resource company menjadi technology material company.
Caranya, melalui investasi teknologi, peningkatan kualitas pemrosesan, R&D, strategic partnership dengan pemain global serta kemampuan memenuhi standar dan konsistensi kualitas industri semikonduktor.
“Kalau itu berhasil dilakukan, Indonesia tidak hanya memiliki resources, tetapi bisa mulai mengambil bagian dari value chain yang nilainya jauh lebih tinggi,” katanya kepada Katadata.co.id.
Dengan demikian, rantai pasok yang dibutuhkan tidak berhenti pada pasir silika dan ekspor, melainkan sebagai berikut:
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta juga menyampaikan, industri semikonduktor membutuhkan material dengan tingkat kemurnian sangat tinggi dan spesifikasi impuritas yang ketat. Untuk mencapainya dibutuhkan teknologi pemurnian, fasilitas pengolahan, quality control, sertifikasi, investasi modal serta perjanjian pembelian dengan pengguna industri.
Toto Sugiri: Infrastruktur AI Indonesia Masih Punya PR
Di tengah peluang tersebut, CEO DCI Indonesia Otto Toto Sugiri melihat Indonesia memiliki peluang besar menjadi pusat AI dan data center di Asia Tenggara. Namun, masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Menurut Toto, tantangannya mencakup infrastruktur, sumber daya manusia, investasi dan kemudahan berbisnis. "Kita harus mencari cara untuk memungkinkan AI berkembang dan menciptakan nilai ekonomi yang lebih besar bagi negara agar semakin kompetitif,” katanya dalam sesi diskusi di acara BATIC 2026 di Nusa Dua, Bali, Kamis (27/8).
Dari sisi daya saing data center, kata dia, Indonesia memiliki modal berupa pasar digital yang besar dan potensi energi terbarukan. Namun, Toto menilai Indonesia kalah gesit dibandingkan sejumlah negara tetangga dalam menarik investasi.
Ia menyoroti persoalan ease of doing business dan program investasi yang transparan. Proses pengajuan insentif, misalnya, dinilai dapat menjadi hambatan bagi investor yang ingin membangun data center dalam skala besar.
Toto juga menekankan pentingnya kesiapan pasokan listrik dan air untuk pengembangan data center.
Selain itu, laporan East Ventures – Digital Competitiveness Index (EV-DCI) 2026 juga menunjukkan SDM menjadi satu-satunya komponen yang mengalami penurunan tahun ini, yakni 2,5 poin. Temuan ini menunjukkan pembangunan infrastruktur digital belum diimbangi oleh kesiapan talenta yang mampu memanfaatkan teknologi secara optimal.
Padahal AI berpotensi meningkatkan produk domestik bruto (PDB) Indonesia hingga 12% alias sekitar US$ 366 miliar atau Rp 6.612 triliun apabila didukung oleh SDM yang mampu mengembangkan dan memanfaatkan akal imitasi.
Indonesia memang mulai mengisi berbagai lapisan rantai AI, dari energi dan data center hingga GPU, konektivitas dan model. Namun, semakin panjang rantai yang dibangun, semakin besar pula pekerjaan rumah untuk memastikan nilai tambahnya tidak berhenti di satu-dua lapisan saja. Sebab, dalam era AI, memenangkan investasi bukan lagi sekadar soal menawarkan tenaga kerja murah, tetapi kemampuan menyediakan ekosistem yang membuat investor bisa membangun, menjalankan dan mengembangkan bisnisnya di Indonesia.