Misi Grab Indonesia untuk Menciptakan Peluang Ekonomi lewat Digitalisasi
Terkait dengan teknologi, selain pemanfaatannya juga pasti ada tanggung jawabnya. Bagaimana perusahaan menyeimbangkan antara transparansi, terutama persoalan data pribadi, dengan otomatisasi dan juga kebutuhan operasional perusahaan, agar sama-sama win-win solution?
Ada beberapa prinsip dasar yang menjadi guardrail dan perhatian utama kami. Salah satunya adalah perlindungan data pribadi.
Di Grab, perlindungan data pribadi merupakan landasan dalam setiap pengembangan yang dilakukan, termasuk ketika data digunakan untuk mendukung kebutuhan bisnis. Artinya, inovasi tetap dilakukan dengan mematuhi regulasi dan policy yang berlaku, termasuk kebijakan terkait perlindungan data pribadi.
Untuk memperkuat penerapan prinsip tersebut, seluruh data privacy officer kami telah memiliki international certification. Selain itu, kami juga menerapkan ISO/IEC 27701:2019 dan telah memperoleh sertifikasinya.
Dengan adanya prinsip dan standar tersebut, ada hal-hal yang tidak boleh dilanggar. Jadi, apakah ini soal menyeimbangkan berbagai kepentingan? Sebenarnya, bukan begitu. Perlindungan data pribadi merupakan requirement utama yang tidak dapat dikompromikan.
Di luar prinsip tersebut, kami dapat terus mengembangkan berbagai inovasi dan melakukan berbagai hal (do anything and everything) dengan tetap memahami batasan serta tanggung jawab yang ada. Namun, perlindungan data pribadi adalah prinsip fundamental yang tidak dapat ditawar.
CEO Grab Indonesia Neneng Goenadi usai wawancara dengan Katadata, di Jakarta, Selasa (29/9/2026). (Katadata/Fauza Syahputra)
Anda sempat menyebutkan soal UMKM dan pemanfaatan AI-nya via AI Merchant Assistant. Apakah ini bentuk pendampingan dari Grab untuk UMKM agar lebih berdaya? Apakah ada program lainnya? Dan apa matriks keberhasilannya?
Salah satunya adalah GrabAcademy, yaitu modul-modul edukasi yang kami berikan kepada Mitra Merchant. Selain itu, kami juga memiliki komunitas seperti Teras Perwira dan SERABI. Kami membangun komunitas-komunitas tersebut agar para merchant dapat saling belajar dan berbagi pengalaman. Pada saat yang sama, kami memperkenalkan fitur-fitur baru serta membantu mereka memahami bagaimana fitur tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendukung usaha.
Kami sekaligus mendengarkan masukan dari para merchant mengenai kebutuhan mereka terhadap Grab sebagai platform. Jadi, ada banyak hal yang kami lakukan untuk mendukung para mitra, baik melalui edukasi, komunitas, maupun pengembangan fitur.
Di GrabFood, kami juga memiliki fitur Bintang Lima. Apakah setiap merchant dapat menjadi Bintang Lima? Jawabannya bisa, asalkan memenuhi kriteria yang ditetapkan, termasuk memperoleh jumlah ulasan positif yang sangat tinggi. Selain itu, kecepatan pelayanan juga menjadi salah satu faktor penting. Para merchant terdorong untuk meningkatkan kualitas layanan, mulai dari rasa makanan, variasi menu, hingga kecepatan dalam melayani pesanan.
Menurut saya, ini merupakan salah satu cara kami memberikan motivasi agar para merchant dapat terus berkembang dan mencapai tujuan yang ingin mereka capai.
Untuk sisi driver, Grab juga mengembangkan Driver AI Assistant, Ride Guide, dan AI-assisted voice reporting. Apa sebenarnya tujuan besar dari fitur-fitur itu?
Hal yang paling penting bagi kami dalam layanan mobilitas adalah keselamatan penumpang dan Mitra Pengemudi. Safety is our number one priority dan merupakan salah satu standar kualitas kami.
Contohnya adalah fitur AudioProtect. Dalam perjalanan, terkadang dapat muncul perbedaan keterangan antara penumpang dan Mitra Pengemudi mengenai suatu kejadian, termasuk dalam laporan terkait pelecehan seksual. Sebelum ada fitur ini, situasi tersebut dapat sulit ditindaklanjuti karena masing-masing pihak memiliki versi yang berbeda.
Dengan adanya AudioProtect, kami dapat membantu memperjelas situasi apabila terjadi perselisihan. Rekaman tersebut hanya akan diakses apabila terdapat laporan atau perselisihan yang perlu ditindaklanjuti.
Kami juga memiliki fitur Face Recognition. Fitur ini digunakan untuk memastikan bahwa penumpang dijemput oleh Mitra Pengemudi yang terdaftar dan menggunakan kendaraan yang sesuai dengan informasi di aplikasi.
Mitra Pengemudi telah melalui proses verifikasi dan pemeriksaan yang berlaku. Dengan demikian, kami ingin memastikan penumpang merasa lebih aman dan nyaman selama menggunakan layanan Grab.
Kembali ke UMKM. Selain membutuhkan pendampingan teknologi, banyak UMKM juga membutuhkan akses pembiayaan. Sebelumnya, Ibu menyebutkan adanya pengembangan ekosistem Grab ke arah lending. Apakah inisiatif ini juga ditujukan untuk mendukung UMKM?
Ya, itu spot-on banget. Kami menyediakan pembiayaan bagi para mitra, baik Mitra Pengemudi maupun Mitra Merchant. Sebagian mitra masih menghadapi keterbatasan akses terhadap pinjaman. Melalui ekosistem Grab, kami dapat membantu mereka berdasarkan informasi mengenai aktivitas dan pendapatan mereka di platform.
Misalnya, untuk Mitra Pengemudi, kami dapat melihat pola pendapatan mereka setiap hari. Informasi tersebut membantu kami menentukan jumlah pembiayaan yang sesuai. Pembayarannya kemudian dapat dilakukan secara bertahap melalui pemotongan dari pendapatan harian, dengan tetap mempertimbangkan agar mitra dapat membawa pulang pendapatan yang memadai.
Pendekatan seperti ini sulit dilakukan oleh lembaga keuangan konvensional karena umumnya menggunakan penilaian bulanan dan memerlukan credit rating. Sebagian mitra mungkin belum memiliki riwayat kredit yang memadai. Dengan dukungan teknologi, kami dapat mengembangkan pendekatan yang lebih sesuai dengan aktivitas mereka.
Sejak diluncurkan pada 2023, GrabModal telah diakses oleh lebih dari 600.000 Mitra UMKM dan Mitra Pengemudi, dengan total pendanaan lebih dari Rp9 triliun. Bagi kami, yang penting bukan hanya membuka akses modal, tetapi memastikan pembiayaan tersebut digunakan secara produktif dan membantu Mitra tumbuh lebih sehat.
Banyak Mitra Merchant juga masih menghadapi keterbatasan akses terhadap layanan perbankan karena tidak memiliki collateral atau agunan. Produk pembiayaan yang kami sediakan tidak mensyaratkan agunan dan menggunakan informasi yang tersedia dari aktivitas pendapatan mereka di platform.
Misalnya, melalui penggunaan QRIS, kami dapat memperoleh gambaran mengenai transaksi yang diterima oleh merchant. Semua hal ini dimungkinkan oleh teknologi. Tanpa teknologi, pendekatan tersebut akan sulit dilakukan.
Salah satu program di Grab itu ada GrabAcademy. Dengan fungsi upskilling-nya, ini membantu pengembangan mitra. Bagaimana caranya memastikan program Mitra Naik Kelas itu memperluas pilihan dan peluang tanpa memberi bahwa profesi Mitra Pengemudi itu harus ditinggalkan?
Kami hanya menyediakan wadah dan kesempatan. Setiap orang memiliki pilihan dan tujuan yang berbeda.
Jika seseorang menyukai pekerjaannya sebagai Mitra Pengemudi roda dua dan ingin terus menjalankannya, itu adalah pilihan mereka. Jika mereka ingin mengembangkan diri dan beralih ke roda empat, kami juga menyediakan kesempatan tersebut.
Jika mereka ingin mengembangkan usaha sebagai merchant, misalnya karena memiliki anggota keluarga yang pandai memasak, kami juga dapat menyediakan wadahnya. Bagi mereka yang ingin melanjutkan pendidikan, kami menyediakan program beasiswa.
Sejak 2022, program beasiswa Grab telah memberikan manfaat kepada 5.700 penerima, baik untuk mitra maupun anak mereka, dengan total bantuan pendidikan senilai Rp25,8 miliar.
Selain itu, sebanyak 6.598 Mitra Pengemudi roda dua telah beralih ke roda empat. Berdasarkan data yang kami miliki, hampir 20.000 orang juga telah mengembangkan peluang mereka dari layanan mobility menjadi mitra di ekosistem Grab.
Oleh karena itu, bisa dibilang sebetulnya Grab berperan sebagai bantalan sosial, yaitu menjadi jembatan bagi orang-orang yang sedang membutuhkan peluang untuk memperoleh penghasilan, mengembangkan keterampilan, atau mencapai tujuan tertentu. Ada yang memanfaatkannya untuk sementara waktu, dan ada pula yang menjadikannya sebagai pilihan jangka panjang.
Pada akhirnya, setiap orang memiliki kebebasan untuk menentukan pilihannya. Kami tidak pernah memaksa. Kami hanya ingin menyediakan lebih banyak pilihan dan kesempatan.
Saya ingin beranjak dari teknologi AI ini ke teknologi lainnya; kendaraan listrik. Pemerataan infrastruktur EV masih jadi masalah umum di berbagai daerah, termasuk soal SPKLU. Bagaimana Grab menyiasati tantangan infrastruktur ini dalam penerapan adopsi kendaraan listrik?
Grab merupakan salah satu pionir layanan ride-hailing yang menggunakan kendaraan listrik di Indonesia. Kami telah mengembangkan penggunaan kendaraan listrik, baik untuk mobil maupun motor, sejak 2019. Saat itu, kami memulainya melalui penggunaan skuter listrik dan sepeda listrik untuk layanan GrabFood.
Per Mei 2026, armada kendaraan listrik Grab telah mencapai lebih dari 28.000 unit, atau meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Hingga akhir 2026, kami berkomitmen untuk terus meningkatkan jumlah armada kendaraan listrik hingga lebih dari tiga kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Mengapa kami mulai memikirkan hal ini sejak 2019? Karena hal tersebut sejalan dengan visi kami sebagai perusahaan yang menerapkan triple bottom line, yaitu menciptakan kinerja keuangan yang berkelanjutan sekaligus memberikan dampak sosial dan lingkungan yang positif. Karena itu, pengurangan emisi juga menjadi bagian dari target kami.
Kami juga melihat bahwa Grab dapat membantu pemerintah mencapai target pengurangan emisi. Karena itu, kami terus mendorong penggunaan kendaraan listrik.
Terkait stasiun pengisian daya, setiap kali membuka layanan kendaraan listrik di suatu kota, kami bekerja sama dengan penyedia kendaraan listrik. Salah satu requirement-nya adalah mereka juga perlu menyediakan jumlah stasiun pengisian daya yang memadai. Kalau tidak, operasional kendaraan listrik tentu akan sulit berjalan dan dapat menyulitkan Mitra Pengemudi.
Ketika Grab mengoperasikan armada kendaraan listrik di kota-kota seperti Yogyakarta, Medan, Bali, Semarang, Solo, Surabaya, dan Jakarta, kami memastikan tersedianya infrastruktur pendukung yang memadai sesuai dengan kebutuhan operasional di wilayah tersebut.
Dengan demikian, kami turut mendukung program peralihan dari kendaraan berbahan bakar fosil ke kendaraan listrik. Ke depan, kami ingin memperluas penggunaan kendaraan listrik sebanyak mungkin, dengan tetap mempertimbangkan kesiapan infrastruktur serta bekerja sama dengan pemerintah dan para penyedia kendaraan maupun infrastruktur pendukung.
Ke depannya, apa tantangan yang paling besar bagi Grab untuk mewujudkan visi dan misi di operasional sehari-hari maupun dalam beberapa dekade berikutnya?
Salah satu tantangan terbesar adalah memastikan regulasi dapat berjalan seiring dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat. Keselarasan tersebut penting agar inovasi dapat terus dikembangkan dan diterapkan dengan baik.
Tantangan berikutnya adalah kecepatan perkembangan teknologi. Kami perlu terus mengikuti perubahan, termasuk dari sisi biaya teknologi dan ketersediaan komponen seperti chip.
Selain itu, kami juga perlu membantu masyarakat beradaptasi dengan berbagai hal baru. Menurut saya, generasi yang lebih muda cenderung beradaptasi lebih cepat karena mereka tumbuh bersama teknologi digital, termasuk AI dan media sosial.
Namun, setiap orang memiliki proses adaptasi yang berbeda. Karena itu, tantangannya adalah bagaimana kami dapat menghadirkan inovasi dan cara berpikir baru dengan cukup cepat, sekaligus memastikan teknologi tersebut mudah dipahami dan relevan bagi masyarakat.
Pada akhirnya, kami terus berlomba dengan waktu untuk belajar, beradaptasi, dan menciptakan manfaat yang nyata.