Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Eddy Soeparno menegaskan bahwa ketahanan energi adalah mandat konstitusi dan dituangkan dalam Asta Cita Prabowo-Gibran.
Hal tersebut ia sampaikan dalam rangkaian acara MPR Goes to Campus (MPR GTC) ke-50 di Universitas Pertahanan (UNHAN).
Eddy menjelaskan bahwa perkembangan geopolitik global dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan betapa erat hubungan antara keamanan internasional dan ketahanan energi.
Konflik yang terjadi di Timur Tengah, misalnya, menimbulkan gangguan rantai pasok energi global serta memicu kenaikan harga energi.
Selain itu juga berdampak kepada berbagai sektor ekonomi, seperti pertanian, manufaktur, logistik, maupun industri strategis lain.
Menurut Eddy, konflik seperti ini berimbas terhadap rantai pasok bahkan memengaruhi biaya produksi, inflasi, dan pada akhirnya memengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional.
"Inilah mengapa isu energi harus dilihat dalam perspektif yang lebih luas sebagai isu strategis bangsa,” ucap Eddy dalam acara bertajuk “Penguatan Ketahanan Energi Nasional: Menjawab Tantangan Saat Ini dan Masa Depan”.
Eddy menekabkan pula bahwa agenda transisi energi yang menjadi salah satu prioritas Presiden Prabowo Subianto merupakan langkah strategis untuk memperkuat kemandirian nasional sekaligus menjaga keberlanjutan pembangunan.
Menurutnya, agenda tersebut sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya swasembada energi, ekonomi hijau, dan pembangunan berkelanjutan.
“Ketika kita mampu meningkatkan pemanfaatan energi baru dan terbarukan, memperkuat efisiensi energi, dan mengurangi ketergantungan impor, maka kita sedang membangun fondasi ketahanan nasional yang lebih kuat,” tuturnya.
Eddy pun menilai, ketahanan energi, pertumbuhan ekonomi, dan keberlanjutan lingkungan harus berjalan bersama sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045.
Kolaborasi dengan Perguruan Tinggi Melalui MPR Goes To Campus
Selain menjadi tonggak penting perjalanan program yang menjangkau 50 kampus di berbagai daerah, kegiatan ini juga berlangsung di institusi yang secara khusus mengkaji isu-isu strategis pertahanan dan keamanan nasional.
“Ketahanan energi saat ini tidak lagi semata-mata persoalan ekonomi atau pasokan energi, tetapi telah menjadi bagian dari ketahanan nasional. Karena itu, kampus ke-50 ini sangat tepat dilaksanakan di Universitas Pertahanan,” ujar Eddy.
Kehadiran Eddy Soeparno disambut langsung oleh Rektor Universitas Pertahanan Letnan Jenderal TNI (Purn.) Dr. Anton Nugroho, M.M.D.S., M.A., jajaran Wakil Rektor dan Dekan serta Staf Khusus Menteri Pertahanan Dr. Kris Widjojo Supandji
Perjalanan MPR Goes to Campus hingga kampus ke-50 menunjukkan betapa besarnya kontribusi perguruan tinggi dalam memberikan perspektif dan masukan bagi pengambilan kebijakan. Setiap kampus yang kami kunjungi menghadirkan gagasan-gagasan baru yang memperkaya pembahasan isu strategis nasional, termasuk mengenai energi.
Pada kesempatan tersebut, Eddy menegaskan bahwa pencapaian kampus ke-50 bukanlah akhir dari perjalanan MPR Goes to Campus. Sebaliknya, pencapaian tersebut menjadi momentum untuk memperluas kolaborasi dengan lebih banyak perguruan tinggi di seluruh Indonesia.
“Kami berkomitmen melanjutkan perjalanan MPR Goes to Campus ke lebih banyak daerah, khususnya kawasan Indonesia Timur. Kami ingin memastikan bahwa gagasan, inovasi, dan kontribusi intelektual dari seluruh anak bangsa dapat menjadi bagian dari solusi bagi pembangunan Indonesia,” tutur Eddy.