Virus SARS-CoV-2 yang pertama kali teridentifikasi di Tiongkok pada Desember 2019, telah mengalami sejumlah mutasi. Diduga varian baru virus ini memiliki tingkat penularan yang lebih cepat. (Analisis Data: Waspadai Gelombang Ketiga Pandemi dari Varian Baru Covid-19)

Di Amerika Serikat, khususnya Los Angeles dan California, terdapat varian CAL.20C yang ditemukan pada Juli 2020. Hingga kini telah tersebar di enam negara, lebih menular, namun belum dapat dipastikan tingkat keparahannya. (Analisis Data: Mengapa Covid-19 Akan Terus Ada dan Menjadi Endemik?)

Selain itu, dunia tengah menyoroti beberapa varian virus lain yang tingkat penularannya lebih tinggi. Varian dari Afrika Selatan, B.1.351 muncul pertama pada Agustus 2020. Dengan tingkat penularan 1,5 kali lebih tinggi menyebabkan kemungkinan risiko kematian di rumah sakit naik 20%.

Varian B.1.1.7 dari Inggris juga teridentifikasi pada September 2020. Tingkat penularannya yang mencapai 36-75%, menyebabkan varian ini tersebar paling luas hingga 125 negara. Ini menyebabkan potensi risiko rawat di rumah sakit juga meningkat. (Analisis Data: Indonesia Setelah Setahun Pandemi)

Mutasi virus dengan varian B.1.1.28.1 atau P1 pertama kali teridentifikasi dari pelaku perjalanan Brasil yang ke Jepang. Varian itu dapat ditemukan di 41 negara dengan potensi risiko infeksi ulang bagi para penyintas Covid-19.

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan