Kurs rupiah mencapai level terlemahnya di tengah gejolak geopolitik di Timur Tengah. Nilai tukarnya tembus Rp17.300 per dolar AS pagi ini, Kamis, 30 April. Ini merupakan nilai terendah sejak krisis moneter 1998.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan, nilai tukar rupiah akan kembali ditutup melemah di rentang Rp17.320 sampai Rp17.380 hari ini.

Pelemahan rupiah ini beriringan dengan harga minyak global yang terus naik menembus US$100 per barel akibat gangguan pasokan di Selat Hormuz. Selain pergerakan harga minyak, Ibrahim menyebut rupiah terdampak pengumuman Uni Emirat Arab (UEA) yang akan meninggalkan OPEC per Mei.

“Pasar mempertimbangkan dampak keputusan UEA untuk meninggalkan kelompok produsen OPEC,” kata Ibrahim lewat rilis, Rabu, 29 April.

Tekanan terhadap rupiah ini berpotensi beruntun sebab bank sentral AS, The Fed, baru saja mengumumkan akan menahan suku bunga acuan di kisaran 3,50% hingga 3,75%.

Selain itu, sejumlah lembaga pemeringkat global juga berturut-turut memberikan outlook negatif akibat kekhawatiran terhadap fiskal Indonesia. Lembaga pemeringkat utang Fitch Rating misalnya, pada Maret lalu, memangkas outlook utang Indonesia dari stabil menjadi negatif.

Menurut Ibrahim, Fitch menyoroti kejelasan posisi Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) yang menimbulkan kekhawatiran investor akan transparansi fiskal.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) menilai nilai rupiah saat ini lebih rendah dibandingkan nilai wajarnya menurut hitungan fundamental ekonomi.

“Nilai tukar rupiah sekarang ini telah undervalued dibandingkan dengan fundamental,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers, Rabu, 22 April.

Namun begitu, Perry optimis rupiah akan kembali menguat seiring dengan kuatnya kinerja fundamental domestik, seperti pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inflasi yang rendah, imbal hasil yang menarik, dan komitmen otoritas dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Antoineta Amosella