Badan Pusat Statistik mencatat kunjungan wisatawan asing sejak Januari-April 2026 sebanyak 4,7 juta orang. Angka itu naik 8,2% secara tahunan dan mencatatkan rekor tertinggi sejak pandemi.

Wisatawan Malaysia menjadi yang terbanyak dengan porsi 17,2%. Selain itu, wisatawan Australia dan Tiongkok juga tercatat tinggi dengan porsi masing-masing 11,6% dan 10,5%. Ada pula wisatawan Singapura dengan porsi 9,2%.

Pelemahan mata uang rupiah menjadi salah satu alasan banyaknya wisatawan dari Malaysia. Presiden Melaka Tourism Association, Madelina Kuah menyebut ini menjadi keuntungan buat warga Malaysia yang ingin berwisata dan belanja di Indonesia.

"Ini berarti biaya lebih murah untuk liburan, belanja pernikahan, dan pembelian barang impor," kata Madeline dikutip dari media Malaysia The Star, Senin, 7 Juni lalu.

Madeline menyebut warga Malaysia yang lebih muda cendung memilih destinasi seperti Lombok, Bali, Yogyakarta, dan Pulau Komodo. Sementara, warga yang lebih tua memilih Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

Menurut pakar ekonomi Universitas Airlangga, Rossanto Dwi Handoyo, kedatangan para wisatawan asing saat pelemahan rupiah tidak serta merta langsung memperkuat nilai rupiah. Meski begitu, momen ini bisa digunakan untuk mempromosikan sektor pariwisata Indonesia menjadi lebih kuat.

Ia juga menampik banyak klaim yang menyebutkan banyaknya wisatawan asing yang datang sebagai bentuk solidaritas. Menurutnya dengan kondisi geopolitik yang belum menentu dan musim liburan, para wisatawan hanya memilih destinasi yang dekat secara regional.

“Motivasi utama mereka bukan karena mereka ingin membantu Indonesia supaya mata uangnya menguat. Motivasinya adalah motivasi pariwisata,” katanya 18 Juni lalu.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Bintan Insani