Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah menahan beberapa rencana ekspor batu bara. Ini dilakukan demi mencegah berulangnya pemadaman bergilir yang sempat terjadi di Jawa.

“Arahan Bapak Presiden, kami tidak ingin kejadian ini terulang lagi. Beberapa ekspor (batu bara) kami tahan untuk kebutuhan dalam negeri dulu,” kata Bahlil dalam acara Energy Forum, Kamis 25 Juni.

Sebelumnya, dia menyebut pemadaman listrik bergilir belakangan di sejumlah wilayah Jawa salah satunya dipicu oleh kurangnya pasokan domestic market obligation atau DMO batu bara kalori medium hingga tinggi.

“Ada kendala sedikit memang terhadap batu bara yang medium kalori 5.200 (GAR). Kita tahu bahwa sekarang kalori batu bara kita semakin hari semakin rendah. Nah ini yang kita lagi cari solusinya,” katanya, Kamis, 18 Juni 2026 .

Bahlil membeberkan, total kebutuhan batu bara untuk pembangkit listrik PT PLN (Persero) selama setahun kurang lebih mencapai 154 juta ton. Berdasarkan aturan DMO, PLN seharusnya mendapatkan pasokan antara 180 juta ton hingga 190 juta ton selama setahun.

Per Juni, Bahlil menyebut PLN telah meneken kontrak 141 juta ton pasokan. Artinya, PLN masih perlu mengamankan kontrak 13 juta ton batu bara untuk memenuhi kebutuhan hingga akhir tahun.

Namun dari pasokan yang berhasil diamankan PLN, Bahlil menyebut ada permasalahan kualitas batu bara, yang mana kualitasnya di bawah kebutuhan pembangkit listrik.

Di sisi lain, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menyebut, keterlambatan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya atau RKAB pada awal tahun juga turut memengaruhi produksi dan kelancaran batu bara domestik.

Fabby juga menilai, kebijakan DMO di mana batu bara dengan kalori tinggi dihargai US$70 per ton membuat sejumlah produsen domestik kurang terdorong memasok kebutuhan dalam negeri dan akhirnya memilih ekspor.

Untuk diketahui, harga jual DMO batu bara kualitas tinggi saat ini jauh lebih rendah dibandingkan harga batu bara acuan (HBA) dengan kualitas sama per Juni 2026 periode kedua yang senilai US$123,9 per ton.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Antoineta Amosella