Pagelaran Sabang Merauke 2026: Ketika Para Srikandi Melawan
Alunan “Lulo” dari Sulawesi Tenggara yang sebelumnya membuat penari dan penonton berdendang bersama perlahan berhenti. Lampu panggung meredup, lalu berubah merah.
Sekelompok perempuan berlarian. Di belakang mereka, pasukan laki-laki Yuyu Kangkang mengejar dan menangkap satu per satu penari. Tidak ada lagi suasana perayaan. Yang tersisa adalah kepanikan.
Adegan itu menjadi salah satu bagian paling gamblang dalam Pagelaran Sabang Merauke 2026 dalam menggambarkan kekerasan berbasis gender terhadap perempuan (KBGtP).
Namun, para perempuan itu tidak berhenti pada posisi korban. Mereka bangkit dan kembali menyatukan kekuatan. “O Ina Ni Keke” dari Sulawesi Utara mengalun dalam aransemen seriosa. Suasana yang semula mencekam berubah menjadi haru.
Adegan tersebut menjadi titik penting dalam “Hikayat Srikandi Nusantara”, tema yang diusung Pagelaran Sabang Merauke tahun ini.
Memasuki tahun keenam penyelenggaraannya, pertunjukan ini tidak hanya membawa penonton berkeliling Nusantara melalui musik dan tari, tapi juga menjadikan perempuan sebagai pusat cerita.
Srikandi, yang diperankan penyanyi Raisa Andriana, menjadi penggerak utama. Dengan panah yang selalu dibawanya, dia dikisahkan mengumpulkan pasukan perempuan dari berbagai daerah untuk melawan Yuyu Kangkang, tokoh penjaga sungai dalam cerita rakyat “Ande-Ande Lumut” dari Jawa Timur yang diperankan penyanyi sekaligus aktor Nino Prabowo.
Di atas panggung Indonesia Arena Jakarta, tokoh-tokoh perempuan dari cerita rakyat Nusantara kemudian hadir silih berganti: Mahadewi yang diperankan Yura Yunita, Dayang Sumbi, Mande Rubayah atau ibu Malin Kundang, hingga Calon Arang.
Cerita tentang perlawanan itu berjalan bersamaan dengan perjalanan budaya dari barat ke timur Indonesia. Dari Aceh, panggung dibuka dengan penari Ratoeh dan Gendang Rapai, sebelum berlanjut pada Tari Saman. “Kutidhieng” dan “Bungong Jeumpa” mengiringi gerak para penari bersama Jakarta Concert Orchestra.
Perjalanan kemudian bergerak hingga jauh ke timur. Papua hadir melalui aransemen “Yamko Rambe Yamko” dan “Sajojo”. Para penari perempuan mengenakan rok rumbai khas Papua yang dibuat dari daun sagu dan serat kayu kering.
Pesan tentang perempuan tidak hanya muncul dari tokoh-tokoh utama, tapi dari penari dan bagaimana tradisi ditampilkan di atas panggung. Di sejumlah adegan, perempuan mengambil peran yang selama ini identik dengan laki-laki.
Pada bagian Sumatera Selatan, misalnya, perempuan tampil dalam pertunjukan wushu dengan iringan “Gending Sriwijaya”. Di Sumatera Barat, para perempuan menginjak dan menghancurkan piring dalam Tari Piring, bagian yang dalam banyak pertunjukan kerap dibawakan oleh laki-laki.
Hal serupa muncul ketika perempuan membawakan Kuda Lumping dan Tari Pecut di bagian Jawa Timur, dua pertunjukan yang umumnya identik dengan penampil laki-laki.
Memasuki DKI Jakarta, persoalan perempuan kembali ditarik lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Panggung dibuka dengan kesibukan ibu kota dan kemacetan lalu lintas. Budaya Betawi hadir bersama alunan “Ondel-Ondel”. Tapi di tengah hiruk-pikuk itu, muncul pelecehan yang kerap dialami perempuan, yaitu catcalling.
“Hikayat Srikandi Nusantara” tidak hanya bercerita tentang perempuan-perempuan yang melawan. Tapi, menunjukkan bagaimana perlawanan bisa muncul dalam banyak bentuk, dari mengangkat panah, mengambil ruang yang selama ini didominasi laki-laki, hingga menolak diam.
Lebih Besar dari Sebelumnya
Digelar pertama kali pada 2022, pertunjukan kolosal tahunan ini hadir dengan skala yang lebih besar pada tahun ini. Pagelaran melibatkan 700 seniman lintas bidang di atas panggung. Jika ditotal bersama seluruh tim dan kru yang bertugas, keseluruhan produksi melibatkan 1.700 orang.
Sejumlah elemen pertunjukan juga bertambah dibandingkan tahun sebelumnya. Jumlah penari, misalnya, meningkat dari sekitar 350 orang pada 2025 menjadi 387 penari pada 2026. Jumlah koreografi juga bertambah dari sekitar 70 menjadi 117 koreografi.
Pagelaran Sabang Merauke Hadirkan Kisah Srikandi Nusantara Dalam Panggung Budaya (Foto: Katadata/Fauza Syahputra) (Katadata/Fauza Syahputra)
Pagelaran berdurasi sekitar tiga jam ini terdiri atas 21 adegan atau pembabakan. Setiap adegan mewakili daerah-daerah di Indonesia dan menampilkan kekayaan budaya masing-masing secara kolosal, melalui drama, tarian daerah, lagu dan alat musik, pakaian, hingga ragam tradisi lainnya.
Sejumlah elemen kebudayaan daerah yang sebelumnya belum pernah ditampilkan dalam pagelaran juga hadir untuk pertama kalinya. Di antaranya kebudayaan Suku Karo dari Sumatera Utara dan kebudayaan Penajam Paser Utara dari Kalimantan Timur.
Penyanyi Raisa Andriana yang berperan sebagai Srikandi mengaku senang bisa terlibat dalam pementasan ini. “Senang bisa mengemban pesan yang begitu berat dan begitu penting, terutama di keadaan Indonesia saat ini,” kata Raisa dalam konferensi pers usai pertunjukan perdana di Indonesia Arena, Jumat (21/8).