Keluarga Menjadi Poros Kebersamaan Ramadan di Indonesia

ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/rwa.
23/2/2026, 13.41 WIB

Taufiq Moewardi, 36 tahun, merindukan momen berbuka puasa bersama keluarganya. Pria berprofesi fotografer ini kembali menjalani Ramadan di ibu kota, sedangkan adik-adiknya tinggal di Surakarta, Jawa Tengah.

“Sejak menikah pas 2019, kemudian ibu saya meninggal pada 2023, jadinya saya jarang pulang ke Surakarta. Rasanya kangen berpuasa bersama adik-adik di kampung,” katanya saat berbincang dengan Katadata.

Pengalaman Taufiq mungkin dirasakan banyak orang lain. Merindukan kehangatan interaksi dengan keluarga semakin terasa khususnya saat Ramadan tiba.

Sementara itu, Survei Ramadan 2026 Consumer Insights dari YouGov menunjukkan sebanyak 51 persen responden Indonesia memang mengasosiasikan Ramadan dengan keluarga. Temuan ini menempatkan institusi keluarga sebagai elemen penting dalam pengalaman bulan puasa.

Asosiasi tersebut menunjukkan bahwa Ramadan di Indonesia tidak hanya dipahami sebagai periode ibadah individual. Bulan puasa juga hadir sebagai ruang sosial yang memperkuat interaksi dalam lingkungan domestik.

Ritual harian seperti sahur dan berbuka menjadi bagian dari dinamika keseharian Ramadan. Aktivitas ini menghadirkan momen kebersamaan yang relatif konsisten di dalam keluarga.

Mengutip situs uinsi.ac.id dalam artikel “Keberkahan Ramadhan Menjaga Harmonisasi Keluarga,” intensitas waktu bersama keluarga selama Ramadan memberi peluang bagi anggota keluarga untuk memperkuat ikatan emosional. 

Kebersamaan tersebut tercermin melalui aktivitas sederhana, seperti doa bersama sebelum makan dan interaksi yang berlangsung di satu meja maupun dalam suasana lesehan.

Interaksi yang meningkat selama Ramadan juga membuka ruang komunikasi yang lebih luas. Rutinitas harian memperbesar peluang percakapan antar anggota keluarga yang dalam keseharian kerap terbatas oleh aktivitas kerja dan sekolah.

Penguatan interaksi keluarga selama Ramadan berimplikasi pada fungsi keluarga sebagai unit dukungan emosional. Intensitas kebersamaan memperbesar ruang komunikasi sekaligus memperkuat relasi internal keluarga.

Selain aspek emosional, Ramadan juga menghadirkan dimensi ruhiyah maknawiyah dalam kehidupan keluarga. Kebersamaan keluarga tidak hanya berlangsung dalam aktivitas fisik, tetapi juga dalam penguatan nilai-nilai spiritual, seperti salat berjamaah, tadarus, dan doa bersama.

Selain itu, kebersamaan dalam Ramadan juga sering diikuti oleh kegiatan sosial bersama keluarga, seperti berbagi takjil kepada tetangga atau bersedekah kepada yang membutuhkan. Praktik semacam ini tidak hanya menguatkan hubungan internal keluarga, tetapi juga memperluas relasi sosial dengan lingkungan sekitar.

Dengan demikian, Ramadan berperan tidak hanya sebagai periode ibadah individu, tetapi juga sebagai momentum yang memfasilitasi penguatan relasi keluarga dan kontribusi sosial yang berlangsung di ruang domestik dan komunitas dalam kehidupan sehari-hari.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.