Gubernur Aceh Tetapkan Status Darurat Bencana: Ini Lokasi Banjir di Aceh
Status darurat bencana, ada beberapa lokasi banjir di Aceh. Banjir dan tanah longsor melanda sejumlah wilayah di kota dan kabupaten Provinsi Aceh. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), puluhan ribu warga terdampak, sejumlah bangunan serta fasilitas umum mengalami kerusakan parah, dan akses jalan di beberapa lokasi terputus pada Kamis (27/11).
Pemerintah Provinsi Aceh pun menetapkan status darurat bencana setelah hampir seluruh kabupaten dan kota terdampak banjir serta longsor. Status tanggap darurat ini berlaku selama 14 hari, mulai tanggal 28 November hingga 11 Desember 2025.
“Saya, Gubernur Aceh, menetapkan Keputusan Gubernur Aceh mengenai penetapan status tanggap darurat bencana hidrometeorologi di Aceh tahun 2025,” ujar Gubernur Aceh Muzakir Manaf alias Mualem usai rapat paripurna di DPR Aceh, Kamis (27/11).
Sepuluh dari 23 kabupaten/kota di Provinsi Aceh menetapkan status darurat bencana banjir setelah hujan deras mengguyur wilayah ini sejak tanggal 18 hingga 26 November 2025. Hingga Rabu sore, bencana tersebut memaksa 1.497 jiwa mengungsi dan menelan dua korban jiwa. Laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) di Banda Aceh Menyebutkan, selama satu pekan terakhir, 10 kabupaten/kota terkena dampak banjir dan tanah longsor.
Status Darurat Bencana: Ini Daftar Lokasi Banjir di Aceh
Banjir di Aceh terjadi akibat hujan lebat yang berlangsung terus-menerus dan angin kencang, sehingga memicu banjir, pergerakan tanah, dan longsor di berbagai lokasi. Berikut beberapa lokasi banjir di Aceh:
1. Kabupaten Bireun
Hingga saat ini, banjir di Kabupaten Bireuen masih belum surut dan terus menggenangi sejumlah pemukiman. Jalan Desa Ara Lipeh menuju Dusun Alue Seumayam serta akses ke perkebunan warga sepanjang sekitar delapan meter belum diperbaiki, sehingga belum bisa dilalui secara normal. Di Desa Lhok Mambang, beberapa warga yang rumahnya terendam memilih bertahan di meunasah sebagai tempat pengungsian sambil menunggu air surut.
Banjir kali ini berdampak pada tiga kecamatan dan empat gampong, yakni Kecamatan Makmur (Gampong Ulee Glee, Leube Me, dan Ara Lipeh), serta Kecamatan Samalanga dan Kecamatan Gandapura, dengan Gampong Lhok Mambang menjadi salah satu lokasi yang terdampak cukup signifikan.
“Berdasarkan data yang dikumpulkan, sebanyak 956 kepala keluarga atau 2.272 jiwa terdampak, sementara 40 kepala keluarga atau 100 terancam terisolasi karena akses mulai terendam air,” ujar Muhari.
Meski ketinggian genangan tidak mencapai banjir besar lainnya di Aceh, kerugian material tetap menjadi perhatian. Sebanyak 12 rumah tergenang dan 20 unit rumah berisiko terlindungi, dengan tinggi muka air (TMA) berkisar antara 20-30 sentimeter. Kondisi ini mengganggu aktivitas warga dan memperlambat mobilitas, terutama di jalur desa yang terendam.
2. Kota Lhokseumawe
Curah hujan yang berkepanjangan membuat volume udara meningkat tajam dan mengakibatkan sejumlah organisasi terendam banjir. Genangan dilaporkan terjadi di empat kecamatan dan meliputi 43 gampong, sehingga mengganggu aktivitas warga.
Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, menyampaikan bahwa Kecamatan Banda Sakti menjadi wilayah yang paling luas terdampak. Sejumlah gampong seperti Tumpok Teungoh, Simpang Empat, Lhokseumawe, Pusong Baru, Banda Masem, Hagu Barat Laut, Kampung Jawa Baru, Hagu Selatan, Hagu Teungoh, Kampung Jawa Lama, Kuta Blang, Lancang Garam, Keude Aceh, Mon Geudong, Ujong Blang, Ulee Jalan, Pusong Lama, hingga Uteun Bayi ikut terendam.
“Situasi serupa juga terjadi di Kecamatan Blang Mangat yang meliputi Mesjid Punteut, Blang Punteut, Kumbang Punteut, Rayeuk Kareung, Asan Kareung, Mane Kareung, Blang Buloh, Blang Weu Baroh, Alue Lim, Baloi, Blang Cut, dan Blang Teue,” ujar Muhari dalam keterangan resminya, Kamis.
Kecamatan Muara Dua dan Muara Satu juga terdampak, dengan sejumlah gampong seperti Panggoi, Paya Bili, Uteun Kot, Gampong, Blang Poroh, Mns Mee, Cot Girek, Paya Punteut, Mns Alue, Mns Mesjid, Padang, Cot Tring, Paloh Dayah, Ujong Pacu, dan Blang Pulo yang turut terendam.
Hingga kini, sekitar 100 kepala keluarga telah mengungsi ke tempat yang lebih aman. Jumlah tersebut masih terus bertambah mengingat beberapa wilayah belum sepenuhnya dapat dijangkau oleh petugas.
3. Aceh Singkil
Di Kabupaten Aceh Singkil, kondisi terbaru menunjukkan bahwa banjir masih menggenangi organisasi di tujuh kecamatan. Ketinggian udara yang terus meningkat membuat sejumlah wilayah masuk dalam kategori kritis, terutama desa-desa yang berada di dataran rendah dan menjadi jalur aliran banjir.
Jumlah warga yang terdampak pun terus bertambah seiring meluasnya populasi. Hingga laporan ini dibuat, sebanyak 6.579 kepala keluarga atau 25.827 jiwa tercatat terkena dampak, dengan 684 kepala keluarga di antaranya telah mengungsi.
Sebagian besar pengungsi memilih berlindung sementara di rumah keluarga maupun fasilitas umum, karena kondisi rumah yang terendam tidak memungkinkan untuk bekerja. Kecamatan Singkil menjadi kawasan dengan dampak paling besar, sementara pendataan di beberapa desa lainnya masih berlangsung.
Kerugian material meliputi sekitar 6.000 unit rumah yang tergenang, ditambah kerusakan pada berbagai fasilitas pendidikan, tempat ibadah, layanan kesehatan, serta jaringan jalan. Beberapa akses transportasi tidak dapat dilalui, termasuk jalur penghubung antardesa dan ruas jalan nasional di Kecamatan Singkil Utara dan Danau Paris. Meski sejumlah titik longsor telah dibersihkan, masih ada beberapa lokasi yang belum tertangani.
4. Aceh Barat
Di Kabupaten Aceh Barat, banjir menggenangi pemukiman warga di empat kecamatan dengan total 16 gampong terdampak. Daerah yang terdampak meliputi Kecamatan Sungai Mas, meliputi Lancong, Tungkop, Leubok Beutong, Gampong Kajeng, Geudong, Gleng, Gunong Buloh, dan Gaseu. Kecamatan Arongan Lambalek juga mengalami hal serupa, khususnya di Gampong Teupin Peuraho. Kondisi banjir juga dirasakan di Kecamatan Woyla Timur pada Gampong Seuradeuk, Pasi Ara, Rambong, dan Baro.
Selain itu, Kecamatan Pante Ceureumen dilaporkan terdampak di Gampong Canggai, Keutambang, dan Seumantok.
“Genangan udara di wilayah-wilayah tersebut menghambat aktivitas masyarakat, menutup sebagian ruas jalan, serta mengganggu pergerakan kendaraan,” kata Muhari.
Sedikitnya 183 kepala keluarga tercatat sebagai korban terdampak langsung, dan sekitar 33 kepala keluarga harus meninggalkan rumah mereka untuk mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
“Selain merendam rumah warga, banjir juga menimbulkan kerusakan fisik, termasuk 183 unit rumah yang tergenang, satu kantor camat yang terdampak, serta dua akses jalan yang tidak dapat berfungsi normal. Proses pendataan masih berlangsung karena ada sejumlah area yang belum bisa dijangkau sepenuhnya,” tambahnya.
Dalam laporan terbaru, debit air di DAS Krueng Woyla dan Meureubo masih menunjukkan peningkatan. Akses dari Gampong Seumantok pusat kecamatan terputus, sementara jalur menuju Pasi Ara masih berada di bawah kumpulan. Sejumlah warga juga telah mengungsi ke Gampong Kubu Capang.
Di Kecamatan Sungai Mas, tinggi rata-rata udara mencapai sekitar 130 cm, meski bervariasi antar gampong. Sedangkan wilayah sekitar Kecamatan Woyla Timur melaporkan ketinggian udara hingga satu meter.
5. Aceh Utara
Hingga kini, banjir di Kabupaten Aceh Utara belum menunjukkan tanda-tanda surut. Kondisi di lapangan masih serba terbatas akibat terputusnya jaringan komunikasi, padamnya listrik PLN, serta terhentinya operasional sejumlah kantor pemerintahan. Situasi ini membuat proses pendataan dan penanganan darurat berjalan lambat.
Bencana tersebut menimpa 17 kecamatan dengan total 130 gampong terdampak. Wilayah yang masuk dalam cakupan dampak antara lain Kecamatan Tanah Jambo Aye, Muara Batu, Langkahan, Seunuddon, Baktya, Syamtalira Aron, Samudera, Baktya Barat, Matangkuli, Banda Baro, Lhoksukon, Lapang, Dewantara, Pirak Timu, Sawang, dan Nibong.
“Warga terdampak tercatat sebanyak 2.668 kepala keluarga atau 4.441 jiwa, sementara 1.270 kepala keluarga atau 3.507 jiwa harus mengungsi ke lokasi yang lebih aman. Kerusakan material meliputi 2.668 unit rumah yang terkena dampak, terdiri dari tiga unit rusak berat, 17 unit rusak sedang, dan enam unit banjir rusak ringan yang masih dalam proses verifikasi. Selain itu, juga menyebabkan abrasi di satu ruas jalan utama, merendam sekitar 420 hektare lahan pertanian, serta menenggelamkan 571unit tambak di 15 gampong di Kecamatan Seunuddon,” ungkapnya.
6. Aceh Timur
Di Kabupaten Aceh Timur, banjir kembali melanda setelah air sebelumnya sempat surut. Kondisi ini memicu hujan lebat sejak 20 November yang disertai angin kencang, sehingga menyebabkan beberapa sungai meluap. Genangan udara setinggi 10 hingga 40 sentimeter kini membanjiri perairan warga, fasilitas umum, dan infrastruktur dasar.
Banjir tersebut berdampak luas, mencakup 17 kecamatan dengan total 124 gampong yang terdampak. Wilayah dengan kondisi terparah meliputi Kecamatan Simpang Ulim, Nurussalam, Madat, Indra Makmur, Ranto Peureulak, Julok, Pante Bidari, Birem Bayeun, Sungai Raya, serta beberapa kecamatan lainnya. Berdasarkan pendataan, terdapat 7.972 kepala keluarga atau 29.706 jiwa yang terdampak, dengan rincian sebaran korban yang cukup detail di tiap gampong.
“Banyak warga yang terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya dan mengungsi sementara ke masjid, meunasah, serta rumah kerabat atau tetangga, dengan total pengungsi mencapai 920 kepala keluarga atau 2.456 jiwa,” ujar Muhari.
Di sisi lain, kerusakan material juga cukup besar. Sebanyak 7.972 unit rumah dilaporkan terendam dan masih dalam proses pendataan. Dua rumah mengalami kerusakan berat, satu rusak sedang, dan sejumlah fasilitas umum terdampak, termasuk dua tempat ibadah dan tiga sekolah, salah satunya mengalami kerusakan pada bagian lapisan depan masjid. Infrastruktur jalan juga ikut rusak, dengan dua akses utama terputus, satu jembatan rusak, serta lahan pertanian dan satu kedai dilaporkan mengalami kerusakan berat.
Lokasi banjir di Aceh tersebar di berbagai kabupaten dan kota, termasuk Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Singkil, Bireuen, dan Aceh Barat. Curah hujan tinggi, angin kencang, serta kondisi geologi yang labil menjadi pemicu utama bencana ini. Dampaknya dirasakan oleh ribuan kepala keluarga, menimbulkan kerusakan pada rumah, fasilitas umum, jalan, serta lahan pertanian, sementara ratusan warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.