Gangguan asam lambung kerap dianggap sebagai keluhan ringan yang bisa hilang dengan sendirinya. Tidak sedikit pula yang menyamakan semua keluhan tersebut sebagai maag. Padahal, ada kondisi lain yang sering luput dikenali, yakni GERD. Meski sekilas tampak serupa, GERD dan maag memiliki perbedaan dari sisi penyebab, mekanisme penyakit, hingga risiko komplikasinya.
Kesalahpahaman ini membuat GERD kerap terlambat ditangani. Padahal, jika dibiarkan, kondisi ini dapat memicu gangguan serius pada saluran pencernaan. Oleh karena itu, pemahaman mengenai Apa itu GERD dan perbedaannya dengan maag menjadi penting agar keluhan lambung dapat dikenali secara tepat.
Apa itu GERD?
Secara medis, Apa itu GERD merujuk pada kondisi naiknya asam lambung dan isi lambung ke kerongkongan atau esofagus. Penyakit ini dikenal sebagai gastroesophageal reflux disease, yaitu gangguan pencernaan kronis yang terjadi akibat melemahnya katup di bagian bawah kerongkongan yang disebut lower esophageal sphincter.
Refluks asam tersebut dapat menimbulkan sensasi panas atau perih di dada bagian bawah, yang dikenal sebagai heartburn. American College of Gastroenterology mendefinisikan GERD sebagai refluks asam yang terjadi dua kali atau lebih dalam satu minggu. Kondisi ini tergolong umum, namun sangat berbahaya bila tidak dikelola dengan baik.
Apa Itu Maag?
Maag atau dyspepsia merupakan istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan kumpulan keluhan pada lambung. Gejala yang sering muncul meliputi nyeri atau rasa terbakar di ulu hati, perut terasa penuh, kembung, cepat kenyang, serta mual.
Maag dibagi menjadi dua kategori utama, yakni dispepsia fungsional dan dispepsia organik. Pada dispepsia fungsional, keluhan muncul tanpa ditemukan kelainan struktur lambung saat dilakukan pemeriksaan endoskopi. Sementara itu, dispepsia organik ditandai dengan adanya perubahan struktur lambung.
Beberapa kondisi yang termasuk dispepsia organik antara lain:
- Peptic ulcer disease atau tukak lambung, yang dapat terjadi akibat penggunaan NSAID, obat steroid, atau infeksi Helicobacter pylori
- Common gastritis, yaitu peradangan pada lapisan lambung
- Carcinoma gaster, yaitu keganasan pada lambung yang ditandai penurunan berat badan progresif dan anemia
Perbedaan GERD dan Maag
Meski sering dianggap sama, perbedaan GERD dan maag cukup signifikan. Perbedaan ini dapat dilihat dari beberapa aspek utama berikut.
1. Perbedaan dari Segi Penyebab
Pada GERD, masalah utama terletak pada melemahnya katup esofagus sehingga asam lambung berulang kali naik ke kerongkongan dan mengiritasi mukosa esofagus. Sementara pada maag, iritasi terjadi di dinding lambung tanpa melibatkan kerongkongan.
2. Perbedaan dari Segi Gejala
Maag umumnya ditandai dengan nyeri ulu hati, perut kembung, rasa penuh setelah makan, mual, dan muntah. Gejalanya cenderung hilang timbul.
Sebaliknya, GERD sering memunculkan keluhan yang lebih berat, seperti:
- Heartburn yang muncul berulang
- Regurgitasi atau naiknya makanan dan asam ke kerongkongan
- Dada terasa nyeri
- Kerongkongan terasa mengganjal
- Kesulitan menelan
Selain itu, GERD juga dapat memicu gejala di luar saluran cerna, seperti batuk kronis, radang tenggorokan, gangguan tidur, hingga sesak napas menyerupai asma.
3. Perbedaan dari Segi Anatomi
GERD berkaitan dengan gangguan fungsi lower esophageal sphincter di kerongkongan. Sementara itu, maag berhubungan langsung dengan iritasi atau gangguan pada dinding lambung. Pada dispepsia fungsional, tidak ditemukan kerusakan struktur, sehingga keluhannya bisa tumpang tindih dengan GERD.
4. Perbedaan dari Segi Pengobatan
Pengobatan maag disesuaikan dengan penyebabnya, misalnya terapi antasida, penghambat reseptor H2, atau eradikasi H. pylori bila ditemukan infeksi. Pada GERD, terapi lebih difokuskan untuk menurunkan produksi asam dan memperbaiki fungsi katup esofagus.
Faktor Risiko GERD
GERD dapat terjadi pada siapa saja, tetapi resikonya meningkat pada kondisi tertentu. Faktor risiko yang sering dikaitkan antara lain:
- Kelebihan berat badan atau obesitas
- Kehamilan
- Hiatal hernia
- Gangguan jaringan ikat seperti scleroderma
- Penggunaan obat tertentu, seperti benzodiazepine, calcium channel blocker, NSAID, dan antidepresan tricyclic
Selain itu, kebiasaan makan tidak teratur, konsumsi makanan berlemak, pedas, asam, alkohol, dan kafein juga berperan besar dalam memicu refluks.
Pengobatan GERD
Penanganan GERD dilakukan secara bertahap, tergantung tingkat keparahan gejala. Terapi obat yang umum digunakan meliputi:
- Antasida untuk keluhan ringan
- Penghambat reseptor H2 seperti famotidine dan cimetidine
- Proton pump inhibitor atau PPI seperti omeprazole, lansoprazole, dan esomeprazole
- Obat prokinetik untuk membantu motilitas saluran cerna
Pada kasus tertentu yang tidak membaik dengan obat dan perubahan gaya hidup, tindakan operasi seperti fundoplikasi atau implantasi Linx dapat dipertimbangkan.
Pencegahan GERD dan Maag
Baik GERD maupun maag dapat dicegah dengan penerapan pola hidup sehat. Beberapa langkah pencegahan meliputi:
1. Makan Sesuai Jadwal Dan Tidak Berlebihan
Pola makan yang teratur membantu lambung memproduksi asam secara stabil. Konsumsi makanan dalam porsi berlebihan dapat meningkatkan tekanan di dalam lambung sehingga mendorong asam lambung naik ke kerongkongan. Kondisi ini dapat memperberat kerja sistem pencernaan.
2. Menghindari Makan Menjelang Tidur
Makan terlalu dekat dengan waktu tidur membuat proses pencernaan tidak berlangsung optimal. Saat tubuh berada dalam posisi berbaring, asam lambung lebih mudah naik ke kerongkongan. Memberi jeda waktu sebelum tidur membantu mengurangi risiko refluks.
3. Menjaga Berat Badan Ideal
Berat badan berlebih dapat meningkatkan tekanan pada rongga perut. Tekanan ini berisiko melemahkan katup kerongkongan bagian bawah sehingga memicu naiknya asam lambung. Menjaga berat badan ideal membantu menurunkan frekuensi keluhan GERD dan maag.
4. Menghindari Rokok Dan Alkohol
Rokok dan alkohol dapat mengganggu fungsi katup kerongkongan serta meningkatkan produksi asam lambung. Selain itu, kedua zat tersebut dapat mengiritasi dinding saluran cerna. Kebiasaan ini berpotensi memperburuk gejala gangguan lambung.
5. Membatasi Makanan Berlemak, Pedas, Dan Asam
Makanan berlemak dapat memperlambat pengosongan lambung sehingga asam bertahan lebih lama. Makanan pedas dan asam berisiko mengiritasi dinding lambung dan kerongkongan. Pembatasan jenis makanan ini membantu menjaga keseimbangan asam lambung.