Profil Sultan Ahmed Bin Sulayem, Sosok yang Fotonya Viral Bersama Epstein
Kasus yang melibatkan Jeffrey Epstein kembali menjadi perhatian masyarakat dunia setelah muncul perkembangan baru dari dokumen yang dikenal sebagai Epstein Files. Kabar terbaru datang dari pernyataan anggota Kongres Amerika Serikat dari Partai Demokrat, Ro Khanna, yang mengungkap adanya enam pria kaya dan berkuasa yang identitasnya sempat disensor tanpa penjelasan dalam dokumen Departemen Kehakiman AS (Department of Justice/DOJ).
Setelah meninjau langsung berkas tanpa sensor bersama anggota Kongres dari Partai Republik, Thomas Massie, Khanna menyatakan bahwa Departemen Kehakiman mengakui adanya kesalahan dalam penyensoran tersebut dan kemudian membuka identitas keenam nama itu. Salah satu nama yang disebut adalah Sultan Ahmed Bin Sulayem, pengusaha asal Uni Emirat Arab yang dikenal sebagai pemimpin perusahaan logistik global DP World. Pria arab ini belakangan juga viral karena fotonya bersama Jeffrey Epstein tersebar di internet.
Lantas, siapa sebenarnya Sultan Ahmed Bin Sulayem, dan bagaimana latar belakang serta keterkaitannya dalam dokumen tersebut?
Siapa Sultan Ahmed Bin Sulayem?
Sultan Ahmed Bin Sulayem (Arab: سلطان أحمد بن سليم) lahir pada 1955 dan berasal dari keluarga Sulayem, salah satu dinasti bisnis dan politik terkemuka di Dubai sejak awal abad ke-20. Ayahnya dikenal sebagai penasihat senior bagi keluarga penguasa Maktoum di Dubai, yang memiliki peran sentral dalam pemerintahan emirat tersebut.
Ia menempuh pendidikan di Temple University, Philadelphia, dan meraih gelar sarjana di bidang ekonomi. Latar belakang pendidikan ini mengantarkan langkahnya lebih jauh dalam sektor perdagangan dan logistik internasional.
Perjalanan Karier dan Ekspansi Bisnis Sultan Ahmed
Karier Sultan Ahmed Bin Sulayem dimulai dari bawah sebelum akhirnya memimpin sejumlah entitas bisnis strategis milik Dubai.
Setelah menyelesaikan studi pada akhir 1970-an, ia memulai karier sebagai petugas bea cukai di Pelabuhan Dubai.
- Pada 1985, Mohammed bin Rashid Al Maktoum menunjuk Sultan Ahmed Bin Sulayem sebagai Ketua Zona Bebas Jebel Ali (Jebel Ali Free Zone Authority/JAFZA). Di bawah kepemimpinannya, JAFZA berkembang pesat dari 19 perusahaan pada pertengahan 1980-an menjadi sekitar 7.500 perusahaan pada 2020.
- Ia kemudian diangkat sebagai Ketua DP World pada 2007. Pada Februari 2016, ia dipercaya menjabat sebagai Group Chairman sekaligus CEO. Setelah DP World mengakuisisi Peninsular & Oriental Steam Navigation senilai US$6,9 miliar, perusahaan tersebut naik menjadi operator pelabuhan terbesar ketiga di dunia pada 2010.
- Sultan Ahmed Bin Sulayem juga memimpin Nakheel Properties hingga 2010 dan kembali menjadi anggota dewan pada 2020. Nakheel dikenal sebagai pengembang Palm Islands, proyek pulau buatan ikonik di Dubai.
- Ia juga turut mendirikan dan memimpin Istithmar World, anak usaha DP World di bidang dana ekuitas swasta. Sejak 2018, ia menjabat sebagai Ketua Non-Eksekutif Virgin Hyperloop.
- Selain dunia korporasi, Sultan Ahmed pernah menjadi anggota Dewan Eksekutif Dubai, Otoritas Pajak Federal UEA, serta Investment Corporation of Dubai hingga 2009.
Hubungan dengan Jeffrey Epstein
Nama Sultan Ahmed Bin Sulayem semakin menjadi perhatian setelah keterkaitannya dalam dokumen Epstein Files diungkap.
Sejumlah informasi yang muncul dalam dokumen dan laporan media internasional antara lain:
- Keduanya diketahui telah berkomunikasi setidaknya sejak 2007 dan tetap berhubungan setelah Epstein divonis pada 2008 atas kasus eksploitasi seksual terhadap anak di bawah umur.
- Dalam sejumlah email, Sultan Ahmed Bin Sulayem disebut membagikan pengalaman pribadi bernuansa seksual dan diduga mengirim lampiran gambar. Pada 24 April 2009, Epstein mengirim email yang berbunyi, “where are you? are you ok I loved the torture video”. Pada 9 Februari 2026, Thomas Massie mengonfirmasi bahwa Sultan Ahmed Bin Sulayem adalah penerima email tersebut.
- Antara 2011 hingga 2014, ia dijadwalkan mengunjungi townhouse Epstein. Pada 2014, ia meminta Epstein menghubungi Peter Mandelson agar bergabung dalam dewan salah satu perusahaannya.
- Pada 2016, ketika Epstein tidak dapat membeli Great St. James karena statusnya sebagai pelaku kejahatan seksual terdaftar, sebuah perusahaan cangkang atas nama Sultan Ahmed Bin Sulayem diduga digunakan untuk membeli pulau tersebut senilai US$22,5 juta.
- Pada 2017 tercatat transaksi US$6.200 dari Sultan Ahmed Bin Sulayem kepada Epstein yang dikembalikan sehari kemudian. Asisten Epstein juga pernah mencoba memesan 30 alat tes DNA 23AndMe atas namanya untuk dikirim ke New York, namun pesanan dibatalkan.
- Ia disebut membantu memfasilitasi pemindahan seorang terapis pijat untuk pelatihan di Turki, memperkenalkan pengusaha India Anil Ambani kepada Epstein, serta menerima saran terkait kehadirannya dalam pelantikan pertama Donald Trump.
- Dalam rilis gambar DOJ, Epstein terlihat bersama Sultan Ahmed Bin Sulayem mengamati replika panel Kiswah, kain hitam bersulam emas yang menutupi Ka’bah di Mekkah.
Sultan Ahmed Bin Sulayem merupakan salah satu tokoh bisnis paling berpengaruh di Uni Emirat Arab, dengan peran besar dalam menjadikan Dubai sebagai pusat perdagangan dan logistik global. Kepemimpinannya di DP World, JAFZA, hingga berbagai entitas strategis lainnya menempatkannya di lingkar elite ekonomi internasional.
Namun, kemunculan namanya dalam Epstein Files serta berbagai korespondensi dan transaksi yang terungkap menjadikan sosoknya kembali menjadi sorotan. Perkembangan kasus ini masih terus dipantau oleh publik dan media internasional.