Apa Dampak Pada Orang Desa Jika Rupiah Terus Melemah? Ini Analisis Ekonom

unsplash.com
rupiah melemah, apa dampak bagi orang desa?
Penulis: Izzul Millati
Editor: Safrezi
18/5/2026, 14.51 WIB

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi sorotan setelah menyentuh Rp17.678 per dolar AS pada data perdagangan 18 Mei 2026 pukul 05.50 UTC. Pelemahan kurs tersebut terjadi di tengah penguatan dolar AS, meningkatnya ketegangan geopolitik internasional, serta arus modal keluar dari pasar negara berkembang.

Situasi ini memicu perdebatan setelah Presiden Prabowo Subianto menyatakan masyarakat desa tidak perlu terlalu khawatir terhadap kenaikan dolar AS karena warga pedesaan tidak menggunakan mata uang tersebut dalam transaksi sehari-hari. Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat meresmikan Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026).

Namun, sejumlah ekonom menilai pelemahan rupiah tetap akan berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap masyarakat pedesaan. Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda, Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Yusuf Rendy Manilet, dan Pengamat Ekonomi Universitas Airlangga Gigih Prihantono menyebut dampak kurs dolar tidak bekerja melalui transaksi masyarakat semata, tetapi melalui rantai pasok barang, biaya impor, energi, dan distribusi.

Artinya, meskipun orang desa tidak memegang dolar AS, pelemahan rupiah tetap dapat mempengaruhi harga kebutuhan pokok, biaya produksi pertanian, hingga daya beli rumah tangga.

Ketergantungan Impor Membuat Harga Pangan Rentan Naik

rupiah melemah, apa dampak bagi orang desa? (unsplash.com)

 

Pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi meningkatkan harga pangan karena Indonesia masih bergantung pada impor sejumlah komoditas utama. Ketika kondisi rupiah melemah, biaya impor bahan pangan dan bahan baku industri ikut meningkat karena pembayaran menggunakan dolar AS.

Kedelai menjadi salah satu contoh paling nyata. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Perdagangan, sekitar 85% kebutuhan kedelai nasional masih dipenuhi melalui impor, terutama dari Amerika Serikat dan Brasil. Kedelai impor tersebut digunakan sebagai bahan baku tahu dan tempe yang dikonsumsi hampir seluruh lapisan masyarakat, termasuk warga desa.

Indonesia juga masih mengimpor 100% kebutuhan gandum karena komoditas tersebut tidak diproduksi secara massal di dalam negeri. Gandum menjadi bahan utama tepung terigu, roti, dan mie instan yang kini semakin banyak dikonsumsi masyarakat pedesaan.

Selain itu, impor gula mentah untuk industri makanan dan minuman juga masih tinggi. Ketika kurs dolar menguat, biaya impor naik dan harga produk pangan domestik ikut terdorong. Karena itu, para ekonom menilai kenaikan kurs dolar tetap akan dirasakan orang desa melalui harga kebutuhan sehari-hari yang meningkat secara bertahap.

Inflasi Impor Bisa Menekan Rumah Tangga Pedesaan

Direktur Ekonomi CELIOS Nailul Huda mengatakan pelemahan rupiah dapat memicu imported inflation atau inflasi impor. Kondisi ini terjadi ketika kenaikan harga barang impor memicu inflasi di dalam negeri.

Menurut Huda, dampak inflasi impor biasanya mulai terasa dalam dua hingga tiga bulan setelah pelemahan kurs terjadi. Saat rupiah melemah, biaya impor bahan baku, energi, dan distribusi meningkat sehingga produsen dan pedagang akan menaikkan harga jual barang.

Ekonom Core Yusuf Rendy Manilet memperkirakan depresiasi rupiah sebesar 10% dapat meningkatkan inflasi sekitar 1,5 hingga 2,5 poin persentase dalam beberapa kuartal berikutnya.

Tekanan inflasi tersebut dinilai lebih berat dirasakan rumah tangga miskin di desa. Yusuf mengaitkan kondisi tersebut dengan teori Engel’s Law, yakni semakin rendah pendapatan rumah tangga maka semakin besar proporsi pengeluaran untuk pangan dan energi.

Hal ini membuat kelompok masyarakat berpenghasilan rendah lebih rentan ketika harga bahan makanan, transportasi, dan energi mengalami kenaikan akibat pelemahan rupiah.

Harga Pupuk dan Biaya Produksi Pertanian Bisa Meningkat

Sektor pertanian menjadi salah satu bidang yang paling sensitif terhadap pelemahan rupiah. Sebab, sebagian bahan baku pupuk dan kebutuhan produksi pertanian masih bergantung pada impor.

Pupuk urea dan NPK, misalnya, masih dipengaruhi harga gas alam dunia yang menggunakan acuan dolar AS. Ketika rupiah melemah, biaya produksi pupuk meningkat dan harga pupuk nonsubsidi berpotensi ikut naik.

Selain pupuk, pestisida, alat pertanian, hingga suku cadang mesin produksi juga masih memiliki ketergantungan impor.

Kondisi tersebut menjadi persoalan serius bagi orang desa karena sebagian besar masyarakat pedesaan bekerja di sektor pertanian. Kenaikan biaya tanam akan mengurangi margin keuntungan petani, terutama jika harga hasil panen tidak ikut naik secara signifikan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menurunkan kesejahteraan petani kecil dan memperlambat perputaran ekonomi desa.

Harga BBM dan Ongkos Distribusi Berpotensi Bertambah

rupiah melemah, apa dampak bagi orang desa? (unsplash.com)

 

Pelemahan rupiah juga berdampak pada sektor energi nasional. Indonesia masih mengimpor minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM) untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Ketika rupiah melemah, biaya impor energi meningkat karena transaksi dilakukan menggunakan dolar AS. Akibatnya, beban subsidi dan kompensasi energi pemerintah ikut membengkak.

Walaupun harga BBM bersubsidi tidak langsung naik, pelemahan rupiah tetap dapat meningkatkan biaya transportasi dan distribusi barang. Ongkos pengiriman hasil panen, distribusi sembako, hingga biaya logistik menuju desa berpotensi mengalami kenaikan.

Wilayah pedesaan biasanya lebih rentan karena biaya distribusi barang memang lebih mahal dibanding kawasan perkotaan. Akibatnya, kenaikan harga barang di desa bisa terasa lebih cepat.

Barang Elektronik dan Kendaraan Ikut Terdampak

Pengamat Ekonomi Universitas Airlangga Gigih Prihantono mengatakan masyarakat desa tetap akan terdampak pelemahan rupiah karena banyak barang yang digunakan sehari-hari masih bergantung pada impor.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, lebih dari 60% bahan baku dan komponen industri elektronik nasional masih berasal dari impor, terutama chip, semikonduktor, panel layar, dan komponen pendukung lainnya dari China, Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan. Sementara itu, industri otomotif Indonesia juga masih mengimpor sejumlah komponen penting seperti electronic control unit (ECU), sensor, hingga chip kendaraan.

Ketika kondisi rupiah melemah, biaya impor komponen tersebut ikut meningkat karena transaksi menggunakan dolar AS. Dampaknya kemudian diteruskan ke harga jual barang elektronik dan kendaraan di pasar domestik.

Hal tersebut terlihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan kelompok transportasi dan perlengkapan rumah tangga menjadi salah satu penyumbang inflasi saat nilai tukar rupiah mengalami tekanan dalam beberapa periode sebelumnya.

Akibatnya, harga televisi, telepon genggam, kulkas, mesin cuci, hingga sepeda motor berpotensi mengalami kenaikan. Kondisi ini pada akhirnya memberikan tekanan ekonomi tambahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah, termasuk orang desa, yang kini semakin bergantung pada perangkat elektronik dan kendaraan untuk bekerja, berdagang, mengakses pendidikan, hingga menjalankan usaha kecil.

Pakan Ternak dan Harga Protein Hewani Bisa Naik

Pelemahan rupiah juga mempengaruhi sektor peternakan. Indonesia masih mengimpor sejumlah bahan baku pakan ternak seperti bungkil kedelai dan sebagian jagung industri.

Berdasarkan data Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), sekitar 35% hingga 40% bahan baku industri pakan ternak nasional masih berasal dari impor, terutama bungkil kedelai (soybean meal) yang banyak didatangkan dari Argentina, Brasil, dan Amerika Serikat. Selain itu, Indonesia juga masih mengimpor jagung untuk kebutuhan industri tertentu ketika pasokan domestik tidak mencukupi.

Saat kurs dolar menguat dan kondisi rupiah melemah, harga bahan baku pakan otomatis meningkat karena transaksi impor menggunakan dolar AS. Padahal, biaya pakan menyumbang sekitar 70% dari total biaya produksi peternakan ayam.

Kenaikan biaya tersebut kemudian berdampak pada harga produk peternakan seperti telur dan daging ayam. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi telur ayam ras masyarakat Indonesia mencapai sekitar 7 kilogram per kapita per tahun, sedangkan konsumsi daging ayam ras berada di kisaran 12 hingga 13 kilogram per kapita per tahun. Artinya, kenaikan harga produk peternakan akan langsung mempengaruhi pengeluaran rumah tangga, termasuk di wilayah pedesaan.

Bagi peternak kecil, kenaikan harga pakan juga dapat menekan margin keuntungan karena biaya produksi meningkat lebih cepat dibanding kemampuan pasar menyerap kenaikan harga jual. Kondisi tersebut membuat orang desa yang bekerja di sektor peternakan menjadi salah satu kelompok yang rentan terdampak pelemahan rupiah.

Daya Beli Orang Desa Terancam Menurun

Yusuf Rendy memperkirakan rumah tangga desa dengan pengeluaran Rp2 juta hingga Rp3 juta per bulan dapat mengalami penurunan daya beli riil sekitar 3% hingga 5% apabila rupiah terdepresiasi 10%. Artinya, terdapat potensi penurunan kemampuan belanja sekitar Rp 60 ribu hingga Rp150 ribu per bulan.

Nilai tersebut mungkin tidak terlalu besar bagi kelompok menengah perkotaan. Namun, bagi keluarga rentan miskin di pedesaan, penurunan daya beli tersebut dapat mempengaruhi kemampuan membeli bahan makanan, membiayai pendidikan, hingga memenuhi kebutuhan kesehatan.

Ketika daya beli menurun, konsumsi rumah tangga akan melemah dan aktivitas ekonomi desa ikut melambat.

Pelemahan Rupiah Berisiko Menekan Ekonomi Nasional

Selain berdampak pada rumah tangga, pelemahan rupiah juga dapat mempengaruhi kondisi ekonomi nasional secara keseluruhan.

Nailul Huda menilai perusahaan kemungkinan akan menahan kenaikan harga dan memilih menekan margin keuntungan. Namun, langkah tersebut berpotensi memicu efisiensi usaha hingga pemutusan hubungan kerja (PHK).

Sementara itu, Yusuf mengingatkan pelemahan rupiah dapat mempersempit ruang fiskal pemerintah karena beban utang luar negeri dan subsidi energi meningkat.

Gigih Prihantono menilai pemerintah perlu memperbaiki tata kelola fiskal dan melakukan deregulasi agar dunia usaha lebih leluasa bergerak di tengah tekanan ekonomi global.

Karena itu, para ekonom menilai stabilitas nilai tukar rupiah penting dijaga agar tekanan ekonomi tidak semakin membebani masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah dan orang desa.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.