Pergerakan IHSG-Rupiah Mau kemana? 8 Agenda yang Pengaruhi Harga IHSG dan Rupiah
Pasar keuangan Indonesia memasuki pekan yang penuh tekanan pada Senin (18/5/2026). Setelah libur panjang akhir pekan, investor kembali dihadapkan pada berbagai sentimen global dan domestik yang diperkirakan mempengaruhi arah pasar saham maupun nilai tukar rupiah.
Pada perdagangan terakhir sebelum libur panjang, Rabu (13/5/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 1,98% ke level 6.723,32. Dalam sepekan, IHSG tercatat melemah sekitar 3,5%. Di saat yang sama, rupiah memang sempat menguat tipis 0,17% ke Rp17.460 per dolar Amerika Serikat (AS), tetapi secara mingguan mata uang Garuda masih melemah sekitar 0,58%.
Kondisi tersebut menunjukkan stabilitas pasar domestik belum sepenuhnya pulih. Investor masih mencermati tekanan dari efek review MSCI, konflik geopolitik Timur Tengah, arah suku bunga bank sentral AS, hingga keputusan Bank Indonesia.
Arah harga IHSG dan Rupiah dalam beberapa hari ke depan diperkirakan masih bergerak volatil. Sejumlah analis menilai pasar masih dibayangi berbagai risiko yang dapat memicu tekanan baru terhadap saham maupun rupiah.
8 Faktor yang Pengaruhi Harga IHSG dan Rupiah Pekan Ini
Pergerakan pasar keuangan Indonesia pada pekan ini diperkirakan masih sangat dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik. Investor tidak hanya mencermati kondisi internal seperti kebijakan Bank Indonesia dan data ekonomi nasional, tetapi juga perkembangan eksternal mulai dari arah suku bunga Amerika Serikat, perlambatan ekonomi China, hingga dampak konflik geopolitik Timur Tengah terhadap harga minyak dunia.
Di tengah kondisi tersebut, volatilitas pasar diperkirakan masih cukup tinggi karena pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati sebelum mengambil keputusan investasi. Berikut delapan agenda utama yang diperkirakan akan memengaruhi arah harga IHSG dan Rupiah sepanjang pekan ini.
1. Rapat Bank Indonesia dengan Komisi XI DPR
Agenda pertama yang menjadi perhatian pasar adalah rapat kerja antara Komisi XI DPR dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo pada Senin (18/5/2026).
Rapat tersebut dinilai penting karena berlangsung ketika rupiah masih berada dalam tekanan besar terhadap dolar AS. Investor akan mencermati pernyataan BI mengenai strategi stabilisasi nilai tukar dan langkah yang akan diambil untuk menjaga pasar keuangan domestik.
Jika Bank Indonesia memberi sinyal kebijakan yang lebih agresif, rupiah berpeluang memperoleh sentimen positif. Sebaliknya, jika respons BI dinilai kurang kuat, tekanan terhadap aset domestik dapat berlanjut.
2. Efek MSCI Masih Membebani Pasar Saham
Sentimen Morgan Stanley Capital International (MSCI) masih menjadi salah satu tekanan terbesar bagi pasar saham Indonesia. Dalam hasil review Mei 2026, MSCI mengeluarkan enam saham Indonesia dari MSCI Global Standard Index, yaitu PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).
Selain itu, 13 saham Indonesia juga dikeluarkan dari MSCI Global Small Cap Index. Kondisi tersebut membuat investor asing dan dana pasif global berpotensi melakukan penyesuaian portofolio hingga akhir Mei 2026. Karena itu, tekanan terhadap saham berkapitalisasi besar diperkirakan masih membayangi IHSG dalam jangka pendek.
3. Data Penjualan Ritel China
Pasar juga akan mencermati data penjualan ritel China periode April 2026 yang dirilis pada Senin (18/5/2026). China sendiri merupakan merupakan mitra dagang utama Indonesia sehingga perlambatan konsumsi domestik di negara tersebut dapat berdampak langsung terhadap permintaan komoditas Indonesia.
Pada Maret 2026, penjualan ritel China hanya tumbuh 1,7% secara tahunan, lebih rendah dibanding periode Januari-Februari yang mencapai 2,8%. Jika konsumsi China kembali melemah, saham-saham sektor komoditas dan energi di Bursa Efek Indonesia berpotensi ikut tertekan karena pasar khawatir permintaan global akan melambat.
4. Tingkat Pengangguran China
Selain data konsumsi, investor juga menunggu data tingkat pengangguran perkotaan China. Pada Maret 2026, tingkat pengangguran perkotaan China naik menjadi 5,4% dan menjadi level tertinggi dalam 13 bulan terakhir.
Kenaikan pengangguran menunjukkan pemulihan ekonomi China belum sepenuhnya stabil. Jika pasar tenaga kerja China kembali melemah, kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global dapat meningkat.
Kondisi tersebut berpotensi mempengaruhi sentimen investor terhadap pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
5. Keputusan Suku Bunga Bank Indonesia
Bank Indonesia dijadwalkan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 19-20 Mei 2026. Pada pertemuan sebelumnya, BI mempertahankan BI Rate di level 4,75%. Namun, kondisi saat ini dinilai lebih berat karena rupiah masih berada di level lemah, dolar AS menguat, dan harga minyak dunia terus naik akibat konflik Timur Tengah.
Pasar mulai memperkirakan BI berpotensi menaikkan suku bunga untuk menjaga stabilitas rupiah dan meredam arus modal keluar. Keputusan BI tersebut akan sangat menentukan arah harga IHSG dan Rupiah, terutama karena kebijakan suku bunga memengaruhi pasar saham, obligasi, dan nilai tukar secara langsung.
6. Risalah Rapat The Fed
Sentimen global lain yang menjadi perhatian investor adalah risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC Minutes) dari bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).
Dokumen tersebut dijadwalkan rilis pada Rabu (21/5/2026) dan akan memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga AS ke depan. Jika The Fed masih menunjukkan kekhawatiran terhadap inflasi, dolar AS berpotensi tetap kuat dan menekan mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
Kondisi tersebut juga dapat memicu arus modal keluar dari pasar saham Indonesia sehingga memberi tekanan tambahan terhadap IHSG.
7. Neraca Pembayaran Indonesia Kuartal I-2026
Bank Indonesia juga dijadwalkan merilis data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal I-2026 pada Jumat (22/5/2026). Data ini penting karena menunjukkan kondisi transaksi berjalan dan aliran modal asing Indonesia.
Pada kuartal IV-2025, NPI mencatat surplus US$6,1 miliar. Namun, transaksi berjalan masih mengalami defisit sekitar US$2,5 miliar atau 0,7% terhadap produk domestik bruto (PDB). Jika NPI kuartal I-2026 menunjukkan pelemahan, investor dapat menilai tekanan eksternal terhadap ekonomi Indonesia masih cukup besar.
8. Posisi Utang Luar Negeri Indonesia
Agenda terakhir yang menjadi perhatian pasar adalah rilis Statistik Utang Luar Negeri Indonesia periode Maret 2026. Pada Februari 2026, utang luar negeri Indonesia tercatat mencapai US$437,9 miliar atau tumbuh 2,5% secara tahunan.
Kenaikan utang luar negeri di tengah pelemahan rupiah dapat meningkatkan kekhawatiran investor terhadap beban pembayaran valas Indonesia. Selain itu, investor juga akan mencermati apakah aliran modal asing masih cukup kuat menopang pasar obligasi dan menjaga stabilitas nilai tukar.
Pasar Diperkirakan Masih Volatil
Selain delapan agenda tersebut, pasar juga masih dibayangi ketidakpastian global seperti konflik AS-Iran, kenaikan harga minyak dunia, pelemahan Wall Street, dan tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Harga minyak Brent bahkan sempat bergerak di atas US$109 per barel akibat kekhawatiran gangguan distribusi energi global. Kondisi tersebut membuat investor global cenderung lebih berhati-hati terhadap aset berisiko.
Karena itu, arah harga IHSG dan Rupiah dalam beberapa hari kedepan diperkirakan masih sangat dipengaruhi perkembangan global dan kebijakan ekonomi domestik.