Pemerintah Tolak Bantuan Negara Lain untuk Korban Gempa NTT, Apa Alasannya?

ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/nym.
Bangunan Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Manggarai mengalami kerusakan akibat gempa bumi di kawasan Reo, Kabupaten Manggarai, NTT, Kamis (20/8/2026). Hingga Kamis (20/8) pagi, BNPB mencatat sebanyak 804 fasilitas pendidikan terdampak bencana gempa bumi NTT.
Penulis: Tifani
Editor: Safrezi
23/8/2026, 10.08 WIB

Pemerintah belum membuka opsi bantuan dari negara asing untuk menangani dampak gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT). Pemerintah menilai penanganan gempa NTT masih dapat dilakukan dengan mengandalkan kapasitas dan sumber daya nasional.

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan pemerintah optimistis mampu menangani dampak dan korban gempa NTT berdasarkan laporan berkala dari lapangan. Berbagai kebutuhan masyarakat terdampak, mulai dari logistik, pengungsian, hingga hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap), juga telah masuk dalam proses penanganan.

Mengutip Antara, Prasetyo mengatakan kondisi di lapangan hingga kini masih dapat ditangani dengan baik oleh pemerintah.

"Nanti kita lihat, karena berdasarkan laporan harian yang kami terima dari teman-teman yang memonitor di lapangan, semua masih bisa kita tangani dengan baik," ujar Prasetyo.

Ia menambahkan, kebutuhan logistik dan pengungsian hingga rencana perbaikan huntara dan huntap telah melalui proses identifikasi.

"Baik kebutuhan logistik, pengungsian, bahkan rencana perbaikan huntara maupun huntap sudah dalam proses identifikasi," ujarnya.

Alasan Pemerintah Belum Menerima Bantuan Asing untuk Gempa NTT


RSUD Komodo rawat pasien di tenda pascagempa (ANTARA FOTO/Gecio Viana/app/nym.)

Juru bicara Kementerian Luar Negeri RI, Yvonne Mewengkang, juga menyampaikan bahwa pemerintah masih memaksimalkan kapasitas sumber daya nasional untuk menangani gempa M 7,7 di NTT.

Menurut Yvonne, bantuan asing belum diperlukan karena pemerintah masih mampu memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak melalui sumber daya dalam negeri.

“Saat ini fokus penanganan adalah untuk memastikan kebutuhan masyarakat yang terdampak dapat dipenuhi melalui kapasitas dan sumber daya nasional yang dimiliki,” kata Yvonne Mewengkang.

Meski belum membuka opsi bantuan asing, pemerintah tetap mengapresiasi solidaritas, perhatian, dan tawaran bantuan dari negara-negara sahabat.

Yvonne mengatakan Menteri Luar Negeri RI Sugiono telah menyampaikan terima kasih kepada para duta besar negara sahabat atas kepedulian dan perhatian mereka terhadap kondisi di NTT.

Sebelumnya, sejumlah negara diketahui telah menawarkan bantuan untuk korban gempa NTT. Tawaran bantuan tersebut di antaranya datang dari pemerintah China dan Iran.

Pemerintah Salurkan 398 Ton Bantuan untuk Korban Gempa NTT

Di tengah penanganan bencana, pemerintah juga telah menyalurkan bantuan dalam jumlah besar kepada masyarakat terdampak.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan pemerintah telah menyalurkan sebanyak 398 ton bantuan untuk korban gempa NTT selama periode 15-18 Agustus 2026.

Penyaluran bantuan tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang terdampak gempa, terutama di tengah meningkatnya jumlah korban dan pengungsi.

Berdasarkan data BNPB hingga Jumat (21/8/2026) pagi, sebanyak 78 orang dilaporkan meninggal dunia akibat gempa NTT.

Jumlah tersebut meningkat dibandingkan data BNPB hingga Kamis (20/8/2026) pukul 20.00 WIB atau 21.00 WITA. Saat itu, tercatat 75 orang meninggal dunia, 907 orang luka-luka, dan 92.735 warga mengungsi.

Jumlah korban luka kemudian bertambah menjadi 953 orang. Para korban mengalami luka ringan hingga berat, termasuk sejumlah warga yang mengalami patah tulang.

Sementara itu, jumlah warga yang mengungsi di berbagai titik mencapai 95.831 jiwa.

Gempa Susulan Masih Terjadi di NTT

Selain menangani korban dan pengungsi, pemerintah masih menghadapi aktivitas gempa susulan di wilayah NTT.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Jumat (21/8/2026) pukul 05.00 WIB, tercatat lebih dari 4.256 gempa susulan terjadi di wilayah NTT.

Gempa susulan tersebut berlangsung dengan durasi sekitar 1 hingga 1,5 jam. Kekuatan gempa susulan bervariasi, mulai dari magnitudo 1,1 hingga 6,2.

Menurut laporan BMKG melalui akun Instagram @infobmkg, aktivitas gempa masih terus terjadi di wilayah Flores dengan kekuatan yang bervariasi.

Aktivitas gempa diperkirakan akan terus menurun secara bertahap hingga kondisi batuan kembali stabil. Proses peluruhan gempa Flores berlangsung selama tiga hingga empat minggu atau sekitar 15 September 2026.

Aktivitas gempa paling banyak masih terkonsentrasi di Ruteng, Kabupaten Manggarai. Sementara itu, aktivitas kegempaan di wilayah utara Sikka dan Nagekeo disebut mulai mengalami penurunan.

Meski kekuatan gempa cenderung menurun, masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan. BMKG mengingatkan warga untuk tidak memasuki bangunan yang mengalami kerusakan serta mewaspadai potensi longsor bagi masyarakat yang berada di wilayah perbukitan.

BMKG juga menyebut potensi tsunami akibat gempa tersebut sangat kecil. Kendati demikian, BMKG tetap bersiaga untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan yang dapat terjadi.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.