Update Erupsi Krakatau Terkini 8 September 2026, Anak Krakatau Kembali Erupsi
Update erupsi Krakatau terkini pada Selasa, 8 September 2026 menunjukkan Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi setelah sebelumnya terjadi aktivitas vulkanik intensif sejak akhir pekan.
Berdasarkan laporan PVMBG, erupsi kembali terjadi pada pagi hari dengan dua kejadian yang tercatat pada pukul 05.08 WIB dan 05.34 WIB. Aktivitas tersebut terekam seismograf dengan amplitudo maksimum masing-masing 47 mm dan 44 mm.
Aktivitas terbaru ini terjadi setelah Anak Krakatau mengalami erupsi menerus selama sekitar 25 jam, yang berlangsung mulai 4 September pukul 23.07 WIB hingga 6 September 2026 pukul 00.04 WIB. Setelah berakhir, gunung api masih menunjukkan aktivitas erupsi secara berkala sehingga pemantauan oleh Badan Geologi dan PVMBG terus dilakukan.
Update Erupsi Krakatau Terkini 8 September 2026
Berdasarkan laporan PVMBG, erupsi pertama pada Selasa, 8 September 2026 terjadi pukul 05.08 WIB. Erupsi tersebut berlangsung selama sekitar 15 detik dan tercatat dengan amplitudo maksimum 47 mm. Secara visual, letusan tidak teramati.
Sekitar 26 menit kemudian, erupsi kembali terjadi pada pukul 05.34 WIB. Peristiwa tersebut berlangsung selama 10 detik dengan amplitudo maksimum 44 mm. Tinggi kolom erupsi juga tidak teramati.
Gunung Anak Krakatau juga kembali mengalami erupsi pada Selasa (8/9/2026) siang. Berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), aktivitas erupsi tersebut terjadi pada pukul 11.34 WIB dan berlangsung selama 17 detik.
Erupsi yang terjadi pada siang hari ini terekam oleh alat seismograf dengan amplitudo maksimum mencapai 55 mm. Peristiwa tersebut menambah catatan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang masih terus dipantau oleh PVMBG.
"Terjadi erupsi G. Anak Krakatau pada hari Selasa, 08 September 2026, pukul 11:34 WIB," tulis PVMBG.
Masyarakat, wisatawan, maupun pengunjung di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau diimbau tetap waspada serta mematuhi rekomendasi keselamatan dari pihak berwenang. Aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif masih perlu dihindari.
Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan dampak erupsi terbaru sejauh ini lebih kecil dibandingkan erupsi sebelumnya, tetapi aktivitas tetap dipantau karena kondisi abu dan arah angin dapat mempengaruhi penerbangan.
Status Gunung Anak Krakatau Masih Level III
Meski aktivitas erupsi kembali terjadi, status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Status tersebut tetap berlaku berdasarkan evaluasi Badan Geologi dan belum ada laporan penurunan tingkat aktivitas.
Masyarakat, wisatawan, maupun pengunjung dilarang mendekati kawasan kawah aktif dalam radius 3 kilometer. Larangan tersebut diberlakukan untuk mengurangi risiko terkena lontaran material vulkanik maupun dampak erupsi lainnya.
Badan Geologi juga menyebut potensi letusan dalam beberapa periode berikutnya masih tinggi. Ancaman utama yang perlu diwaspadai berupa lontaran batu pijar dan hujan abu lebat. Apabila erupsi menerus kembali terjadi, terdapat kemungkinan munculnya aliran lava.
Sebaran Abu Vulkanik Anak Krakatau 8 September
Selain memantau aktivitas erupsi, kondisi sebaran abu vulkanik juga menjadi perhatian karena dapat berdampak terhadap penerbangan. Berdasarkan analisis BMKG menggunakan data PVMBG, VAAC Darwin, dan citra satelit Himawari-9 pada 8 September pukul 04.00 WIB, sebaran debu vulkanik dari permukaan hingga ketinggian sekitar 6.000 kaki atau 1,8 kilometer bergerak ke arah selatan-barat daya. Sebaran tersebut teridentifikasi menuju wilayah Samudra Hindia di barat laut Banten.
BMKG menyebut abu vulkanik pada kondisi tersebut bergerak menjauhi puncak Gunung Anak Krakatau. Arah pergerakan abu dapat berubah mengikuti kondisi angin sehingga pemantauan tetap diperlukan.
Sebelumnya, sebaran abu dari erupsi Anak Krakatau telah berdampak pada sejumlah bandara. BMKG mencatat abu vulkanik pada 7 September tersebar pada beberapa lapisan atmosfer, bahkan hingga ketinggian 50.000 kaki di wilayah tertentu. Kondisi tersebut menyebabkan sejumlah bandara ditutup sementara sebagai langkah keselamatan penerbangan.
Dampak Erupsi terhadap Penerbangan
Aktivitas Gunung Anak Krakatau sebelumnya memberikan dampak signifikan terhadap perjalanan udara. Reuters melaporkan delapan bandara sempat ditutup akibat sebaran abu vulkanik, dengan lebih dari 340.000 penumpang terdampak dan hampir 3.000 penerbangan mengalami pembatalan atau penundaan.
Pada Selasa, sejumlah bandara mulai kembali beroperasi setelah kondisi abu membaik. Bandara Soekarno-Hatta termasuk yang kembali dibuka setelah angin membawa abu menjauh. Namun, pemeriksaan terhadap pesawat yang sebelumnya tertahan tetap dilakukan untuk memastikan keselamatan penerbangan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas Gunung Anak Krakatau tidak hanya berdampak terhadap wilayah di sekitar Selat Sunda, tetapi juga dapat mempengaruhi transportasi udara apabila abu vulkanik mencapai jalur penerbangan.
Update erupsi Krakatau terkini pada 8 September 2026 menunjukkan Gunung Anak Krakatau masih aktif dan kembali mengalami beberapa erupsi pada Selasa pagi. Status gunung api tetap berada pada Level III atau Siaga, sementara potensi erupsi berikutnya masih perlu diwaspadai. Masyarakat diminta mematuhi radius aman 3 kilometer dan mengikuti informasi resmi.