ZIGI – Ekonomi dunia tengah menuju masa-masa yang berat. Pertumbuhan yang lemah dan harga yang terus naik adalah salah dua masalah yang menjadi semacam ujian bagi ketahanan ekonomi banyak negara di dunia. Kondisi ini kerap disebut sebagai kondisi stagflasi.
Dalam laporan yang diterbitkan pada Selasa, 7 Juni 2022, Bank Dunia memprediksi bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi global akan melambat dari 5,7 persen di 2021 menjadi 2,9 persen di tahun ini. Angka ini lebih kecil daripada prediksi di awal Januari lalu yang menyebut pertumbuhan ekonomi dunia akan berada di angka 4,1 persen.
Lalu apa yang dimaksud Bank Dunia dengan stagflasi? Berikut penjelasan selengkapnya.
Pengertian Stagflasi
Secara sederhana, stagflasi adalah keadaan dimana pertumbuhan ekonomi terus mengalami perlambatan signifikan, namun tingkat inflasi dan harga-harga tetap tinggi. Keadaan stagflasi juga ditandai dengan tingginya jumlah pengangguran di suatu negara.
Istilah ini pertama kali digunakan oleh politisi Inggris, Iain Macleod saat memberikan pemaparan di House of Commons tahun 1960. Ia berbicara mengenai kenaikan harga akibat inflasi yang dibarengi dengan stagnasi pertumbuhan ekonomi. Ia pun menggabungkan kedua istilah inflasi dan stagnasi menjadi stagflasi.
Penyebab Stagflasi
Ada beberapa penyebab utama dari kondisi stagflasi. Pertama, stagflasi terjadi akibat adanya penurunan tingkat pasokan barang atau supply shock. Penurunan tingkat pasokan barang membuat harga barang melejit naik. Kenaikan harga barang tersebut membuat masyarakat tidak mampu membeli barang. Hal ini tentunya berdampak pada turunnya keuntungan perusahaan pemasok barang. Keuntungan perusahaan yang terus turun akan berdampak pada lambatnya pertumbuhan ekonomi.
Penyebabnya lainnya adalah kebijakan ekonomi yang buruk. Beberapa ekonom percaya bahwa stagflasi terjadi akibat pemberlakuan kebijakan ekonomi yang tidak tepat sasaran. Contohnya saja kebijakan Presiden Richard Nixon tahun 1970 yang memberlakukan tarif impor dan menetapkan standar gaji dan harga barang selama 90 hari. Hal ini dilakukan untuk menahan laju kenaikan harga barang pada saat itu. Namun ternyata kebijakan ini tidak berjalan efektif dan inflasi tetap terjadi.
Ancaman Stagflasi Tahun 2022
Dalam laporan Bank Dunia tersebut, Presiden Bank Dunia, David Malpass, menyebut bahwa salah satu ancaman nyata terhadap ekonomi global di tahun 2022 adalah ancaman stagflasi. Terakhir kali dunia mengalami periode stagflasi adalah tahun 1973-1975 saat kenaikan harga minyak memicu inflasi tinggi di seluruh dunia. Hal tersebut pun mengakibatkan resesi bagi negara yang mengimpor minyak dalam jumlah besar dari Timur Tengah. Dalam laporan tersebut, krisis seperti ini bisa saja kembali terjadi di tahun ini.
Berkaca pada periode tersebut, David menjelaskan, kebijakan kenaikan suku bunga yang dilakukan untuk mengendalikan stagflasi tahun 1970, begitu tajam dan akhirnya membawa banyak negara menuju jurang resesi. Ditambah lagi, saat itu negara-negara berkembang tengah dililit krisis utang. Pola-pola diatas lah yang dilihat oleh David di kondisi ekonomi tahun ini.
Masih dalam laporan yang sama, David menyebut ada beberapa strategi yang bisa ditempuh agar dapat terhindar dari stagflasi. Pertama, memperbaiki alur supply chain atau rantai pasok agar dapat berjalan kembali normal. Kedua, meningkatkan kapasitas produksi di seluruh dunia. Tentu ini bukan tanpa tantangan, mengingat dampak lockdown di Cina masih menghantui industri manufaktur dan krisis energi akibat perang Ukraina-Rusia yang masih belum menemukan titik terang.
Itu tadi alasan mengapa banyak negara diprediksi akan jatuh ke kondisi stagflasi.