Bank Dunia Sarankan Asia Tetap Fokus Reformasi Struktural

Pertumbuhan ekonomi Asia-Pasifik tumbuh 6,5 persen, melambat dibandingkan tahun lalu 6,8 persen. Ekonomi Cina yang menjadi penopang pertumbuhan kawasan diperkirakan mengalami perlambatan.
Aria W. Yudhistira
5 Oktober 2015, 11:59
Bank Dunia
Arief Kamaludin|KATADATA
Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi kawasan Asia timur sebesar 6,5 persen pada tahun ini, turun dibandingkan tahun lalu 6,8 persen.

KATADATA - Negara-negara di kawasan Asia timur diharapkan tetap fokus melakukan reformasi struktural guna mengantisipasi perlambatan pertumbuhan ekonomi global. Pada tahun ini, ekonomi di kawasan ini diperkirakan tumbuh sebesar 6,5 persen, sedikit melambat dibandingkan akhir tahun lalu sebesar 6,8 persen.

Axel van Trotsenburg, World Bank East Asia and Pacific Regional Vice President, mengatakan reformasi struktural akan menjadi dasar pertumbuhan yang bekelanjutan, jangka panjang, serta inklufsif. Reformasi ini meliputi perbaikan regulasi di sektor keuangan, tenaga kerja, dan pasar. Di samping pula meningkatkan transparansi dan akuntabilitas.

“Kebijakan-kebijakan ini akan meyakinkan investor dan pasar, serta mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang dapat mengangkat orang keluar dari kemiskinan,” kata Trotsenburg dalam keterangan pers yang diterima Katadata, Senin (5/10).

Ada sejumlah persoalan yang dihadapi negara-negara di kawasan Asia timur dan pasifik yang berasal dari perekonomian global. Terutama seiring perbaikan ekonomi negara-negara maju yang perlahan, sementara perdagangan global yang berada di titik terendah sejak 2009. Sementara perlambatan ekonomi di negara-negara berkembang semakin intensif, terimbas penurunan harga komoditas.

Cina masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi kawasan yang diperkirakan sebesar 7 persen pada tahun ini, dan secara perlahan mengalami perlambatan. Sementara ekonomi negara-negara ASEAN, diperkirakan tumbuh sebesar 4,6 persen sama seperti tahun lalu.

“Pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang diprediksi melambat seiring penyeimbangan kembali ekonomi Cina, serta normalisasi kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS),” kata Sudhir Shetty, Chief Economist of the World Bank’s East Asia and Pacific Region.

Faktor-faktor ini, kata dia, akan menyebabkan gejolak di pasar keuangan dalam jangka pendek. Namun, ini penyesuaian ini penting bagi pertumbuhan dalam jangka panjang.

Reporter: Redaksi
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait