BI Diprediksi Pertahankan Suku Bunga Acuan

Cina dan India menurunkan suku bunga karena memiliki cadangan devisa yang lebih besar
Aria W. Yudhistira
9 Februari 2015, 19:29
bank indonesia.jpg
KATADATA/ Donang Wahyu
Ekonom memprediksi BI akan mempertahankan suku bunga acuan di level 7,75 persen.

KATADATA ? Bank Indonesia (BI) diprediksi masih akan mempertahankan tingkat suku bunga acuan (BI Rate) di posisi 7,75 persen. Masih tingginya risiko di pasar keuangan menjadi alasan BI mempertahankan suku bunga.

Ekonom PT Bank Tabungan Negara Tbk A. Prasetyantoko mengatakan, nilai tukar rupiah pun masih berisiko untuk melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Selain dampak rencana kenaikan suku bunga bank sentral AS, the Fed, pelemahan juga dipengaruhi stimulus bank sentral Eropa yang hanya mengalir di kawasan itu.

Apalagi, BI juga masih memantau tingkat defisit neraca transaksi berjalan yang diperkirakan masih berada di kisaran 3 persen. Meski begitu, dia memperkirakan, BI Rate akan turun pada kuartal III atau kuartal IV tahun ini, terutama ketika perekonomian global sudah pulih.

Selain itu, investasi pemerintah di sektor infrastruktur diperkirakan juga sudah mulai berjalan. Prasetyantoko memprediksi ekonomi akan tumbuh di kisaran 5,3 persen-5,5 persen hingga akhir tahun, sedangkan rupiah pada level Rp 12.500 per dolar AS.

Advertisement

?Memang berat untuk (target penyaluran) kredit (perbankan) 15 persen-17 persen. Tapi, harapannya pada periode itu situasinya akan lebih baik. Dari fiskal, defisit neraca transaksi berjalan, dan pemulihan ekonomi global,? kata dia saat dihubungi Katadata, Senin (9/2).

Hal yang sama juga disampaikan ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Sumual. Menurutnya, BI masih akan mempertahankan suku bunga acuan karena ingin menjaga tingkat defisit neraca transaksi berjalan.

Apalagi pada semester II, ketika program infrastruktur pemerintah mulai berjalan, sehingga impor bahan baku akan meningkat. Dikhawatirkan, suku bunga yang turun bakal memperbesar defisit neraca transaksi berjalan.  

Menurutnya, struktur risiko ekonomi Indonesia berbeda dibandingkan dengan Australia, yang baru saja menurunkan suku bunganya. Sedangkan Cina dan India yang mengambil kebijakan sama, memiliki cadangan devisa yang lebih besar daripada Indonesia.

?Kalau BI Rate turun, dana asing masuk (capital inflow) ke portofolio sebesar US$ 15 milliar pada tahun lalu, juga berpotensi keluar. Ini karena Indonesia nggak menarik lagi,? ujarnya.

Dia juga memperkirakan, ekonomi hanya akan tumbuh 5,3 persen pada tahun ini. Sedangkan kurs rupiah diprediksi di kisaran Rp 12.400-Rp 12.500 per dolar AS.

Reporter: Desy Setyowati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait