Studi Terbaru Sebut Antibodi Covid-19 Bertahan di Tubuh Selama 4 Bulan

Temuan baru di Finlandia menyebut tubuh akan memproduksi antibodi selama 4 bulan setelah terinfeksi virus Covid-19.
Image title
Oleh Alfons Yoshio - Tim Riset dan Publikasi
18 Oktober 2020, 18:09
Sejumlah tenaga medis, relawan dan pasien COVID-19 mengikuti kegiatan senam pagi di Rumah Singgah Karantina COVID-19, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (27/5/2020). Kegiatan senam rutin yang dilakukan setiap hari pada pukul 08.00 WIB selama 25 menit terse
Adi Maulana Ibrahim|Katadata

Sebuah riset yang dilakukan peneliti Finlandia menemukan bahwa antibodi yang terbentuk akibat infeksi virus Covid-19 baru akan hilang dari tubuh setelah 4 bulan. Temuan dari Institut Kesehatan dan Kesejahteraan Finlandia (THL) ini menujukkan bahawa antibodi Covid-19 mampu bertahan lebih lama daripada yang dipekirakan sebelumnya.

Dalam laporan yang dipublikasikan Selasa (13/10), hasil kolaborasi THL dengan Kota Helsinki ini memaparkan, setelah terinfeksi virus Covid-19 tubuh akan membentuk antibodi kurang dari satu bulan kemudian. Keberadaan antibodi ini kemudian terus bertahan dan menjaga tubuh sampai setidaknya 4 bulan ke depan.

Para peneliti juga menemukan terdapat antibodi yang mampu menetralisir virus dalam kondisi laboratorium.

"Meski kami belum mengetahui secara pasti jenis kekebalan yang melindungi dari infeksi baru, ada kemungkinan antibodi penawar secara spesifik memliliki arti penting. Penelitian menunjukkan bahwa antibodi penetral dihasilkan di hampir semua subjek yang terinfeksi dan bertahan selama periode pemantauan," kata Direktur Penelitian THL Merit Melin mengutip Helsinki Times.

Penelitian berlangsung sejak Maret 2020, melibatkan 129 orang dari 39 keluaraga, yang setidaknya salah satu anggotanya mendapat diagnosa Covid-19. Sebanyak 64 orang di antaranya telah dikonfirmasi lewat tes polymerase chain reaction (PCR).

Ditemukan 63 dari 64 orang yang positif tersebut kemudian tubuhnya membentuk antibodi. Tidak hanya itu, 17 subjek lainnya yang tesnya negatif juga ditemukan antibodi yang sama. Ini berarti ada kemungkinan orang yang hidup di sekitar orang yang positif pun mungkin mengembangkan antibodinya sendiri tanpa perlu terjangkit virus.

Sebagai informasi tambahan, mayoritas subjek yang terinfeksi hanya bergejala ringan dan tidak memerlukan penangan dari rumah sakit.

Proses riset akan dilanjutkan untuk masuk tahap berikutnya, untuk memverifikasi daya tahan antibodi untuk periode yang lebih panjang, 6 - 7 bulan ke depan. Hasilnya diperkirakan akan keluar jelang akhir tahun 2020.

Kepala Dokter THL Hanna Nohynek menyoroti pentingnya hasil riset terhadap pengembangan vaksin. "Seperti halnya vaksin yang bertujuan untuk mencipatakan antibodi yang tahan lama, temuan ini menjanjikan karena menunjukkan kekebalan alami punya daya tahan yang lebih lama dibanding laporan sebelumnya," katanya dalam keterangan resmi.

Sampai sejauh ini banyak negara di dunia seperti Amerika Serikat, Tiongkok, juga Indonesia sedang berlomba-lomba untuk mengembangkan vaksin virus Corona dalam upaya menuntaskan pandemi ini.  Sambil menanti hadirnya vaksin tersebut, Pemerintah Indonesia tidak bosan-bosannya menekankan pentingnya penerapan protokol kesehatan untuk menekan angka penyebaran virus.

Adapun protokol kesehatan yang dimaksud dikampanyekan lewat pesan 'Ingat Pesan Ibu' alias gerakan 3M. 3M adalah imbauan untuk memakai masker, manjaga jarak dan menghindari kerumunan, serta mencuci tangan sesering mungkin dengan sabun dan air mengalir.

Video Pilihan

Artikel Terkait