Jonan Tetapkan Formula Baru Harga Minyak Indonesia

Perubahan ini harapannya bisa mendongkrak penerimaan negara.
Anggita Rezki Amelia
31 Juli 2018, 16:06
Migas
Dok. Chevron

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menetapkan formula baru harga minyak Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP). Formula ini tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 1907 K/12/MEM/2018. 

Formula harga tersebut mulai berlaku sejak 1 Juli 2018 hingga Juni 2019. Aturan tersebut diterbitkan dalam rangka kelancaran dan kesinambungan perhitungan ICP.

Dalam keputusan anyar itu, formula harga minyak mentah utama dihitung berdasarkan publikasi Dated Brent (±) alpha. Formula harga ICP ini berbeda dengan formula ICP periode Juli 2017- Juni 2018 lalu, yakni memakai formula Dated Brent + Alpha.

Adapun formula baru ini Dated Brent dihitung berdasarkan rata-rata publikasi selama bulan berjalan. Sementara Alpha dihitung berdasarkan rata-rata publikasi selama bulan berjalan dan bulan sebelumnya.

Advertisement

Perhitungan Alpha sendiri dengan mempertimbangkan tiga hal. Tiga hal itu yakni kesesuaian kualitas minyak mentah, perkembangan harga minyak global, dan ketahanan energi nasional.

Direktur Jenderal (Dirjen) Migas Kementerian ESDM Djoko Siswanto membenarkan adanya perubahan formula harga ICP tersebut dengan yang lama. Dengan adanya perubahan formula itu, harapannya harga ICP bisa mendekati harga minyak dunia. 

Dalam keputusan anyar itu, Dirjen Migas akan menetapkan Prosedur Operasi Standar (Standard Operating Procedure/SOP) perhitungan alpha sebagai acuan tim dalam mengusulkan harga minyak mentah Indonesia. Pertimbangan menghitung alpha adalahh nilai produk bruto (Gross Product Worth/ GPW) tiap-tiap jenis minyak yang diproduksi di Indonesia.

Kewenangan ini merupakan hal baru yang menjadi bagian dari keputusan menteri tersebut. Sementara di aturan lama hal ini tidak diatur.

(Baca: Sempat Sentuh Level Tertinggi, ICP Juni 2018 Turun Jadi US$ 70,36)

Djoko berharap perubahan formula harga ICP itu dapat berdampak positif terhadap penerimaan negara. "Lagi dievaluasi setiap kenaikan US$ 1 ICP berapa besar penerimaan negara dan berapa besar tambahan subsidi. Semoga ada windfall profit-nya," ujar dia kepada Katadata.co.id, Selasa (31/7).

Reporter: Anggita Rezki Amelia
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait