Pemerintah Minta Tambahan Subsidi BBM Rp 75 T

Pemerintah mengajukan tambahan subsidi bahan bakar minyak BBM sebesar Rp 75 triliun dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan APBNP 2014 Subsidi yang semula dipatok sebesar Rp 2107 triliun akan direvisi dalam APBNP men
Image title
Oleh
20 Mei 2014, 18:23
bbm-spbu-pertamina.jpg
Arief Kamaludin|KATADATA
KATADATA | Arief Kamaludin

KATADATA ? Pemerintah mengajukan tambahan subsidi bahan bakar minyak (BBM) sebesar Rp 75 triliun dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2014. Subsidi yang semula dipatok sebesar Rp 210,7 triliun akan direvisi dalam APBN-P menjadi Rp 285 triliun.  

Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan pembengkakan subsidi BBM dipicu depresiasi rupiah yang mencapai Rp 12.000 per dolar AS. Sedangkan asumsi rupiah dalam APBN 2014 dipatok Rp 10.500 per dolar AS.  

Pemerintah, kata dia, akan mengubah asumsi kurs menjadi Rp 11.700 per dolar AS. "Rupiah melemah Rp 100, maka tambahan (subsidi) sekitar Rp 3 triliun," ujar Chatib usai rapat paripurna di DPR, Jakarta, Selasa 20 Mei 2014.  

Pembengkakan subsidi BBM juga dipicu gagalnya target lifting minyak yang semula ditargetkan mencapai 870 barel per hari. Dalam APBN-P target lifting minyak diturunkan menjadi 818 ribu barel per hari. "Lifting mengurangi produksi. Rupiah membuat beban subsidi menjadi lebih tinggi karena melemahnya nilai tukar. Jadi kombinasi dari itu," kata Chatib.  

Advertisement

Selain perubahan asumsi nilai tukar dan target lifting, pemerintah juga mengubah sejumlah asumsi makro lainnya. Melambatnya pertumbuhan ekonomi membuat pemerintah mengoreksi target pertumbuhan ekonomi 2014 dari 6 persen menjadi 5,5 persen. Target inflasi diturunkan dari 5,5 persen menjadi 5,3 perse. Sedangkan tingkat suku bunga SPN tiga bulan rata-rata direvisi dari 5,5 persen menjadi 6 persen.  

Asumsi APBN yang masih tetap yaitu harga minyak mentah Indonesia tetap dipatok US$ 105 per barel dan lifting gas bumi 1.240 ribu barel setara minyak per hari.

Pemerintah juga mengajukan perubahan pendapatan negara dalam APBN-P yang semula Rp 1.667,1 triliun menjadi Rp 1.597,7 triliun. Penurunan ini disebabkan penerimaan sektor pajak diperkirakan turun signifikan karena pertumbuhan ekonomi yang ikut menurun. Selain itu rendahnya lifting minyak tahun ini juga ikut mempengaruhi penurunan ini.

 

Reporter: Rikawati
Editor: Arsip
    News Alert

    Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

    Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
    Video Pilihan

    Artikel Terkait