Kemenperin Minta Tarif Listrik Dihitung Ulang

Kementerian Perindustrian Kemenperin meminta agar tarif dasar listrik TDL untuk industri dihitung ulang Persoalannya kenaikan TDL dapat menganggu pertumbuhan industri nonmigas yang tahun ini ditargetkan sebesar 6468 persen
Image title
Oleh
21 April 2014, 13:03
penggunaan-energi-listrik-industri.jpg
KATADATA | Donang Wahyu

KATADATA ? Kementerian Perindustrian (Kemenperin) meminta agar tarif dasar listrik (TDL) untuk industri dihitung ulang. Persoalannya kenaikan TDL dapat menganggu pertumbuhan industri nonmigas yang tahun ini ditargetkan sebesar 6,4-6,8 persen.  

"Kami akan mengajukan peninjauan kembali atas keputusan Kementerian ESDM. Usulannya akan diajukan sebelum 1 Mei," kata Kepala Pusat Pengkajian dan Iklim Usaha Industri Kemenperin Haris Munandar kepada Katadata, Senin (21/4).  

Sebagaimana diketahui, Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 9 Tahun 2014 tentang Tarif Listrik yang Disediakan PT PLN, yang baru saja diterbitkan mengatur tentang kenaikan tarif listrik industri yang berlaku mulai 1 Mei 2014.  

Tarif listrik perusahaan terbuka pelanggan I-3 (200-30.000 kilovolt amphere/kVA) akan naik sebesar 38,9 persen. Sementara industri besar pelanggan I-4 (di atas 30.000 kVA) kenaikannya mencapai 64,7 persen.  

Advertisement

Dampak dari kenaikan tarif listrik tersebut membuat pertumbuhan industri bisa terganggu. ?Sehingga perlu dihitung lagi,? ujar Haris.  

Menurut Haris, kenaikan tarif listrik ini bisa berdampak langsung dan tidak langsung terhadap pertumbuhan industri. Dampak langsungnya adalah kenaikan biaya produksi, karena listrik dan energi merupakan salah satu komponen biaya dalam produksi.  

Industri hulu akan menaikan harga jual produknya yang merupakan bahan baku pada industri hilir. Akhirnya kenaikan biaya produksi pada industri hilir akan lebih besar, yaitu kenaikan harga bahan baku dan komponen listrik. Kenaikan biaya produksi dapat membuat industri menurunkan produksinya.  

Dampak tidak langsung bisa saja terjadi pada penurunan investasi. Kenaikan biaya produksi bisa membuat daya saing industri dalam negeri melemah. Hal ini akan membuat investor yang ingin menanamkan modalnya berpikir panjang untuk berinvestasi di Indonesia.  

Kementerian memang masih berupaya menjaga agar pertumbuhan tersebut sesuai target.  

Sebelumnya, Menteri Perindustrian MS Hidayat juga mengatakan bahwa pertumbuhan industri idealnya di atas 6 persen tahun ini. Dia khawatir jika pertumbuhan industri berada di bawah pertumbuhan ekonomi (6 persen), maka potensi terjadinya pengurangan tenaga kerja di industri akan besar.  

Makanya untuk mengantisipasi kekhawatiran tersebut, Kementerian Perindustrian akan tetap memperjuangkan untuk melobi kementerian terkait untuk memperpanjang waktu kenaikan tersebut hingga 2015. 

Artinya, jika kenaikan tarif listrik yang ditetapkan Kementerian ESDM bertahap empat kali sepanjang tahun ini, usulan Kementerian Perindustrian bisa delapan kali dalam dua tahun.

Reporter: Safrezi Fitra
Editor: Arsip
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait