Moody's: Utang Valas Korporasi Masih Terkendali

Utang valas korporasi Indonesia merupakan yang tertinggi kedua di kawasan Asia Selatan dan Asean setelah India
Image title
Oleh
3 Juli 2014, 10:39
Dollar KATADATA | Arief Kamaludin
Dollar KATADATA | Arief Kamaludin
KATADATA | Arief Kamaludin

KATADATA ?   Di tengah tren pelemahan rupiah dan suku bunga tinggi, sejumlah analis menilai utang korporasi berdenominasi valas Indonesia masih dapat dikelola dengan baik, mengingat terjaganya kinerja perusahaan walaupun perekonomian melambat.

Menurut data yang dirilis Moody's Investors Service kemarin, utang valas korporasi Indonesia merupakan yang tertinggi kedua di kawasan Asia Selatan dan Asean setelah India, yaitu masing-masing senilai US$ 18,2 miliar dan US$ 28,8 miliar.

Vice President Moody's Annalisa Di Chiara yang juga merupakan senior analis mengatakan dari 45 perusahaan nonfinansial yang memiliki imbal hasil utang tinggi, sekitar separuhnya memiliki 75 persen utang dalam mata uang asing.
"Namun sebagian besar dari perusahaan tersebut memiliki penghasilan dalam mata uang asing yang sama dengan utangnya sehingga terjadi natural hedging," tulis Moody's seperti yang dikutip dari Bisnis Indonesia (03/07).

Kondisi itu dapat menolong perusahaan tersebut untuk memitigasi risiko fluktuasi nilai tukar. Dengan demikian, sebagian besar pwrusahaan terebut tidak mengalami penurunan EBITDA signifikan ketika terjadi depresiasi mata uang lokal negara masing-masing sebesar 20 persen.

Advertisement
Reporter: Redaksi
Editor: Arsip
    News Alert

    Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

    Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
    Video Pilihan

    Artikel Terkait